Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Keluarga Wikra


__ADS_3

Langit berada di ufuk barat ketika kami melanjutkan perjalanan, warna jingga menyoroti hingga tembus kaca, begitu silau hingga Ahin berkedip beberapa kali.


Sebelum berangkat, aku memberitahu Ahin nama Ayahnya. Supaya dia tidak memanggil Ez ayah. Juga agar ketika nanti bertemu Wikra, Ahin tidak terkejut.


Kening Ahin berkerut ketika pertama kali mendengar nama Wikra. Anak itu tidak menyukainya.


"Wikramawardhana, itu nama Ayahnya Ahin."


"Ama ayah ain Es."


Aku menggeleng, sekali menegaskan nama ayahnya adalah Wikra bukan Ez.


"Ahin harus mengingat nama ayah Wikra."


"Ain gak enal."


"Nanti di Jakarta Ahin bakal ketemu Ayah."


"Ain mau ketemu Om Es."


"Nanti juga ketemu Om Ez. Tapi Ahin harus ketemu dulu sama Oma, Opa, Tante Reina dan Ayah. Ahin harus bersikap baik sama mereka. Kalau Ahin nakal nanti bunda sedih."


Bibirnya cemberut, dia tidak menyukai orang-orang baru. Ahin merasa sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, ada aku, Bude dan Ezhar.


Pasti sulit untuknya jika semuanya tiba-tiba berubah. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menitipkan Ahin selain pada Tante Zara. Hanya beliau yang bisa menyayangi Ahin dan membesarkan dengan sepenuh hati.


Sekarang aku memeluk Ahin, jika bisa memilih maka aku juga ingin tetap bersamanya. Melihat Ahin tumbuh besar dengan sehat dan bahagia. Hanya saja Tuhan memisahkan kami lebih cepat.


"Bunda angis?" tanyanya ketika air mataku menetes di pipinya yang tembem.


Aku segera mengusap air mata, tersenyum kepada putraku yang menggemaskan.


"Bunda cuma silau."


Kepala Ahin menoleh ke matahari, tangannya menunjuk ke sana. "Epat enggelam! Ngan buat Bunda angis!"


Dialah putraku, tidak mengizinkan apapun menyakiti bundanya. Matahari pun diperintah.

__ADS_1


Ahin mirip ayahnya yang suka memerintah, aku jadi ingat cerita Tante Zara ketika menamai Wikra. Katanya nama itu memiliki arti penting.


Wikramawardhana adalah nama raja Majapahit ke 5. Menantu Hayam Wuruk. Kuat, gagah dan cerdas. Tante Zara ingin anaknya tumbuh seperti itu.


Benar saja, Wikra tumbuh seperti raja Majapahit, dia sangat tampan, gagah dan cerdas. Siapapun yang melihatnya bisa langsung jatuh cinta dengan segala pesona.


Hanya saja, Wikra tidak memiliki kehangatan untuk orang sekitar. Apakah dia bisa menjadi ayah yang baik untuk Ahin? Aku tidak berharap banyak.


"Mbak, ini belok kanan atau kiri?" tanya Pak supir sembari menoleh ke belakang.


"Ke kiri, Mas. Lurus sampai ada rumah lantai empat pagar besi warna coklat."


"Baik."


Kami hampir sampai, jantungku berdebar kencang. Tanganku semakin memeluk Ahin yang berada di pangkuan.


Tepat sebelum magrib, mobil trevel berhenti di depan gerbang. Rumah keluarga Wikra tidak banyak berubah. Satpam juga masih mengenaliku dan mengizinkan masuk. Beliau juga membawakan barang-barang kami.


"Sudah lama ndak ke sini, Non. Selama ini ke mana aja?"


"Haha iya, Pak. Aku sibuk ngurus anak."


"Ini anaknya Den Wikra?"


"Iya, Pak. Tapi aku belum ngasih tahu siapapun."


"Ya Allah, selama ini Non Yifei besarin anak sendiri."


Aku hanya tersenyum dan terus menarik koper, di atas koper ada kandang Miao Miao. Sementara tanganku satunya menggandeng Ahin.


Pak satpam membawakan koper dan tas ransel, dia masih tidak percaya aku bercerai dalam keadaan hamil. Berulang kali menyayangkan tindakan Wikra.


"Yifei!" Teriak Tante Zara begitu melihatku.


Wanita paruh baya itu berlari menuju halaman, langsung memelukku dengan erat hingga aku melepas koper. Aku mengusap punggungnya yang begitu merindukanku.


"Akhirnya kamu kembali, Tante udah kangen banget sama kamu."

__ADS_1


"Yifei juga kangen banget sama Tante," kataku.


Pelukan dilepaskan, aku menunduk, memperkenalkan Ahin pada neneknya.


"Si kecil imut ini siapa?" tanya Tante Zara penasaran.


"Ini putraku, Ahin. Ahin cepat salim sama Oma."


Mata kecil itu berkedip ragu, perlahan dia mengulurkan tangannya yang mungil untuk salim. Sepertinya Tante Zara menyadari sesuatu. Anak kecil yang mirip Wikra.


"Be-berapa usia Ahin?"


"Tiga setengah tahun," jawabku.


"Fei... bagaimana bisa kamu ...."


Tante Zara sadar bahwa Ahin adalah cucunya tanpa aku beritahu. Sekilas saja terlihat bahwa wajah Ahin adalah Wikra ketika kecil.


"Maaf Tante aku nggak bilang sebelumnya," kataku menunduk.


Aku tak kuat melihat mata Tante Zara yang berkaca-kaca. Dia pasti marah karena aku membawa pergi cucunya. Dia pasti kecewa.


"Aku sungguh minta maaf," ulangku. Masih dengan mata menunduk.


Tante Zara menangis, dia menunduk dan memeluk Ahin. Dia menangis tersedu.


"Ini semua salahku karena tidak bisa mendidik Wikra dengan baik."


Dari kejauhan, aku melihat Om dan Reina keluar dari pintu rumah. Mereka bingung apa yang terjadi. Aku tidak bisa berkata apapun. Mereka semua pantas menyalahkan ku.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


jangan lupa pencet like, komen, lempar bunga dan bagiin cerita ini di sosmed ya. Insyaallah ntar malem up lagi 🙏🥺


__ADS_2