
Wikra berhasil menyelamatkan sebagian bahan baku, peluh keringat mengucur dari pelipis dan jenggot tipisnya. Napasnya terengah-engah. Dengan begini kerugiannya tidak terlalu besar.
Kalau sampai keuangan NEXT Media goyah, maka saham akan turun dan akan kesulitan mengaji karyawan. Begitu banyak orang yang bergantung kepada perusahaan ini untuk mencari nafkah.
Kesalahan bahan baku kemarin merupakan hal yang fatal, dia harus mengeluarkan banyak uang untuk bahan baku baru. Sementara pegawai yang bertanggung jawab terhadap itu tidak menunjukkan keseriusannya, ia dengar bahwa orang itu adalah anak salah satu manager.
Nepotisme telah terjadi di perusahaan yang menyebabkan kerugian, orang yang tidak kompeten masuk hanya karena kerabat. Padahal banyak orang di luar sana yang berbakat tapi tidak memiliki kesempatan.
Wikra membenci hal seperti itu, rasa tidak adil hanya karena bukan dari keluarga berpengaruh, dia ingat dirinya sendiri hanya anak angkat.
Dia benci mengingat bahwa posisinya sekarang karena diangkat anak oleh papa dan mamanya, dia jadi mengingkari bahwa NEXT Media bisa sebesar sekarang karena kemampuannya sendiri.
Apalagi orang tua angkatnya itu bebas memberikan perusahaan yang dia bangun kepada siapapun, termasuk kepada anak yang baru muncul, Ahin.
"Ahin?"
Wikra baru sadar bahwa Ahin menghilang, wajahnya berubah panik. Di mana Ahin? Dia mencari sekeliling tapi tidak melihat keberadaannya bahkan kucingnya.
Matanya melihat ke depan, api yang membakar gedung masih berkobar hebat. Tubuhnya bergetar, Ahin masih di dalam sana?
"Ahin!"
Wikra hendak menerobos kobaran api yang sedang dipadamkan oleh damkar, tetapi orang-orang menghentikan Wikra dengan menahan tubuhnya.
"Jangan, Pak! Di sana berbahaya!"
"Anakku masih di dalam!" Wikra berteriak kepada semua orang.
"Kami akan berusaha menyelamatkannya," kata petugas damkar.
Wikra merasa begitu bodoh dan ceroboh, dia melepas genggaman tangan Ahin.
"Selamatkan Ahin! Selamatkan dia!"
__ADS_1
Petugas damkar masuk ke dalam kobaran api yang sudah setengah jam belum padam, sementara Wikra kebingungan ingin masuk ke dalam menyelamatkan Ahin.
Bagaimana bisa dia menyelamatkan bahan baku dan meninggalkan anaknya di sana? Ahin adalah darah dagingnya, pantas saja anak itu menyebut dia jahat. Dia telah membunuh anaknya sendiri.
Padahal Wikra belum pernah melakukan apapun untuk anak yang terpisah 4 tahun darinya itu, anak yang tersenyum ketika dia ajari sepeda. Anaknya itu juga belum pernah memanggilnya ayah.
Tak lama kemudian petugas damkar keluar membawa tas kecil yang sudah terbakar, sejurus kemudian kaki Wikra lemas. Dia terduduk di tanah dengan lunglai.
"Maaf, Pak. Kami hanya bisa menemukan ini." Petugas itu memberikan tas Ahin yang masih tersisa.
"Nggak! Ahin masih hidup!" Teriak Wikra menarik tas Ahin.
Anak yang mirip dengannya itu tadi begitu kagum melihat rangkaian parabola, perlahan Ahin bisa menerimanya sebagai ayah. Bagaimana bisa ia kehilangan Ahin seperti ini?
Orang-orang di sekitar juga sibuk menyelamatkan rekan mereka, para keluarga pegawai berdatangan setelah mendengar berita yang disiarkan langsung dari televisi NEXT Media.
"Ahin! Di mana Ahin?" pertanyaan dari wanita yang dia kenal. Wajahnya begitu panik, Yifei, bagaimana bisa Wikra menjelaskan semua kebodohannya ini?
Wikra terdiam, hanya air mata yang mengalir. Dia menggenggam erat tas kecil milik Ahin. Yifei ikut berjongkok, dia menatap Wikra dengan air mata yang mengalir begitu saja.
"Di mana Ahin?!" Teriak Yifei tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Wikra masih diam, hanya dijawab lewat air mata. Yifei menarik kerah kemeja Wikra yang kotor.
"Aku sudah bilang jaga Ahin! Bagaimana bisa kamu membuat anakmu sendiri celaka!" Yifei berteriak, dia terlihat begitu terluka.
"Maaf," hanya kata itu yang bisa Wikra ucapkan.
"Seharusnya aku sadar kalau kamu akan membunuh Ahin untuk mengambil semua hartanya, apa salah anak malang itu? Kalau kamu bilang terus terang, dengan sukarela kami akan pergi lagi, kamu tidak perlu membunuh anakku seperti ini!"
Yifei tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, dia menangis meraung-raung, melihat kobaran api. Tangan Yifei mendorong Wikra hingga terjatuh duduk ke belakang.
Wanita itu berlari ke kobaran api, semua orang menghentikan termasuk Wikra yang refleks berdiri dan memeluk Yifei dari belakang,
__ADS_1
"Ahin! Anakku! Tolong selamatkan anakku!" Yifei berteriak histeris.
Wikra semakin erat mendekap, dia tidak bisa berbuat apapun selain menghentikan Yifei. Wanita itu bisa mati jika masuk ke kobaran api.
"Maaf, tolong jangan masuk ke sana." Kata Wikra lirih di samping telinga Yifei.
"Cuma Ahin alasanku hidup," kata Yifei berhenti meronta, tubuhnya melemas. Mungkin merasa usahanya percuma sekalipun berhasil masuk ke dalam, Ahin belum tentu bisa kembali. Yifei berbalik. Memukul dada bidang Wikra.
Kali ini wanita itu memelas, air matanya berlinang. Dia seperti orang yang putus asa.
"Kembalikan anakku, aku mohon, kami janji akan pergi dari hidupmu, kami nggak akan ganggu kamu lagi. Tolong kembalikan Ahin."
"Aku minta maaf," hanya itu kata yang bisa Wikra ucapkan. Dia juga merasa sangat sedih kehilangan Ahin.
Tidak ada niat sedikitpun menyakiti anak itu, apalagi demi mengambil hartanya. Dia juga tidak ingin Yifei dan Ahin pergi.
Jika diberikan kesempatan lagi, Wikra berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk Ahin.
.
.
.
.
bersambung
Bagi yang mau masuk grup chat, sandinya sebutkan nama 6 tokoh dalam cerita ini. JANGAN DIJAWAB DI KOLOM KOMENTAR!!!
bagi yang nggak tahu cara masuk grup chat. Caranya klik profilku, di bawah nama ada kotak panjang tulisannya grup ka umay. klik trus masukkan sandi (nama 6 tokoh cerita ini) terakhir klik izin masuk grup.
SEKALI LAGI JANGAN DIJAWAB DI KOLOM KOMENTAR!!!!!
__ADS_1