Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Pelayan


__ADS_3

Neli tetap bertahan di rumah ini padahal setahuku semua pelayan memusuhinya karena bersikap baik padaku. Hebat, dia sanggup bertahan di antara orang-orang yang membenci.


Dulu, aku tidak dianggap Wikra sebagai istri. Maka dari itu para pelayan juga meremehkanku sebagai nyonya rumah.


Pernah suatu hari aku sakit dan Neli pulang kampung, mereka tidak mau merawatku dan membiarkanku kesakitan.


"Kenapa sih Nyonya tidak bisa merawat diri, pekerjaan saya tuh banyak di dapur. Lain kali kalau butuh obat jangan panggil saya, tapi ambil sendiri."


"Maaf, lain kali aku nggak bakal merepotkan."


Demamku tinggi, untuk mengangkat kepala saja tidak sanggup. Apalagi mengambil obat.


"Huh, dasar merepotkan."


Pelayan itu pergi setelah memberikan Paracetamol tanpa air. Dari dua puluh lima pelayan di rumah ini, dia yang datang ketika aku panggil. Sementara yang lain benar-benar mengabaikanku dan tidak peduli apakah aku hidup atau mati.


Aku hanya bisa merendah supaya dia tidak marah. Walaupun dia ketus setidaknya masih mau mengambilkan obat dan memberikan makanan sekali.


Saat itu aku harus bertahan sampai Neli kembali, aku tidak memiliki kuasa memecat pelayan atau memarahinya. Wikra tidak mengizinkanku mengatur keuangan rumah. Dia hanya menjadikanku boneka yang direndahkan semua orang.


Mengingat hal itu aku menjadi sangat kesal, di pernikahan kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun meremahku lagi.


"Gimana kabarmu, Neli?"


"Saya baik, Nyonya."


"Oh ya kenalkan, ini Ahin, putraku."


"Dia...."


"Iya, waktu pergi dari rumah ini aku hamil."


Tiba-tiba Wikra menyela, "ah, dia pelayan yang dulu mendampingimu?"


"Iya, kali ini pun aku pingin Neli yang dampingin aku."


"Baiklah."


"Oh ya ada yang pingin aku bicarain, Mas."


Aku harus mengambil hakku sebagai Nyonya rumah, gaji pelayan dan kebutuhan sehari-hari harus berada di tanganku. Supaya tidak ada lagi orang yang meremehkan dan menganggapku sebagai boneka.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya, Tuan."


"Neli, bawa Ahin melihat kucingnya." Suruhku.


"Baik Nyonya."


Neli membawa Ahin pergi, dia menutup pintu dan membiarkan kami berada di dalam kamar yang penuh dengan barang-barang.

__ADS_1


"Apa yang pingin kamu omongin?"


"Aku mau hakku sebagai Nyonya rumah," kataku.


"Bukankah kau sudah memilikinya sejak menjadi istriku?"


Hah? Kapan? Dari dulu juga Robi, kepala pelayan tidak memberikan hakku sebagai Nyonya Rumah karena Wikra melarang.


Aku pernah menanyakan ke Robi, dia bilang bahwa Wikra tidak mengizinkanku mengurus kebutuhan rumah.


"Kapan kamu beri aku kuasa?" tanyaku.


"Loh gimana sih, bukannya emang udah otomatis kamu yang menghandle keuangan rumah dan pelayan sejak kamu jadi Nyonya rumah?" Wikra tampak kebingungan.


"Apa itu termasuk di pernikahan kita yang pertama?" tanyaku pelan.


"Iyalah," jawabnya.


Ahh.... kini aku mengerti. Ada yang bermain di belakangku. Pantas saja dulu banyak kejanggalan.


"Kau atur rumah sendiri, aku mau ke kantor."


Wikra melihat jam tangan, sudah pukul sepuluh pagi. Kupikir dia libur dua atau tiga hari karena menikah. Rupaya tidak, yahh dia memang gila kerja.


Aku tidak heran lagi kalau di hari pertama dia memilih bekerja dibandingkan di rumah bersama istrinya.


"Aku pergi dulu."


"Hmm," jawabku sembari menghitung barang.


"Kamu marah?"


Kali ini aku menoleh, melihatnya dengan heran. "Untuk apa?"


"Karena aku pergi di hari pertama pernikahan?"


"Hubungan kita nggak sesepesial itu sampai aku harus marah."


"Benar kau marah, kalau begitu aku akan pulang cepat."


Apaan sih. Aku kan tidak marah, hanya sedikit kesal. Dia tersenyum lebar dan melesat pergi. Aku mengembuskan napas berat.


"Neli!" Panggilku setelah keluar dari kamar. Melihat ke lantai bawah dari atas.


"Iya, Nyonya."


Neli menjawab dari lantai satu.


"Panggilkan pelayan yang lain untuk membereskan kamarku, lalu suruh Robi ke ruang tengah lantai dua. Juga hidangkan teh dan dessert."

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


Aku melihat Ahin sedang bermain dengan kucingnya, dia terlihat enjoy. Ahin sudah didampingi pengasuh yang dikirimkan Tante Zara. Aku tidak perlu khawatir lagi.


Aku masuk ke kamar dan berganti baju branded berharap ratusan juta, aku juga menyisihkan baju-baju yang lawas. Dulu aku diremehkan karena miskin dan tidak menggunakan uang Wikra.


Sekarang, aku harus menunjukkan posisiku di rumah ini dan menghukum orang-orang yang dulu membuatku menderita.


Setelah selesai berias, aku keluar kamar dan ke ruang tengah lantai dua. Pintu balkon terbuka lebar. Lampu gantung berada di atas kami dan hiasan bunga berada di setiap pojok. Tiga pelayan termasuk Neli berdiri di belakang kursi. Bersiap melayani jamuan teh.


Dessert dan teh sudah tersaji di meja. Robi tidak berdiri ketika melihatku. Masih sama seperti dulu. Dia tidak menghormatiku sebagai Nyonya rumah.


Aku duduk di depannya, menyeruput teh yang Neli hidangkan.


"Selamat datang kembali, Nyonya. Maaf saya baru sempat memberi salam."


"Kalau tidak aku panggil, mana mungkin kamu memberi salam, pasti kamu lupa, 'kan?"


"Ah, itu karena pekerjaan saya sangat banyak."


"Kalau begitu aku tidak ingin basa-basi, berikan catatan keuangan rumah padaku. Mulai sekarang aku yang akan mengurus keuangan."


"Saya tidak bisa memberikannya, Tuan Wikra tidak mengizinkan siapapun kecuali saya mengurus keuangan rumah."


Robi bersandar sembari mengambil teh, merasa menang dan tampak tidak akan menyerahkan barang yang aku inginkan. Dia selalu menggunakan alasan Wikra untuk menekanku.


Dia tahu bahwa aku takut terhadap Wikra dan tidak mungkin meminta ataupun bertanya.


Aku meletakkan cangkir teh, lalu menatapnya tajam. "Kau pikir kau siapa?"


Mendengar itu Robi terkejut, "eh, apa?" Keningnya berkerut.


"Kau pikir kau siapa berani melawanku?"


Dia bingung. Wajahnya berubah panik.


"Milik Wikra adalah milikku, termasuk hak memecatmu sekarang juga."


.


.


.


.


bersambung


Jangan lupa share cerita ini di sosmed kamu ya. Biar jumlah favoritnya naik. Walaupun gk kontrak (belum ada niat kontrak) tapi kalo yang baca banyak kan aku seneng dan samangat up ಥ‿ಥ

__ADS_1


__ADS_2