Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Konser


__ADS_3

Selesai konser, Ezhar duduk di belakang panggung, napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran. Beberapa staf langsung menghampirinya, mengipasi dan menggantikan baju. Juga ada make up artist yang mengelap keringat serta memperbaiki make up Ezhar yang luntur.


"Minum," kata Ezhar dengan napas tak beraturan.


Setelah filmnya sukses di bioskop beberapa bulan lalu hingga masuk box office, Ezhar segera merilis lagu baru hingga jadwal konser.


Ia sedang dalam puncak kesuksesan, tidak mau menyia-nyiakan peluang sedikitpun.


"Cepat ambilkan minum!" Teriak salah satu staf.


Semua orang sibuk mengurus pekerjaan masing-masing, seorang staf berlari memberikan minum ke Ezhar. Pria itu menoleh ke samping, melihat staf yang lain mengganti background panggung untuk lagu selanjutnya.


Semua bergerak cepat, tinggal satu lagu lagi. Tapi Ezhar merasa sudah sangat lelah. Kemarin ia bertengkar dengan pacarnya, wanita itu ketahuan selingkuh oleh publik.


Ezhar marah karena ia dikerubungi wartawan untuk urusan Tania yang tidak penting, sangat mengganggu konser dan jadwalnya. Ezhar bilang hubungannya dengan Tania sudah berakhir, tapi Tania tidak terima dan terus berusaha menemuinya.


"Sekarang, ayo naik ke atas panggung!" Perintah salah satu staf.


Ezhar meletakkan botol minum ke samping, tinggal setengah. Tenaganya sudah kembali, ia melirik kostumnya yang kini berubah warna emas.


Lampu di panggung bersinar terang, penonton bersorak menunggu kemunculannya. Cahaya kembang api memeriahkan acara puncak, ia akan membawakan lagunya paling hits hingga masuk Billboard selama dua pekan lalu.


Ezhar mengembuskan napas, berusaha menenangkan diri sebelum menari sembil bernyanyi di atas panggung.


"Semangat!" Ia menyemangati diri sendiri, menggenggam erat mic.


Bersama para dancer ia berlari ke atas panggung lagi, wajahnya ditampilkan di layar besar stadion membuat penonton bersorak gembira.


Lagu terakhir dibawakan dengan penuh energik, Ezhar tidak peduli dengan keringat yang bercucuran. Tangannya ke atas meminta penonton ikut bernyanyi. Semua orang mengangkat lightstick.


Mereka meneriakkan nama Ezhar sang idola, membuat semangat pria itu semakin membara. Hidupnya sempurna, uang melimpah dan sangat populer. Album terjual laris dan filmnya sukses.


Kata orang, apapun yang Ezhar lakukan akan berhasil, ia memiliki aura bintang yang luar biasa. Hanya saja skandal dengan mantan pacar membuat namanya tercemar.


Fans Ezhar meminta supaya putus, bahkan membaikot pekerjaan mantan pacar dan selingkuhannya. Konflik berlanjut hingga menjadi besar. Namanya trending bukan karena prestasi konser melainkan skandal. Ia benci hal itu. Di tambah Tania yang tidak ingin putus.


"Terima kasih kalian semua telah mendukungku, aku cinta kalian!" Teriak Ezhar mengakhiri konsernya.


Semua orang berteriak dan bertepuk tangan, pria itu membungkuk beberapa kali sebelum kembali ke belakang panggung. Napasnya memburu. Ia melepas bajunya yang penuh keringat dan terasa panas.


Tanpa aba-aba Ezhar membaringkan tubuhnya di lantai, tak peduli kotor, ia sudah sangat lelah. Setelah ini ia ingin libur beberapa waktu sampai gosip pacarnya mereda.


"Kerja bagus!" Manager Ezhar berjongkok di samping kepala.

__ADS_1


Ia mengipasi Ezhar menggunakan jadwal acara, manager itu berusia 30 tahun dan sudah menjadi manager sejak Ezhar masuk ke dunia entertainment.


"Aku ingin libur," kata Ezhar. Napasnya masih naik turun. Tidak peduli staf berlalu lalang di samping kanan dan kirinya.


"Kamu memang harus libur, Tania membuat masalah. Kamu akan terkena imbas kalau tetap syuting."


Ezhar sudah menduga hal itu, walaupun tidak bersalah tapi ia akan terkena dampak dari perbuatan Tania. Cukup disayangkan karir Tania harus berakhir dengan cara seperti ini.


Namun, Ezhar bersyukur karena dengan ini ia bisa lepas dari Tania tanpa drama. Ia bisa berdalih sakit hati karena dikhianati. Itu hal yang sangat bagus dan citranya tetap bersih.


"Oh ya, temanmu bernama Yifei tanya. Apa kamu bisa datang ke acara ulang tahun keluarganya?" tanya Manager.


Ezhar menoleh, menatap mata managernya. "Siapa yang ulang tahun?"


"Adik suaminya, siapa namanya... lupa."


Oh, Ezhar ingat kalau Wikra punya adik perempuan yang masih kuliah. Kebetulan ia sudah lama tidak bertemu Yifei dan Ahin. Bisa dibilang ini kesempatan untuk menemui mereka. Pasalnya Wikra sangat overprotektif dan terlihat membencinya.


Tapi kalau Yifei sendiri yang mengundang, bukankah tidak sopan kalau dia tidak datang.


"Siapkan hadiah ulang tahun untuk perempuan berusia belasan."


Ezhar tidak ingat usia adiknya Wikra, tapi ia pernah bertemu ketika acara pernikahan Yifei. Kelihatannya masih usia 19 atau 20 tahun.


Mendengar itu Ezhar duduk, ia mengelap keringatnya sendiri dengan tangan. Juga menggaruk lehernya yang gatal.


"Aku akan datang, siapkan tiket malam ini juga."


Manager itu mengangguk lalu berdiri. "Baiklah, cepat kau mandi dan ganti baju. Aku akan mengurus hadiah dan juga penerbanganmu ke Indonesia."


Tanpa menjawab Ezhar berdiri, kakinya terasa ngilu dan pegal semua. Ia mandi dan bersiap keluar tempat konser dikawal bodyguard beserta staf.


Ia tidak melakukan jumpa fans karena takut terjadi sesuatu yang buruk, pasalnya ada beberapa fans fanatik yang katanya meneror Tania untuknya. Tidak terima idola mereka diselingkuhi.


Padahal, Ezhar sendiri tidak sakit sedikitpun Tania selingkuh. Baginya hubungan mereka hanya sebatas saling menguntungkan untuk meningkatkan popularitas. Suatu hari nanti tetap harus putus karena Ezhar tak ada rasa cinta sedikitpun.


"Keep fighting Ez!"


"Ez, I love you!"


Teriakan para fansnya mengiringi kepergiannya ke bandara, ia tidak mau ke hotel untuk istirahat. Besok adalah ulang tahun adiknya Wikra. Ia harus datang supaya bisa bertemu Yifei.


Sebenarnya tidak perlu hadiah, kedatangannya saja sudah pasti luar biasa untuk anak seusia adiknya Wikra.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan ke bandara ia tidur, badannya capek semua. Jalanan kota di Singapura terlihat lengang di malam hari. Mobil bisa melaju tanpa hambatan.


Setibanya di Bandara ia dikawal penuh para bodyguard dan petugas keamanan.


"Kenapa rame banget?" tanya Ezhar pada managernya.


"Kamu tranding satu di kolom pencarian, banyak yang mendukungmu setelah berita perselingkuhan Tania."


"Bukan itu, apa mereka tahu aku ke bandara bukannya ke hotel?"


"Mereka mengikutimu dari stadion, mengirim informasi ke fans club bahwa rute perjalananmu adalah bandara. Jadi banyak fans yang sudah menunggu di sini."


Sekarang sudah malam, apakah orang-orang ini tidak istirahat? Ia saja sangat lelah dan ingin cepat tidur di rumah. Bisa-bisanya membuntuti sampai bandara. Ezhar tak habis pikir pada penggemarnya.


Namun, ia tidak bisa menunjukkan itu semua. Ezhar melambaikan tangan supaya para fansnya senang dan merasa dihargai. Dorong-dorongan pun terjadi hingga ia susah jalan.


Petugas keamanan diperketat hingga Ezhar berhasil melewati imigrasi dan menuju gate, setelah dari sana ia bisa bernapas lega menunggu setengah jam di kursi.


"Aku bisa gila, mereka semakin liar."


"Jaga bicaramu, nanti ada yang dengar."


Ezhar tak peduli, ia memejamkan mata dan menyandarkan punggungnya. Berusaha mengurangi penat hingga penerbangan ke Indonesia.


Sepanjang penerbangan ia tidak sabar ingin buru-buru berjumpa Yifei dan Ahin. Dibanding Tania, dua orang itu lebih berharga. Ia berharap Wikra tidak menyakiti mereka selama ia pergi.


Selama beberapa jam Ezhar tidur di apartemennya, ia tidak pulang ke Rumah karena katanya Tania menunggu di sana, ponsel ia matikan membuat Tania tidak bisa menghubungi.


Malam harinya ia pergi ke acara ulang tahun adiknya Wikra, disambut senyum Yifei dan Ahin berlari memeluknya.


"Om Es!"


Ahin masih menggemaskan seperti biasanya, pipinya tambah gemuk. Sepertinya ia bahagia tinggal bersama ayahnya.


.


.


.


bersambung


jangan lupa share cerita ini ya

__ADS_1


__ADS_2