
Menjadi manusia gagal, Wikra tak tahu hidupnya begitu hancur dan berat. Semua kesalahan tidak bisa diperbaiki lagi. Ternyata anaknya tidak hanya Ahin, tapi juga gadis kecil yang tidak pernah merasakan kasih sayangnya.
Bukannya dia tidak mau mengakui Kalea, hanya saja itu sama dengan dia mengakui kesalahannya. Ia yang mulai bangkit dan merasa lebih baik kembali jatuh.
Seakan semua kembali ke awal, ia kembali terpuruk dan putus asa. Yifei yang memaafkan kesalahannya di masa lalu, Ahin yang menerimanya sebagai ayah dan keluarga yang baik-baik saja. Semua kembali goyah karena masa lalu.
Wikra kesal dan marah, tapi tidak tahu harus dilampiaskan pada siapa. Ia ingin memutar waktu dan mengulang kembali.
"Tambah satu gelas lagi!" Teriak Wikra. Ia minum alkohol sampai mabuk.
Sudah tiga hari tidak pulang, ia rindu Yifei. Kemarin ia menemui dokter dan mendengar kabar bahwa usia Yifei tidak lama lagi. Pendonor tidak ditemukan karena golongan darah Yifei sangat langka.
Orang yang menguatkannya adalah Yifei, ia tidak bisa kehilangan Yifei atau hidupnya akan benar-benar hancur.
"Kau di sini lagi?" tanya teman Wikra yang baru datang. Ia duduk di kursi. Memesan minuman yang sama.
Sekali tenggak, gelas yang berada di tangan Wikra kosong. "Kenapa kau juga ke sini?"
Ferdinan, temannya ketika di kampus. Bekerja di perusahaan milik orang tua dan sering bertemu di bar. Ia sudah menikah dan punya anak bayi.
"Istriku bawel, di rumah juga berisik suara bayi."
Minuman Ferdinan datang.
"Seharusnya kau bantu istrimu di rumah, pasti dia sangat repot mengurus bayi."
"Hey! Kau sama saja denganku. Di rumah istrimu juga sibuk ngurus anak. Jangan sok menasehati kalau kamu sendiri ba jingan."
Ferdinan menusuk tepat sasaran, ia meninggalkan Yifei bersama dua anaknya padahal sedang sakit. Wikra memejamkan mata sejenak, ia mengambil botol dan meminumnya.
Dua wanita bergaun sexy menghampiri mereka. Bergelayut manja di lengan Wikra, mencoba menggoda supaya mau tidur dengannya. Namun, Wikra menepis. Ia sudah berjanji pada Yifei tidak akan main perempuan lagi.
"Sayang, malam ini aku akan melayanimu."
"Pergi!" Bentak Wikra.
Perempuan itu mendengus kesal dan pergi, sementara Wikra sudah sangat mabuk. Ia berjalan sempoyongan menuju pintu keluar. Ia menubruk orang-orang dan menjatuhkan gelas yang dibawa pelayan.
Ferdinan menyusul Wikra dan memapahnya. "Kau sangat menyusahkan, tidur saja di hotel sebelah."
Di samping bar ada hotel tempat orang-orang bercumbu, biasa mereka gunakan ketika memesan wanita malam. Wikra menggeleng. Tidak mau tidur di sana lagi.
"Istriku... sendirian."
"Aku akan panggilkan supir," ucap Ferdinan. Ia tidak dekat dengan Wikra, tapi melihatnya kacau seperti ini tidak tega.
Saat itu kesadaran Wikra hampir hilang sepenuhnya, ia muntah di depan bar selama menunggu supir. Ia meracau tidak jelas hingga membuat Ferdinan kesulitan.
Selama perjalanan pulang, Wikra menangis meluapkan segala kesedihan yang ada. Ia sampai rumah dan menemui Yifei. Wajah wanita itu tampak pucat. Wikra hanya ingat samar-samar.
__ADS_1
Pagi hari harinya kepalanya sangat sakit, matahari sudah tinggi. Suara anak-anak berada di luar. Ahin bermain dengan Kalea?
Perlahan Wikra duduk, ia tidak bisa mengingat kejadian semalam. Kepalanya terasa sangat nyeri. Tak lama kemudian Yifei masuk dengan raut wajah jutek. Meliriknya tajam dan membuatnya salah tingkah.
"Fei..."
Panggilan itu tidak dihiraukan, Yifei mengambil barang di closet dan berjalan melewatinya menuju pintu keluar.
"Fei... ambilin minum."
"Ambil sendiri!" Bentak Yifei.
"Kok kamu bentak aku sih?" tanya Wikra heran, biasanya Yifei selalu lemah lembut.
"Terus aku harus jawab apa sama suami yang ngilang tiga hari dan pulang-pulang dalam keadaan mabuk? Kamu pikir kamu hebat?!"
Yifei marah dan membanting pintu, membuat Wikra terkejut. Pria itu mengacak rambutnya sendiri. Kembali menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Menatap langit-langit kamar.
Ia mengulurkan tangan, melihat cincin pernikahan yang tersemat di sana. Pemilik hatinya, Yifei. Kini marah padanya. Pasti karena tidak bisa menerima dia punya anak lain. Wikra mengembuskan napas berat.
Pukul sepuluh pagi bos parabola itu keluar kamar, ia lapar. Yifei tidak mengurusnya. Membuatnya bangun kesiangan dan tidak berangkat ke kantor. Meskipun ini hari Sabtu tapi dia ada meeting.
"Papa!" Panggil Ahin. Membuatnya terkejut.
Di belakang Ahin ada Kalea, membawa boneka dan mematung menatapnya. Terlihat takut, bocah itu berbalik setelah melihat Ahin bergelayut di kakinya. Ia pergi ke lantai bawah.
Wikra berjongkok, melihat Ahin yang mengulurkan robot, menunjukkan bahwa ia baru saja dibelikan itu oleh Tante Reina.
"Malin. Papa gak ada."
Kalau adiknya itu sudah mengetahui tentang Kalea, sudah pasti orang tuanya juga tahu. Wikra mendesah, siap-siap mendapat omelan.
"Papa main yuk."
Sudah lama tidak bermain dengan Ahin, pasti bocah itu juga merindukannya. Wikra menggangguk dan mengangkat Ahin dalam gendongan.
Ia membawa Ahin turun, berniat ke dapur dulu untuk sarapan. Setelah melewati tangga ia sampai di ruang tengah. Ada Yifei sedang menemani Kalea bermain boneka Barbie.
Mata mereka bertatapan, lalu Yifei mengacuhkannya. Bukan itu yang menjadi fokus Wikra, tapi kedekatan Yifei dengan anak tirinya. Ia baru tahu kalau Yifei bisa menerima Kalea. Lalu kenapa Yifei sekarang marah padanya?
"Ahin turun dulu, Papa mau sarapan sebentar."
Wikra menurunkan Ahin dan meninggalkannya ke ruang makan, ia sarapan sembari memikirkan kenapa Yifei marah? Mengingat perkataan Yifei tadi.
Suami yang menghilang tiga hari dan pulang dalam keadaan mabuk, sepertinya itu alasannya. Mabuk dia anggap biasa. Pasalnya dulu Yifei tidak pernah marah kalau dia pulang dalam keadaan mabuk.
"Dia banyak berubah, sekarang jadi lebih mendominasi."
Sekarang Yifei bisa marah dan protes. Tiba-tiba Wikra tersenyum, ia suka sikap Yifei yang seperti ini. Dulu dia menginginkan Yifei lebih agresif dan tidak terlalu nurut.
__ADS_1
Wanita terlalu nurut tidak menarik, ia butuh partner hidup yang bisa memberitahu hal yang baik. Wikra segera menghabiskan sarapannya dan minum.
Setelah bersendawa ia bergegas ke ruang tengah. Duduk di samping Yifei dan menyenggolnya. Wanita itu bergeser, masih marah dan tidak mau dekat-dekat.
"Maafin aku ya sayang," kata Wikra. Merayu.
"Ahin, ajak Dek Ila main di luar ya? Nanti Mama nyusul."
Ahin berhenti bermain dan memandang Mamanya, lalu beralih ke Papa. Wikra mengangguk. Kemudian berdiri sembari menggandeng tangan Kalea.
Setelah Ahin pergi, Wikra memeluk Yifei dari belakang. Wanita itu segera menepisnya, tidak mau.
"Aku benar-benar minta maaf, kemarin aku hilaf."
Sebenarnya Wikra tidak tahu kalau tidak boleh mabuk-mabukan lagi. Menurutnya itu hal yang biasa ketika ada masalah. Rupanya Yifei membenci hal itu.
"Kapan sih kamu dewasa, Mas? Kalau ada masalah tuh jangan kabur, Kalea anak kamu loh, bisa-bisanya kamu pergi mabuk-mabukan, aku capek ngadepin kamu yang kayak gini.
"Jadi orang tu yang bertanggung jawab, kamu ini bukan anak kecil lagi. Tapi panutan buat anak-anak, gimana kalau Ahin niruin kelakuan kamu."
Wikra memeluk Yifei, merasa bersalah karena sudah membuat khawatir dan kekanakan. Kebiasaan memang sulit dihilangkan, dari kelakuannya dulu ia hanya bisa meninggalkan main perempuan. Soal mabuk dan merokok itu masih sulit.
Dia bukan pria yang langsung bisa berubah 100 persen, butuh banyak waktu dan usaha.
"Maaf, aku akan berusaha jadi ayah yang baik buat anak-anak."
Walaupun sudah dalam pelukan, Yifei tidak berhenti bicara. "Kamu itu imam keluarga, tapi sekali aja kamu nggak pernah ngimamin aku shalat, kamu tuh zholim tahu nggak?"
Urusan agama Wikra hanya bisa menelan ludah, ia jarang shalat kalau tidak diingatkan Yifei. Itu saja masih sering salah. Wikra menenggelamkan wajahnya di pundak sang istri.
"Maaf, aku akan berusaha lebih baik lagi."
"Nanti kalau aku mati kamu nggak bisa doain, jangan bilang kamu ke kuburanku cuma ngasih bunga doang? Orang mati nggak butuh bunga tapi doa. Tapi kamu gimana bisa ngasih doa, baca Qur'an aja nggak pernah, bahkan aku nggak tahu kamu bisa Qur'an atau nggak!"
"Kamu jangan bilang kayak gitu, aku janji akan berusaha berubah."
Pagi itu Yifei mengomel panjang lebar dengan kalimat menusuk sampai membuat mental Wikra hancur lebur.
.
.
.
.
bersambung
jangan lupa komen dan pencet like ya manteman. Kalau ada waktu mampir ke akunku di. I N N O V E L. insyaallah aku bakal ikut lomba di sana. 🥺 ngajuin naskah lain kok. bukan cerita ini. Mohon bantuannya tap love novel-novelku di sana. ðŸ˜
__ADS_1
Walaupun gagal di sini, aku terus berusaha ikut lomba di manapun. 🙂