Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Telur


__ADS_3

Hal ini begitu lucu bagi Wikra, setengah mati dia menutupi identitasnya sebagai anak angkat. Berpura-pura menjadi Wikra yang seorang anak konglomerat.


Ia takut orang-orang akan memandangnya rendah jika mengetahui asal usulnya. Juga saham NEXT Media pasti akan anjlok. Wikra akan kehilangan perusahaan yang dia bangun dengan susah payah.


Ada yang lebih penting dari itu, alasan kenapa orang tua angkatnya menjadikan dia Wikra, yakni demi warisan. Waktu itu nenek dan kakek tidak menyetujui pernikahan orang tua angkatnya.


Tapi, mereka menyayangi para cucunya, termasuklah Wikra. Kematian Wikra yang asli akan membuat Papa tidak memiliki modal mengembangkan produk parabola.


Mama dan Papa berpikir keras mencari pengganti Wikra demi warisan 1,5 milyar yang kala itu sangatlah besar. Setelah Papa membawa Alan-Wikra palsu, memperlihatkan kecerdasan dan potensi Alan.


Semua warisan yang sebenarnya untuk Papa diberikan kepada Wikra, membuat Papa memiliki modal usaha mengembangkan parabola hingga sebesar sekarang. Maka dari itu, jika identitas Wikra terbongkar, maka seluruh keluarga besar pasti akan marah dan mengutuk keluarganya.


Para sepupu pasti akan menghujatnya, orang-orang yang selama ini menghormatinya akan berbalik merendahkan. Seperti Yumna yang selingkuh setelah tahu dia hanya anak panti asuhan yang tidak tahu asal usulnya.


Namun, wanita di hadapannya tidak peduli siapa dia dan hanya memandangnya sebagai ayah Ahin. Wanita yang selalu dia sakiti itu menerima apa adanya.


"Tapi Tante Zara dan Om Yuda tahu kan namamu Alan?" tanya Yifei.


"Mereka yang menjadikanku Wikra."


"Oh gitu."


Yifei mengangguk, tidak bertanya lagi dan menganggap identitas asli Wikra tidak penting.


"Aku tadi mau ke yayasan, mau cari pelayan baru. Para pelayan lama nggak menghormati aku banget, mereka nggak mau bersihin kamar kita. Mereka juga lebih nurut ke Robi dari pada aku, padahal kan statusku nyonya rumah."


"Aku akan mengurus para pelayan termasuk Robi," kata Wikra.


"Yaudah kalau gitu, maaf karena udah nyuruh pulang cepet. Mas pasti sibuk."


Yifei berbalik, dia berjalan menjauh, Wikra hanya bisa memandang punggung wanita itu tanpa bisa menariknya. Apa saja kesalahpahaman yang selama ini terjadi sampai membuat mereka jauh?


Ia tidak bisa menahan perasaan yang berkecamuk, kebodohannya yang percaya pada Robi menghancurkan rumah tangganya.


Seberapa banyak dia menyakiti Yifei dan Ahin, terlalu sulit dihitung. Ia ingin minta maaf tapi tidak tahu caranya. Ia menyesal. Seharusnya lebih memerhatikan komunikasi. Bukan malah menganggap Yifei matre.


Sejak hari itu, Robi meninggalkan rumah. Beberapa pelayan diganti. Suasana tampak baru dan lebih bersahabat. Masa lalu yang tidak mengenakan seperti terkubur.

__ADS_1


"Ain mau tidul ma Bunda!" Ahin berteriak ke Wikra. Bocah itu menolak tidur sendiri sementara Mamanya tidur bersama Wikra.


"Kamu udah besar, jangan manja, jangan tidur sama mamamu terus." Seperti anak kecil, Wikra berdebat dengan Ahin.


"Gak mau!"


Mereka terus berdebat di depan pintu. Wikra menolak Ahin masuk ke kamarnya.


"Kenapa sih ribut?" tanya Yifei yang sudah ganti baju.


"Ain tidul ma Bunda," kata Ahin memelas.


"Yaudah sini." Yifei melambaikan tangan. Menyuruh Ahin mendekat.


Wikra segera menghampiri Yifei sementara Ahin berlari naik ke atas ranjang.


"Fei, katanya mau bantu aku, sekarang sudah dua minggu kita nikah. Aku nggak bisa nahan lagi."


"Mas tunggu di kamar sebelah dulu. Habis nidurin Ahin aku akan ke sana."


"Jangan lama-lama."


"Oke."


Wikra melihat punggung Yifei yang mengenakan baju tidur warna pink, sangat menggoda hingga dia meneguk air liurnya. Badan wanita itu masih saja terlihat bagus padahal sudah pernah melahirkan.


Sekarang Wikra gugup, sejak menikah dengan Yifei, dia menepati janji tidak lagi main perempuan. Dia mencoba menguatkan hati untuk tidak mabuk-mabukan.


Hal yang masih sangat sulit ditahan badalah merokok, di kantor dia selalu merokok. Atau malam hari dia akan ke belakang rumah untuk merokok. Menyembunyikan rokok dari Yifei sangat sulit. Wanita itu seperti pula telepati.


"Cari vitamin dulu."


Wikra turun ke lantai bawah, mencari sesuatu di dapur untuk menambah staminanya. Padahal dia sering gituan dengan wanita, tapi kali ini dengan Yifei. Terasa begitu spesial hingga membuat jantungnya berdebar.


"Belum apa-apa rasanya sudah panas."


Wikra membuka kulkas, udara dinginnya mengenai kulit wajahnya yang memiliki jenggot tipis. Dia mengambil telur. Mengingat bahwa katanya telur mentah bisa menambah stamina pria.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, ia memakan telur mentah itu dan membuang cangkangnya. Dia hampir muntah dan segera minum air dingin.


"Pemanasan dulu," katanya sembari berlari-lari kecil.


Dia menarik napas panjang dan mengembuskan lewat mulut, akhirnya Yifei mau melakukannya setelah dia memelas. Sebenarnya bukan memelas, tapi sedikit mengancam, jika Yifei tidak mau maka dia akan melakukannya dengan wanita lain dan melanggar perjanjian.


"Mas," panggil Yifei di tangga. Mencari dirinya.


Jantung Wikra ingin loncat keluar, padahal malam pertama mereka dia biasa saja. Sekarang dia berdebar seperti mau diperawani.


Ekspresi Yifei malah biasa saja, memanggilnya dengan melambaikan tangan. Tidak ada nuansa gugupnya.


"Iya, bentar."


Wikra menutup kulkas dan berjalan cepat menuju tangga, Yifei sudah menungguku di sana. Siap untuk ritual pelepasan burung.


"Kamu ngapain ke bawah?"


"Haus," jawab Wikra. "Ehem."


Mereka berjalan beriringan, Wikra ingin sekali menggandeng tangan Yifei. Tapi rasanya begitu canggung hingga dia memalingkan wajah ke samping.


Mereka berhenti di depan kamar tamu, Yifei membukanya dengan santai. Malah Wikra yang gugup. Padahal dia yang menginginkan hal ini. Sebagai orang dewasa yang dulu sudah sering melakukan bersama. Seharusnya Wikra tidak seperti ini.


"Ayo masuk," kata Yifei.


Wikra melangkah masuk dan Yifei menutup pintunya. Kini di hadapan mereka ada ranjang tempat siap untuk bertempur. Wikra menoleh ke samping, sekarang Yifei juga terlihat gugup.


.. ..


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


jangan lupa pencet like, komen dan share cerita ini ya gaes. makasih


__ADS_2