
Kami hanya tiga hari di Korea dan kembali karena kondisiku memburuk, aku langsung dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan setengah sadar. Anak-anak panik, mereka menangis melihatku yang tidak berdaya.
Kata Dokter, mulai sekarang aku harus dirawat di rumah sakit. Tidak boleh keluar masuk seperti dulu. Kondisiku tidak memungkinkan untuk bepergian lagi.
Aku harus merawat Kalea dan Ahin, hanya hatiku semakin rusak, masih belum menemukan pendonor yang tepat.
"Mama sakit, kapan pulang?" tanya Ahin. Dia selalu menemaniku.
Aku tidak bisa menjawabnya, bisa dibilang aku tinggal menunggu kematian.
"Ahin pulang sama Papa, ya? Mama lama di sini."
Bocah itu menggeleng, memegang tanganku erat. Menolak melepaskan hingga membuat Wikra menyerah.
"Biarin Ahin tidur sini, nggak papa. Mas pulang aja sama Ila."
"Aku akan mengantar Ila pulang lalu ke sini lagi."
Wikra mencium keningku dan pergi meninggalkan ruangan bersama Kalea yang mengantuk. Sementara Ahin masih menatapku penuh kasih.
Ranjang kamar VVIP cukup luas, aku bergeser dan minta Ahin berbaring di sampingku, susah payah dia naik.
Dibandingkan Kalea, putraku ini sangat peka dan penyayang. Ia mengelus pipiku, seperti takut kehilangan.
"Ma, ulang yuk."
"Nanti kalau Mama udah sembuh, kita pulang."
Ahin menggeleng. "Pulang sama bude, kaya dulu. Mama sehat."
Maksudnya dia ingin kami tinggal di rumah pinggir pantai seperti dulu. Saat aku masih sehat.
"Nanti Ahin nggak ketemu sama Papa dan Ila lagi gimana?"
"Gak papa. Ada Mama."
Ahin memilihku dibanding apapun, termasuk Kalea dan Wikra. Wajar saja, sejak kecil ia bersamaku. Bertemu Wikra baru setengah tahun.
Aku memeluknya erat, tidak mau membebani anak ini dengan pikiran yang tidak perlu. Aku mencium keningnya.
"Ahin tidur, udah malem."
Bocah itu membalas pelukanku, tidur dengan menenggelamkan wajah di dada Mamanya. Aku pikir dia tidur, tetapi ternyata dia menangis dalam diam hingga kurasakan air matanya membasahi baju.
Aku diam saja, hingga lama kelamaan tangis Ahin tidak terbendung dan sesenggukan. Ia sungguh takut kehilanganku.
"Ahin jangan nangis, nanti Mama sedih."
"Ain gak mau kaya Ila."
Ahin melihat ketika Yumna mencampakkan Kalea, itu menjadi trauma untuk mereka. Kalau mereka ditinggalkan olehku. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya.
"Ahin doa sama Allah, minta supaya Mama cepet sehat dan bisa bareng Ahin terus."
__ADS_1
"Allah bakal ngabulin?"
"Insyaallah," jawabku.
"Ain doa, Mama sehat."
Aku menghapus air matanya dan berharap doanya terkabul. Belum sanggup berpisah dengan Ahin. Perkiraan hanya bertahan hidup 8 bulan, tapi Wikra mendatangkan dokter dari Taiwan. Spesialis kanker. Sudah terbukti para pasien memiliki kemungkinan hidup lebih lama.
Itulah alasanku bisa keluar negeri kemarin, pengobatannya menekan kanker supaya tidak menyebar. Aku memotong rambut menjadi pendek sebulan lalu karena terus rontok.
Sebenarnya aku ingin botak sekalian dari pada melihat rambut yang terus berjatuhan, tapi Wikra tidak mengizinkan. Katanya kalau aku botak akan membuat anak-anak sedih.
"Tuhan... aku mohon, izinkan aku hidup lebih lama. Setidaknya sampai Ahin tumbuh menjadi remaja."
Apakah bisa? Sekarang saja usia Ahin baru 4 tahun. Aku memejamkan mata, hanya bisa memohon supaya doa yang hampir mustahil itu terwujud.
"Aamiin." Rupanya Ahin belum tidur. Dia mempererat pelukannya. Masih menenggelamkan wajah tanpa mau melihatku.
Aku mendekapnya erat, Ahin sangat sadar apa yang terjadi dengan Mamanya. Dia anak yang sangat cerdas dan peka. Terkadang aku berharap Ahin seperti Kalea saja yang polos. Belum mengerti keadaan orang dewasa yang rumit. Supaya ia tidak terluka.
Malam itu kami tidur berpelukan, Ahin tidak mau ke sekolah dan menemani di rumah sakit. Dia menyisir rambutku, memijatku dan terus melihatku ketika tidur.
Kami membujuknya supaya mau pulang, tapi tidak pernah berhasil. Jawaban Ahin terlampau cerdas untuk anak seusianya.
"Kalau Ahin nggak sekolah, nanti jadi anak bodoh gimana? Mama sama Papa nanti sedih." Wikra membujuk.
"Ain pintel, Mama gak sembuh."
"Kalau Ahin pinter dan jadi dokter, nanti Mama bisa sembuh." Kataku.
Ah, dia sadar. Dia tahu dan paham.
"Ain ngin ma Mama." Dia menangis. Tanpa isakan seperti anak kebanyakan. Itu melukaiku, sangat sangat terluka. Dia tahu waktu kami tidak banyak.
Aku merentangkan tangan, Ahin berlari ke kursi roda dan memelukku. Menenggelamkan wajah di bahuku. Lagi-lagi menangis dalam diam.
"Mama yuk pulang. Mama sembuh."
"Mama belum bisa pulang."
"Kita beldua, beltiga ma bude."
Dia tetap mengajakku pulang ke Lampung. Hal yang tidak bisa aku lakukan.
Wikra yang melihat itu berjalan keluar dengan mata berkaca-kaca. Ahin sampai menginginkan kami pergi menjauh dari Wikra. Berharap Mamanya sembuh seperti sebelumnya.
"Mau di sini atau di sana, sama aja. Mama memang sudah sakit."
"Dulu gak."
Aku menghapus air mata Ahin.
Sulit menjelaskan ke Ahin, dia sangat pintar dan kritis. Pada akhirnya aku mengalah membiarkan Ahin di sini asal tidak mengajak pulang ke tempat bude lagi.
__ADS_1
Hingga, aku merasa keajaiban datang padaku. Detektif yang aku sewa mencari ayah kandung Wikra ditemukan. Ayah Wikra adalah seorang penjual barang elektronik di kawasan tanah Abang.
Aku selalu berpikir dari mana Wikra punya kemampuan dalam mengembangkan barang elektronik, ternyata itu menurun dari ayah kandungnya.
Namun, bukan itu yang menjadi pusat perhatian. Tapi wajah ayah dan kakek Wikra membuatku terkejut. Aku langsung menyandingkan foto keluarga kakek dari ibu dengan mereka.
Benar, kakekku dan kakek Wikra adalah saudara. Ibuku anak tunggal begitu pula dengan ayahnya Wikra. Mereka sepupu.
Kata ibu, sepupunya itu diusir dari rumah kerena tidak direstui. Pernah datang ke rumah kami ketika aku lahir. Setelah itu tidak ada kabar lagi sampai sekarang.
Berarti aku dan Wikra masih bersaudara? Aku tidak menyangka sama sekali.
"Kamu lihat apa? Serius banget?" tanya Wikra.
Aku gelagapan dan mencoba menyembunyikan berkas-berkas itu di balik selimut. Ahin sedang makan di luar bersama Neli. Sementara Wikra baru pulang dari kantor dan langsung menuju rumah sakit.
"Jangan sembunyikan apapun dariku lagi." Wikra menegaskan.
"Aku takut kamu marah."
"Aku akan lebih marah kalau kamu berbohong."
Sejenak aku berpikir lalu mengeluarkan berkas-berkas yang dikirim detektif. Memperlihatkan pada Wikra yang kebingungan. Di sana ada foto keluarga masa kecil Wikra.
"Itu Ayah kandung kamu, namanya Pak Ilyas. Pemilik toko elektronik di Tanah Abang. Beliau... sepupunya ibuku yang sudah lama hilang."
Mendengar itu Wikra langsung menoleh. Menatapku lekat. "Berarti dia paman jauh kamu?"
Aku mengangguk. "Iya, kita juga saudara jauh."
"Berarti ada kemungkinan dia bisa menjadi pendonormu." Kesimpulan Wikra langsung mengarah ke sana.
Golongan darahku dengan Wikra berbeda, tapi ayah Wikra masih ada kemungkinan sama denganku. Hanya saja, kata Dokter meskipun aku bisa operasi. Penyakit ini tidak bisa hilang sepenuhnya. Serta kemungkinan operasi berhasil hanya 50 persen.
"Apa kamu mau menemuinya?"
"Sekarang juga aku akan menemuinya dan meminta dia untuk menjadi pendonormu."
Wikra tidak peduli sudah bertemu ayah kandungnya, ia tersenyum lebar dan senang mengetahui aku akan memiliki pendonor. Bahkan Wikra sampai memelukku.
.
.
.
.
bersambung
gaes. hari Rabu besok aku ziaroh wali songo ke jawa sekitar 8-10 harian. Jadi Minggu depan gk bisa up Wikra. Insyaallah setelah pulang bakal up tiap hari sampai tamat. Doain selamat sampai balik ke Lampung lagi ya.
aku bakal kabar-kabar lewat IG story. IG ku @ka_umay8
__ADS_1
oh ya kalau punya I N N O V E L bantu tap love ceritaku yg buat lomba. Judulnya sweet struggle. Mohon dukungannya. Makasih banyak ya.