Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Season 1 selesai


__ADS_3

Mereka terjebak dalam luka, hubungan yang dilandaskan kebohongan selalu mengalami rasa pahit. Mereka mencintai tanpa tahu apapun. Terjun bebas hingga terbentur kenyataan.


Yifei dari dulu tahu bahwa mencintai Wikra adalah luka, sementara Wikra baru paham apa itu rasa sakit. Ia terlambat. Sekarang ia sudah jatuh terlalu dalam hingga tidak bisa mencapai permukaan lagi.


Wikra memejamkan matanya, hatinya begitu sakit sampai tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata. Padahal impiannya baru dibentuk dan dirangkai.


"Jadi, kamu menderita kanker hati stadium akhir?" tanya Wikra memastikan.


"Benar, kondisiku akan memburuk beberapa bulan ke depan."  Yifei menjawab dengan pasti.


"Ini pasti bohong!" Teriak Wikra, dia menyobek kertas yang baru diberikan dokter.


Mereka berhadapan, disaksikan semua pelayan termasuk Ahin. Bocah kecil itu berhenti main dengan kucingnya dan melihat kedua orang tuanya bertengkar.


Wikra tampak kalut, dia mencengkeram kuat kedua bahu Yifei. Menatap netra yang tenang. Wanita itu seperti tahu bahwa suatu saat Wikra akan melakukan ini padanya.


"Cepat bilang kalau ini bohong!"


Bukannya menjawab, Yifei malah membuang pandangannya, membasahi bibir dan mengambaikan amarah Wikra.


"Fei!" Bentak Wikra. Matanya penuh amarah.


Yifei masih diam seribu bahasa, arti diamnya adalah iya.


"Jadi setahun yang kamu maksud bukan belajar di luar negeri tapi meninggal?" tanya Wikra. Matanya berair tanpa mampu dicegah.


Pria itu memejamkan mata, dadanya terasa amat sakit.


"Kenapa kamu nggak bilang dari awal?"


Kali ini Yifei mau menjawab. "Karena dari dulu kamu nggak peduli apakah aku mati atau nggak. Untuk apa aku bilang?"


"Yifei!" Teriak Wikra lagi.


Mata mereka bertemu, Wikra tampak sangat kecewa karena dari awal Yifei berbohong.


Tidak, sebenarnya dia juga berbohong. Dulu ketika ia melamar Yifei, ia berpikir untuk menyingkirkan wanita itu setelah mendapat hak asuh Ahin.


Keinginannya terkabul dengan sendirinya, tapi kenapa rasanya sesakit ini? Jangankan bahagia, Wikra malah merasa sekarat. Sakitnya tidak mampu diungkapkan lewat kata-kata.


"Kamu sendiri yang bilang nggak akan pernah jatuh cinta sama aku, bukankah kamu mau menikah lagi cuma karena Ahin?" tanya Yifei.


Benar, semua tuduhan itu memang pernah ada di pikiran Wikra.


"Sekarang beda, apa kamu masih nggak bisa lihat kalau aku sayang banget sama kamu? Gimana bisa kamu mau pergi ninggalin aku kayak gini?"

__ADS_1


Wanita di hadapannya sangat jahat, dulu pergi membawa kenangan. Sekarang datang lagi membawa cinta. Setelah dia mendapatkan separuh jiwanya malah akan pergi selamanya.


"Papa!" Teriak Ahin. Dia berlari menghampiri mereka. "Ngan cakiti Mama!"


Wikra melepaskan tangannya di bahu Yifei. Menunduk melihat Ahin.


"Bukan Papa yang nyakitin Mama, tapi Mamamu yang udah menyakiti Papa." Wikra memukul dadanya sendiri.


Dia kesulitan bernapas, terasa udara yang biasa dihirup menghilang.


Yifei memalingkan wajahnya, tidak mau melihat ekspresi Wikra yang kecewa.


"Maaf," ucap Yifei lirih. "Maaf nggak ngasih tahu."


Maaf wanita itu telah terlambat, Wikra terlanjur jatuh cinta sangat dalam. Mimpinya hidup bersama sebagai keluarga sudah terbangun layaknya istana.


Wikra meninggalkan Yifei, dia pergi dari rumah hingga malam. Kembali ke kehidupan dulu, minum alkohol dan merokok. Dia ke diskotik.


Di sana ia minum seperti orang gila, berusaha menghilangkan rasa sakit di dadanya. Hanya saja, semakin berusaha dihilangkan, malah semakin teramat sakit.


"Sakit," kata Wikra memukul dadanya sendiri.


Dia tidak peduli di belakangnya banyak orang menari di bawah lampu disko. Sudah habis lima gelas tapi ia belum mabuk.


Wikra menunduk, air matanya menetes hingga membuat bartender heran. Bahunya bergetar. Ia terisak. Patah hati terberat dalam hidupnya ketika dokter mengatakan hidup Yifei tidak lama lagi.


Wikra menangis di sana hingga orang-orang heran, air mata itu mengalir begitu saja tanpa mampu dibendung.


Sementara itu Yifei menunggu di rumah hingga jam dua belas malam, menelepon Wikra terus menerus. Hingga akhirnya ia putuskan untuk keluar mencari sang suami.


"Dasar bodoh," ucap Yifei setelah menemukan Wikra mabuk di bar.


"Ayo pulang," kata Yifei berusaha membuat Wikra bangun.


Tapi Wikra menolak dan tetap ingin tidur di sana. Terpaksa Yifei meminta beberapa pelayan mengangkat Wikra ke mobil. Wanita itu menyetir sendiri tanpa sopir.


Ia menjalankan mobil itu di jalanan Jakarta yang lenggang. Dia ke daratan tinggi, memberhentikan mobil di sana dan keluar. Ia geram dengan Wikra yang kembali mabuk-mabukan.


Kalau Wikra kembali seperti ini lagi, bagaimana dia bisa meninggalkan Ahin?


.....


Udara Jakarta jam setengah dua pagi terasa segar, Yifei menyenderkan punggungnya di badan mobil. Dia bingung harus bagaimana menghadapi Wikra.


Tak lama kemudian Wikra keluar dari mobil dan muntah di pinggir jalan, Yifei tidak membantunya. Dia masih geram dengan kelakuan Wikra yang bodoh.

__ADS_1


Tampaknya Wikra sudah sedikit lebih sadar setelah muntah, ia meludah dan mengambil air mineral di mobil. Yifei hanya mengamatinya.


Setelah minum Wikra bersandar di tiang listrik. Mengelap bibirnya dengan tangan dan memandang gemerlap kota Jakarta.


Yifei berjalan mendekat tanpa melihat wajah Wikra.


"Aku tahu kamu marah dan kecewa, tapi aku nggak bisa membenarkan kelakuanmu sekarang."


Di surat kontrak, Wikra dilarang mabuk-mabukan apapun alasannya.


"Selain mabuk, kamu pikir gimana cara ngilangin rasa sakit di sini?" tanya Wikra menunjuk dadanya.


Yifei tidak langsung menjawab, udara dingin menerpa wajah mereka. Rasa kantuk menghilang.


"Hidup lama atau sebentar itu sama saja, semua orang akan mati. Apa kamu pikir kalau aku hidup sampai tua kita tidak akan berpisah?"


Wikra diam.


Yifei melanjutkan. "Katanya kamu pinter, genius? Apa kamu nggak pernah mikirin gimana perasaanku lihat kamu kayak gini?"


Dulu Yifei tidak pernah mengomelinya walaupun pulang dalam keadaan mabuk, sekarang Yifei bahkan menariknya dari bar.


"Dengar, saat ini pilihanmu cuma ada dua, Mas. Usahain aku sembuh, cari pendonor bagaimanapun caranya atau lepasin aku dengan kebahagiaan."


Yifei mendekat, dia menepuk bahu Wikra. Pria itu langsung memeluk erat. Wikra sangat takut kehilangan wanita yang sangat dicintai.


"Aku akan membuatmu sembuh sekalipun harus mencari pendonor ke ujung dunia," jawab Wikra, membuat keputusan.


Sejak saat itu mereka rutin ke rumah sakit, berkonsultasi dengan dokter. Yifei masih tetap menolak dirawat, dia ingin dokter pribadi merawatnya di rumah. Supaya bisa bermain dengan Ahin dan tetap melihat Wikra setiap hari.


Sementara Wikra, dia mengumpulkan banyak data dari berbagai rumah sakit. Mencari pendonor yang cocok untuk istrinya.


Wikra yang dulu begitu abai, egois dan tidak peduli pada orang lain. Kini berubah. Dia ingin menembus kesalahannya pada Yifei 4 tahun lalu dan menyelamatkan wanita itu.


.


.


.


.


makasih udah nemenin Wikra, Yifei dan Ahin selama season 1. Season selanjutnya masih dipersiapkan. Info up aku bagiin di Instagram ku @ka_umay8


sekali lagi makasih banyak buat dukungannya.

__ADS_1


oh ya temen" bisa gabung di channel telegramku, ketik aja nama channel ku Dimensi Halu, klik yang ada profilku. trus gabung deh. di sana nanti aku bagiin side story (kisah tersembunyi yang gk ada di novelnya) dari semua novelku termasuk Ahin


__ADS_2