Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Obrolan


__ADS_3

Aku sempat tersentak mendengar pertanyaannya, mata kami bertatapan dengan serius. Aku tidak tahu kenapa dia mau menikah kembali, demi Ahin atau ada niat lagi. Namun, aku belum pernah melihat sorot mata Wikra yang seperti ini.


Aku mengambil secangkir coklat yang dia ulurkan, menyeruput ringan sembari memalingkan wajah. Mataku melihat ke sekitar tanpa berniat menjawab pertanyaannya.


"Kau tahu, hidup ini sangat singkat." Aku duduk di kursi yang dekat dari sana.


Wikra mengikuti dan menyeruput coklatnya, kami menikmati udara dingin dan embun.


"Bagiku ini panjang," jawab Wikra.


"Aku pikir juga begitu, tapi setelah orang tuaku meninggal aku baru sadar bahwa aku belum melakukan apapun untuk mereka. Hidup ini terlalu singkat untuk bersama orang yang kita sayangi."


Itu adalah Ahin. Aku ingin hidup lebih lama bersamanya, melihatnya tumbuh besar dan bahagia. Aku belum bisa memberikan hal-hal indah untuknya sebagai ibu.


Wikra membalas omonganku, "aku sudah menyia-nyiakan waktu 4 tahun." Ia tersenyum miris sembari menyeruput coklatnya lagi.


Kamu hanya melewatkan 4 tahun pertumbuhan Ahin, tapi aku akan melewatkan sisanya. Setelah ini kamu yang akan menjaga Ahin.


"Jujur, aku tertarik dengan tawaranmu menikah kembali. Memberikan keluarga lengkap untuk Ahin. Meskipun sebentar tapi aku bisa memberikan kenangan indah padanya, tapi aku takut malah menambah luka untuk anak itu. Kamu belum berubah dan aku nggak bisa minta kamu berubah."


"Kenapa sebentar? Apa kamu pikir aku akan menceraikanmu lagi?"


Bukan, karena hidupku nggak lama lagi.


"Mungkin saja kan? Kita nggak ada yang tahu masa depan."


Wikra terdiam, dia mengepalkan tangannya.


"Tapi Mas Wikra, aku nggak pernah membencimu."


Aku menoleh, tersenyum padanya dengan tulus. Sekalipun dia menyakiti perasaanku, rasa cinta ini melarutkan segala kebencian.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah aku sudah menyakitimu?" Dia heran sekaligus bingung karena aku tidak dendam.


"Kamu memang menyakitiku, tapi kamu juga memberikan Ahin sebagai hadiah luar biasa yang membuatku kuat hingga sekarang."


Mata kami masih bertatapan, tiba-tiba Wikra memalingkan wajah. Aku tidak tahu kenapa, mungkin dia geli mendengar pengakuan seperti itu.


"Kalau dibilang menyakiti, sebenarnya aku juga menyakitimu. Tanpa meminta pendapatmu aku menyetujui perjodohan. Aku minta maaf untuk itu."


Aku meniup coklat sebelum meminumnya hingga habis setengah gelas. Mataku melihat ke depan, ada ayunan dan pohon jambu air. Halaman tertata rapi dengan bunga di sekitarnya. Aku nyaman berada di sini tanpa kebisingan.


"Ke-kenapa dulu kamu menerima perjodohan?" tanya Wikra.


"Karena aku mencintaimu, kamu orang mengagumkan yang aku idolakan sejak masih kuliah."


"Pasti kamu kecewa karena orang yang kamu idolakan aslinya seperti ini?"


Aku memang sedikit kecewa saat tahu Wikra suka mabuk-mabukan, main wanita dan tidak memperlakukan ku dengan baik. Tapi, rasa kagum itu sudah menjadi cinta sejak dia memasang cincin pernikahan.


Bahkan saat dia menceraikanku di malam itu, aku masih berharap bahwa pikirannya akan berubah. Dengan kata lain aku mau bertahan asal ada sedikit saja rasa cinta di hatinya untukku.


"Lumayan kecewa," jawabku singkat. "Tapi bodohnya, aku tetap menerimamu dengan tulus sampai kamu mengusirku."


Itu adalah masa lalu, tidak disangka akan dibahas 4 tahun kemudian. Sebelumnya kami belum pernah mengobrol santai seperti ini.


Aku menghabiskan coklat tanpa menoleh ke Wikra lalu berdiri.


"Aku ke kamar duluan, makasih coklatnya," kataku meninggalkan Wikra di halaman.


Setelah malam itu sikap Wikra berubah, dia tidak lagi menggodaku seperti sebelumnya. Malah terlihat menghindar dengan canggung. Namun, di kesempatan lain dia mencoba dekat, giliran aku respon dia malah menjauh. Aku bingung dengan sikapnya itu.


Kami kembali ke Jakarta hari senin, Kupikir semuanya normal hingga Ahin berkata ;

__ADS_1


"Wikla, tadi ajari Ain cepeda."


Ahin memainkan rambutku, matanya tidak menatap. Tapi aku paham apa yang ingin dia katakan, dia mulai suka dengan Wikra. Kemarin ponakan Wikra juga diajari sepeda ayahnya.


Lalu tadi pagi Wikra membelikan Ahin sepeda dan mengajarinya hingga pria itu terlambat ke kantor.


"Fei, setelah Ahin tidur. Kami mau bicara."


"Iya, Tante."


Aku segera menidurkan Ahin dan menemui Tante Zara dan Om Yuda di ruang tengah. Di atas meja ada beberapa berkas. Aku duduk di depan mereka tanpa mengerti apapun.


"Ada apa ya?"


"Ini surat-surat untuk kamu dan Ahin, Om sudah memindahkan saham atas nama Ahin dan kamu sebagai walinya," kata Om Yuda.


Ah, apa karena ini Wikra mengajakku menikah kembali? Karena harta? Dia takut aku dan Ahin menguasai perusahaannya?


Lumayan miris tapi tidak membuat heran, memang aneh Wikra yang awalnya tidak menerima Ahin, tiba-tiba mengajak menikah kembali dengan alasan ingin memberikan Ahin keluarga lengkap.


Kalau alasannya menikah kembali demi menjadi wali Ahin untuk menguasai seluruh saham keluarga, itu baru masuk akal.


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


Makasih banyak udah mampir, jangan lupa pencet like, komen, vote dan lempar bunga/kopi.


bagiin cerita ini biar lebih semangat update 😆


__ADS_2