Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Berkas


__ADS_3

Suasana langsung heboh setelah para pelayan memohon untuk diampuni, aku menggendong Ahin sembari melihat mereka semua dengan tatapan dingin.


"Kami hanya disuruh kepala pelayan membuat anda tidak betah di sini," kata para pelayan mulai menyalahkan Robi.


"Nona Yumna juga pergi karena ulah Robi."


"Iya, Nyonya. Dia banyak pengambil barang pemberian Tuan untuk Nyonya. Dia pernah ngambil uangnya Nona Yumna juga."


Semua mata mengarah ke Robi, termasuk aku. Wajah Robi terlihat merah, dia panik.


"Tidak Nyonya, tidak. Mereka semua bohong!"


Aku tidak tahu alasan Yumna meninggalkan rumah ini, kata Ibunya Wikra karena Yumna selingkuh. Tapi kenyataannya tidak ada yang tahu karena Wikra tidak cerita.


Aku mempererat menggendong Ahin, tidak ada salahnya mencari tahu kebenaran ucapan para pelayan. Banyak hal di masa lalu yang membuatku bingung, siapa tahu aku bisa mendapatkan jawabannya sekarang.


Kunci rumah yang menggantung di tangan Robi segera aku ambil paksa, aku berjalan cepat melewati semua orang menuju lift rumah.


"Nyonya, anda mau ke mana?" tanya Robi menahan pintu lift.


"Minggir!" Kataku sembari mendorongnya menjauh. Dia terhuyung ke samping hingga aku bisa masuk.


"Nyonya!" Teriak Robi saat pintu lift tertutup.


Aku memencet tombol lantai tiga, rumah ini sangat luas dan tinggi. Lantai satu untuk ruang tamu, dapur, kolam renang, ruang santai, garasi dan taman.


Lantai dua ruang santai, 8 kamar tidur, tempat bermain Ahin, dan lain sebagainya. Sementara lantai tiga ruang kerja, perpustakaan, bar dan ruang santai. Lantai empat aku tidak tahu apa gunanya, jarang yang naik ke sana.


Pintu lift terbuka, aku segera berlari ke ruangan Robi. Terlihat Robi naik tangga menyusulku. Aku segera mengunci pintunya setelah masuk. Napasku terengah-engah.


"Ahin mau main detektif-detektifan nggak?"


"Mau!"


"Kalau gitu sekarang Ahin cari sesuatu yang mencurigakan ya?"


"Iya!"


Ahin turun dari gendonganku, dia mulai mencari di sudut-sudut ruangan. Sementara aku langsung ke meja kerja Robi, membuka berkas-berkas di sana.


Ada sesuatu yang aku ingat di masa lalu, ketika ulang tahunku Wikra sedang dinas keluar negeri. Aku merayakan ulang tahun bersama teman-teman termasuk Ezhar untuk mengurangi rasa kesepian.


Memiliki suami yang tidak tahu hari ulang tahunku, tidak mengucapkan apalagi memberi hadiah. Aku sangat sedih padahal dia adalah orang yang paling dekat denganku.


Namun, ketika Wikra pulang dari luar negeri. Bukannya aku yang marah, malah dia yang ngamuk.

__ADS_1


"Kenapa kamu pakai gelang lain?"


"Oh ini gelang hadiah ulang tahun dari Ezhar."


"Apa? Kamu nggak menghargaiku sama sekali!"


"Kalau kamu nggak suka aku pakai ini, aku lepas sekarang," kataku.


"Kamu!"


Dia langsung marah-marah tanpa menjelaskan alasannya, menendang meja kaca hingga berserakan.


"Bunda, ini."


Aku menoleh ke Ahin, dia menunjuk lemari. Aku meletakkan dokumen yang bersih tanpa ada tanda-tanda mencurigakan.


Ahin memintaku menggeser lemari, susah payah aku mengerahkan seluruh tenaga. Di luar, Robi menggedor pintu. Setelah lemari berhasil digeser, aku menemukan pintu kecil mencurigakan. Brangkas.


"Nggak bisa dibuka, ini terkunci."


Aku mencoba semua kunci tapi nihil, pasti Robi menyembunyikan kunci brangkas rahasianya dengan baik. Kalau sampai aku tidak berhasil menemukan barang bukti, Wikra pasti marah karena aku membuat keributan.


Ahin berjinjit, dia mengambil jepit rambutku yang berada di sanggul belakang. Dia mengotak-atik knop kunci.


Balita berusia 3,5 tahun itu tampak serius. Dia seperti pembobol pintu yang ahli.


"Ain bica."


Pintu brangkas berhasil dibuka, terlihat uang tunai, berlian dan surat-surat penting. Aku lantas mengambil berkasnya, memeriksa keuangan yang selama ini dia pegang.


Benar saja, Robi korupsi. Dia mengambil banyak sekali. Aku langsung mengecek keuangan 4 tahun lalu. Tertulis Wikra sebenarnya memberikan gelang hadiah ulang tahun dan kue.


Pantas saja Wikra marah, aku tidak mengucapkan terima kasih dan malah memakai gelang dari pria lain.


"Robi, dia benar-benar keterlaluan!"


Aku segera menelepon Wikra, memintanya segera pulang karena hal yang mendesak. Menjelaskan secara cepat bahwa butuh perlindungan dari Robi yang ketahuan korupsi.


Tak lama kemudian suara Rudi, satpam rumah terdengar menggantikan ketukan pintu dari Robi.


"Nyonya, kami sudah mengamankan Robi. Bisakah anda keluar?"


Sekarang aku tidak bisa percaya dengan siapapun, para pelayan saja menutupi perbuatan Robi. Pasti mereka mendapatkan bagian dari uang korupsi.


"Aku akan keluar kalau Wikra sudah datang," jawabku.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan berjaga di sini."


Aku terduduk di lantai, menarik Ahin supaya duduk di pangkuanku. Bocah cerdas ini berhasil membantu ibunya. Pipinya yang gembul membuatku menciumi gemas.


Matanya yang sipit menutup, tidak protes sekalipun merasa risih karena bibirku yang menciuminya.


"Terima kasih sayang," kataku memeluknya erat.


"Macama," jawabnya.


Dia tampak tidak panik atau takut dengan keadaan ini, malah terlihat senang karena mungkin dia merasa ini permainan.


Di masa lalu ternyata banyak kesalahpahaman, aku tidak menyangka ternyata Wikra perhatian padaku dan tidak melupakan ulang tahunku. Walaupun terlambat aku harus meluruskan kesalahpahaman ini.


Setengah jam kemudian suara Wikra terdengar, dia mengetuk pintu.


"Fei, aku udah pulang."


"Iya," jawabku sembari berdiri menggendong Ahin.


Aku segera membuka pintu, terlihat wajah Wikra cemas.


"Apa kalian baik-baik aja? Sebenarnya apa yang terjadi?"


Aku mengulurkan berkas korupsi Robi, membuka tepat di bagian Robi mengambil uang gelang hadiah ulang tahun dan membuat kami saling salah paham.


"Terima kasih untuk niatmu memberikan hadiah ulang tahun," kataku. Sembari tersenyum.


"Eh, apa maksudmu?"


Wikra mengambil berkas yang aku ulurkan, dia membacanya dengan seksama dan wajahnya berubah terkejut.


.


.


.


.


bersambung


maaf ya gaes. kemarin gk up Krn aku teledor gk ngesave padahal udah diketik tinggal up. ini aku harus ketik ulang ༎ຶ‿༎ຶ


jangan lupa pencet like, komen, lempar bunga dan bagiin cerita ini di sosmed kamu ya. makasih banyak

__ADS_1


__ADS_2