
Mobil berhenti di depan panti asuhan, aku keluar bersama Neli. Anak-anak seumuran Ahin bermain di ayunan. Mereka terlihat ceria meskipun tanpa orang tua.
Aku berjongkok, menanyai anak kecil yang sedang bermain pasir. Mungkin usianya kisaran 5 tahun. Gadis kecil yang cantik dengan kulit putih.
"Bunda di mana?" tanyaku.
"Dalem," jawabnya sembari menunjuk pintu.
Aku mengusap rambutnya sembari berdiri. Berjalan mendekat ke orang yang sudah berada di pintu. Terkejut melihatku.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Beliau mempersilakan kami masuk dan menyuguhkan teh. Panti asuhan ini terlihat tua dengan bangunan utama terbuat dari kayu. Banyak foto terpasang. Aku menyuruh Neli menunggu di luar supaya bisa bicara dengan Bunda lebih leluasa.
"Perkenalkan saya Yifei istri Alan, anak yang pernah tinggal di panti asuhan ini."
Aku mengeluarkan foto Wikra ketika kecil, Bunda mengambilnya dan melihat dengan seksama. Terlihat beliau mengenalinya.
"Apa niat kedatanganmu ke sini?"
"Saya ingin mencari orang tua kandung Alan," jawabku.
"Untuk apa?"
"Dia selalu tertekan dan tidak bisa menerima diri, kalau bertemu dengan masa lalu mungkin dia akan menjadi lebih baik."
Bunda diam sejenak, lalu berdiri dan mengambil catatan tentang Alan yang disimpan selama puluhan tahun. Sudah tua dan sangat kusam. Tapi masih bisa terbaca dengan jelas.
Berisi alamat rumah Alan sebelum masuk panti, Pak kepala desa yang mengurus Alan sebelumnya, tetangga dan informasi penting lainnya. Dengan ini aku bisa menyewa detektif.
"Alan sangat pemurung karena sering gagal adopsi, dia sangat cerdas untuk ukuran anak seusianya. Pemikirannya sangat jauh dan pandai memperkirakan sesuatu. Melihat ibunya mati di depan mata membuat dia trauma dan sulit memiliki teman.
"Dari sekian banyak anak, Bunda sangat mengingat dia. Tapi sayang, setelah diadopsi, Alan tidak pernah berkunjung."
Ucapan kecewanya mirip dengan Robby, ada alasan kenapa Alan tidak bisa berkunjung, yakni karena ia sudah menjadi Wikra.
"Saya minta maaf untuk mewakilinya."
Aku mengeluarkan amplop uang, berisi sekitar 30 juta.
"Nggak usah."
Meskipun bunda berkata demikian, aku tetap menaruh uang itu di meja.
"Ini dari Alan, dia menyesal karena tidak bisa ke sini. Bukan karena ingin melupakan Bunda, tapi ada sesuatu yang membuatnya terputus dengan masa lalu."
Kami berbincang cukup lama, Bunda menceritakan Alan sewaktu kecil. Dia cerdas dan nakal. Selalu membuat orang lain geram. Tapi bunda tahu ia hanya ingin disayang dan diperhatikan.
Aku berpamitan setelah menghabiskan teh, Bunda memelukku hangat dan titip salam untuk Wikra.
"Nyonya, hidung anda mimisan." Neli memberikan sapu tangan.
Aku mengambilnya dan sedikit mendongak, takut darah menodai bajuku. Setelah mengelapnya dengan sapu tangan aku masuk ke dalam mobil.
"Nyonya, lebih baik kita ke rumah sakit."
__ADS_1
"Nggak perlu, kita makan siang setelah itu pulang."
Sekarang sudah pukul dua, perjalanan ke rumah menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Aku harus sampai sebelum Ahin pulang.
Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan, sampai di Jakarta sore hari. Aku langsung menuju sekolah Ahin. Anak itu terlihat sangat senang melihatku.
"Ahin suka main kemahnya?"
Dia mengangguk. "Suka."
Kupikir kami sudah menjadi keluarga lengkap bahagia, tapi rupanya masa lalu masih menghantui hingga kami kesulitan. Yumna kembali datang, kali ini ia membawa balita perempuan berusia 3 tahun.
Wikra pulang lebih cepat dan tidak jadi ke Singapura.
Aku yang baru pulang bersama Ahin menyaksikan Wikra marah dan membanting barang-barang di ruang tamu.
"Ini anakmu! Aku tidak berbohong!" Teriak Yumna.
Mata Wikra nyalang menatap. "Kau tidur dengan banyak pria, kau pikir aku akan mau mengakuinya?"
"Kita menikah siri hampir setahun, aku yakin dia benar anakmu."
Pertengkaran ini tidak pantas dilihat anak kecil, apalagi anak perempuan itu terlihat ketakutan.
"Jangan mimpi! Anakku hanya Ahin, tidak ada yang lain!" Teriak Wikra lagi.
Wikra berjalan mendekat, ia langsung menggendong Ahin dan menunjukkannya pada Yumna. Mengabaikanku. Ahin bergelayut di leher Wikra lalu melihat ke bawah, tepat ke balita perempuan yang digandeng ibunya.
"Kalea juga anakmu, kalau kau tidak percaya silakan tes DNA." Yumna menantang.
Dulu pertama aku menunjukkan Ahin, Wikra tidak meragukan sedikitpun Ahin putranya. Sangat berbeda dengan Yumna yang tidak diakui.
Percakapan ini sudah keterlaluan, bagaimana jika benar anak itu anak Wikra. Aku mengembuskan napas berat dan maju meskipun sebenarnya tidak ingin ikut campur.
"Pembicaraan seperti ini tidak baik didengar anak-anak," ucapku. Mengambil Ahin dari gendongan Wikra.
"Siapa kamu berani ikut campur!" Bentak Yumna.
"Aku istri sahnya Wikra. Tolong jangan bertindak bodoh di sini. Lihat anakmu menangis."
Yumna menunduk, melihat putri kecilnya yang mengeluarkan air mata tanpa suara. Ia ketakutan. Aku ralat tentang Wikra yang sudah dewasa. Dia masih berpikiran pendek dan sempit.
Pada akhirnya kami berbicara bertiga, Ahin dan anak itu berada di ruang bermain. Ternyata selama ini Yumna menghubungi karena ini.
"Kalea bukan anak kandung suamiku. Kami baru mengetahuinya baru-baru ini."
Yumna menunduk, dia jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Lalu kau pikir bocah itu anakku?" tanya Wikra.
"Priaku saat itu hanya kamu dan suamiku, kalau anak itu bukan anak suamiku, maka sudah pasti itu anak kamu."
"Aku tahu kamu tidur dengan banyak pria, nggak usah bohong."
Yumna mengembuskan napas berat, terlihat memohon. "Aku bisa diceraikan suamiku kalau tetap bersama Kalea, tapi aku tidak bisa membiarkan Kalea hidup di panti asuhan."
Oh, aku maksud. Jadi Yumna ingin menitipkan putrinya ke sini karena tidak mau diceraikan.
__ADS_1
"Kamu lebih memilih suami dari pada anakmu?" tanya Wikra.
Sebagai orang luar, aku hanya bisa diam.
"Aku memiliki anak lain selain Kalea, dia masih bayi. Lebih membutuhkanku dibanding Kalea."
"Tapi bukan berarti kamu bisa membuang anak itu begitu saja?"
"Aku tidak membuangnya!" Teriak Yumna. "Aku menaruhnya di tempat ayahnya, apa itu salah?"
Tidak salah, tapi kurang tepat. Kalau Kalea dewasa nanti dan tahu ibunya memilih keluarga baru. Maka Kalea akan sakit hati. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun tentang itu.
"Tolong rawat Kalea dengan baik, aku akan kembali pada suamiku dan memulai hidup baru di Amerika."
Wikra menjatuhkan punggungnya di sofa, ia memejamkan mata. Terlihat pusing dengan masalah ini.
Aku mulai bicara sebagai penengah, kalau benar Kalea anak Wikra, maka sudah sepantasnya Wikra bertanggungjawab.
"Pertama, kita tes DNA dulu. Setelah terbukti Kalea anak kandung Mas Wikra. Kita bisa pikirkan jalan keluarnya." Aku memberi usul yang paling masuk akal.
Wikra melihat ke arahku, terlihat heran karena aku menyikapi masalah ini dengan kepala dingin. Sebagai istri sah seharusnya aku marah.
"Besok aku tunggu di rumah sakit untuk tes DNA," kata Yumna mengambil tas.
Ia pergi tanpa pamit setelah mengambil Kalea dari ruang sebelah. Aku mengembuskan napas berat sembari berdiri.
Wikra menarik tanganku hingga membuat badanku berbalik. Aku mendorong dadanya menjauh.
"Fei, dia bukan anakku. Percayalah."
Ini memuakkan, Wikra belum berubah. Dia masih seperti dulu.
"Hadapi dan tanggung jawab, kamu pria, 'kan?" tanyaku. Sedikit mendongak menatapnya.
"Tapi--"
"Cukup! Jangan jadi pengecut!"
Aku kecewa padanya, masa lalu yang buruk sampai menelantarkan anak-anak tidak bersalah.
"Kalau ada wanita lain yang mengaku punya anak darimu lagi, aku akan lebih mempercayai mereka. Karena apa? Karena kamu memang kayak gitu!"
Aku tahu Wikra sering tidur dengan sembarang wanita sebelum kami menikah kembali, maka dari itu di surat perjanjian Wikra harus berhenti.
Tapi bagaimana jika masa lalu Wikra memang sudah terlanjur buruk, tidak bisa diperbaiki. Akhir-akhir ini aku terlalu percaya sampai hampir melupakan kenyataan itu.
Wikra mundur, tidak bisa membela diri karena semua ucapanku benar. "Maaf."
.
.
.
bersambung
jangan lupa komen dan pencet like ya manteman. Kalau ada waktu mampir ke akunku di. I N N O V E L. insyaallah aku bakal ikut lomba di sana. 🥺 ngajuin naskah lain kok. bukan cerita ini. Mohon bantuannya tap love novel-novelku di sana. ðŸ˜
__ADS_1
Walaupun gagal di sini, aku terus berusaha ikut lomba di manapun. 🙂