
Ini adalah acara keluarga pertama kami di luar, Ahin terlihat menikmati dan mau memanggil Wikra Papa. Rasanya sangat terharu melihat Ahin menerima Wikra seperti ini.
Sifat Ahin mirip Wikra, tidak mudah menerima orang baru. Tapi sekarang mereka terlihat akrab. Aku senang sekali.
Jika dipikirkan lagi, sebenarnya orang yang diperlihatkan kematian sepertiku adalah orang yang beruntung. Aku bisa menyiapkan banyak hal sebelum mati.
Warisan untuk Ahin sudah terjamin, dia memiliki kakek nenek yang menyayanginya, otak Ahin juga cerdas membuatku yakin dia tidak akan kesulitan belajar. Sekarang ayahnya ada di sampingnya, membuatku bisa mati dengan tenang tanpa beban pikiran.
"Mas, aku pingin daftar asuransi jiwa." Kataku. Kami sedang makan.
Setahuku memang sulit membuat asuransi jiwa di saat memiliki penyakit. Tapi mungkin bisa dicoba.
"Buat apa?"
"Kalo aku tiba-tiba mati bisa buat Ahin."
"Nggak buat asuransi pun uang Ahin sudah banyak, nggak perlu khawatir."
"Kalau aku mati, Mas nikah lagi?"
"Iyalah, mumpung masih muda."
Hidungku langsung mengembang, padahal baru satu jam lalu dia bilang akan meyakinkanku bersama selamanya. Sekarang malah menjawab akan menikah lagi tanpa pikir panjang. Dasar!
"Realistis aja, aku masih muda, Ahin masih kecil. Kita butuh sosok istri dan ibu. Ahin mau nggak punya Mama baru?"
"Gak mau!" Ahin menggeleng dengan cepat.
"Nanti Mama barumu cantik dan nggak galak, mau nggak?"
Ahin terlihat berpikir, bibirnya belepotan mayonaise. Dia sedang makan burger.
Aku menyela sebelum Ahin menjawab. "Ahin, emang ada wanita yang lebih cantik dari Mama?"
"Gak ada!"
Aku tersenyum menang, mengelus kepala Ahin.
"Iya deh, nggak ada wanita yang lebih cantik dari istriku."
Kalimat istriku membuat senyumku merekah, geli sekaligus suka. Kami melanjutkan makan siang bersama dengan tawa. Wikra mengajak ke toko perhiasan. Katanya ingin membelikan ku kalung.
"Nggak usah, Mas."
Dia melirik Ahin sebelum menyeretku masuk. Di dalam sangat banyak perhiasan dengan harga ratusan juta.
"Aku belum pernah beliin kamu perhiasan, cepat pilih."
__ADS_1
"Ma, pilih." Ahin ikut memerintah.
Mereka berdua menyilangkan tangan dengan kompak, bersikeras supaya aku memilih perhiasan. Aku hanya bisa mendesah berat, untuk apa perhiasan padahal sebentar lagi mati?
Aku memang jarang memakai perhiasan, tidak begitu tertarik karena harganya mahal. Di masa lalu karena gengsi, takut memberatkan ATM Wikra.
Setelah diliat memang sesuatu yang berkilau itu cantik, aku menunjuk kalung berlian berbentuk menara Eiffel. Kecil tapi cantik. Aku memegangnya.
Di sebelahnya ada kalung berbentuk bintang, bukan berlian tapi emas. Cantik sekali. Aku melihatnya juga, membandingkan. Menyibakkan rambut yang terus jatuh.
Dua-duanya cantik, di sebelahnya ada yang bentuk hati desainnya unik. Berlian dan terlihat ringan. Aku ingin memegangnya juga.
"Apa masih lama?" tanya Wikra.
"Bentar, aku bingung pilih mana."
"Pilih cemua." Ahin berkata dengan tangan yang menempel di kaca etalase. "Ahin kaya." Anak itu berlagak setelah mendengar Wikra berkata uangnya Ahin banyak.
Dia begitu menggemaskan bersikap arogan dengan pipi gembulnya.
"Harganya mahal, Mama pilih satu aja."
Akhirnya pilihan jatuh ke kalung pertama. Kalung dengan bentuk menara Eiffel.
"Kamu meragukan CEO Next Media? Sekarang kalau kamu pingin mandi uang bisa aku berikan."
"Aku nggak meragukan kesombonganmu, Mas." Balasku, mengalihkan pandangan kedepan sembari memberikan pilihanku ke mbak penjaga. "Aku pilih ini, Mbak."
"Bungkus semuanya, Mbak." Wikra mengeluarkan kartunya.
"Satu kalung ini seharga 220 juta, Pak. Apa tidak masalah?"
"Kamu juga meragukan uangku?!" Tanya Wikra dengan nada tinggi. Matanya melotot.
Duh, aku malu. Semua orang mengamati kami. Aku menarik tangan Wikra sembari menunduk. Berharap dia tidak membuat keributan.
"Uang Papa Ain banyak!" Ahin ikut-ikutan dengan tangannya yang membuat lingkaran.
Sebenarnya ada apa dengan ayah dan anak ini? Mereka kompak membuat orang-orang melihat kami.
"Bungkus dari sini sampai sana." Wikra menunjuk ujung etalase kaca di depan kami.
Aku mencubit pinggangnya sembari melotot, satu kalung seharga 200 juta. Satu etalase berisi lebih dari 10 kalung. Dia mau menghamburkan uang.
"Auh sakit." Wikra melepaskan tanganku yang mencubitnya. "Kamu jangan kayak orang miskin, Fei. Udah terima aja."
"Ma, telima. Kita bukan olang miskin." Ahin menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
__ADS_1
Aku malu sekali sungguh, tatapan Mbak penjaga membuatku salah tingkah. Belum lagi orang-orang berbisik.
Wikra mengeluarkan kartu kredit tanpa limit, langsung diberikan ke Mbaknya untuk ditotal.
"Mbak, yang ini langsung dipakai." Wikra mengambil kalung berbentuk menara Eiffel.
"Yang ini, Pak?"
"Benar."
Si Mbaknya memberikan kalung yang tidak jadi dibungkus tersebut. Wikra berjalan ke belakangku. Memakaikan langsung.
"Mama cantik." Ahin tampak puas melihatnya.
Tangan Wikra yang menyentuh kulit leherku terasa merinding, dia sangat romantis sampai aku berpikir bahwa dia mahluk baik yang bisa jatuh cinta.
"Lain kali aku akan membawamu ke Paris untuk melihat menara Eiffel," ujar Wikra.
Usiaku tidak lama lagi, aku ingin segera melihat menara Eiffel.
"Bagaimana kalau libur tahun baru bulan depan?"
"Dua minggu lagi kantor sudah libur, aku akan libur lebih cepat. Biar bisa seminggu di sana."
"Apa nggak masalah Mas libur lebih cepat?"
"Aku kan bosnya," jawabnya super bangga.
"Papa bos palabola!" Ahin terlihat ikut bangga.
"Iya deh, Pak Bos."
Kami melanjutkan jalan setelah selesai membungkus kalung, aku bilang ke Wikra akan memberikan kalung ini ke Tante Zara dan Reina. Sisanya mungkin untuk beramal. Aku hanya akan menyimpan tiga.
Pulangnya tak lupa membeli martabak manis di pinggir jalan. Enak dan murah meriah.
.
.
....
bersambung
Gaes. jangan lupa lempar bunga yahhhh
lope banget buat kalian.
__ADS_1
kalo punya apk K B M. App bantu subscribe/klik berlangganan karya Bayi Bos. di sana gratis 15 bab dari total 50 bab buat yang ngikut dari awal. mampir aja dulu tengok kegasrekannya Rin.