
Alkairo menjambak rambut dengan kasar ketika dia tidak bisa masuk ke dalam ruang UGD.
Sedangkan Andrian sendiri sudah kalang kabut ketika Alkairo menelfon nya tadi. ''Kenapa bisa sampai seperti ini sich?'' gumam Andrian yang sudah berlari menuju ke mobil yang ada tak jauh darinya.
''Tuan Andrian kenapa lari lari begitu,'' tanya sang asisten kepada bos nya.
''Aku harus segera ke rumah sakit sekarang, adik kembarku tiba-tiba sakit,'' jawab Andrian dengan menutup pintu mobilnya dan mulai melajukan mobilnya, guna ke rumah sakit yang kira kira butuh 2 jam lamanya untuk sampai di sana.
Sang asisten hanya terdiam menatap kepergian bos muda nya. ''Kenapa Tuan Andrian terlihat buru buru sekali,'' tanya salah satu mandor yang juga sedang mengontrol proyek besarnya.
''Adik kembarnya masuk ke rumah sakit, tapi tadi pagi aku melihat Nona Riana baik baik saja, tapi kenapa sekarang malah masuk ke rumah sakit,'' ujar sang asisten pribadi nya panjang lebar.
''Semoga adiknya tidak apa apa ya Pak,'' sahut sang mandor menatap kepergian bos nya.
Setibanya di rumah sakit, Andrian melemparkan kunci mobilnya ke salah satu satpam yang ada di rumah sakit.
Dengan sangat buru buru dia melangkah menuju resepsionis untuk bertanya ada di ruangan mana sang adik saat ini.
Tap tap tap
''Andriana dirawat di ruangan apa?'' tanya nya dengan nafas yang masih memburu. Dadanya kini naik turun karena dia sedari tadi berlari agar dia cepat sampai di rumah sakit, tempat sang adik di rawat.
''Pasien atas nama Nona Riana, masih ada di UGD Tuan, anda bisa mengikuti lorong ini lalu belok kiri,'' jawab resepsionis yang berjaga.
''Terima kasih,'' kata Andrian melangkah pergi menuju lorong yang di tunjuk resepsionis tadi.
Andrian bisa melihat Alkairo yang mondar-mandir nggak jelas di depan UGD yang sedang menunggu Riana.
__ADS_1
''Bagaimana keada'an adik saya bro,'' tanya Andrian dengan nada yang begitu khawatir, mengingat dirinya tidak punya sanak saudara yang ada di New York saat ini.
Alkairo hanya menggeleng pelan ketika di tanya oleh sahabat nya. ''Dokter nya belum keluar, Riana masih di periksa di dalam,'' jawab Alkairo menatap pintu yang masih tertutup rapat.
Tak lama kemudian, pintu di buka dari dalam dan nampak lah seorang dokter wanita di akbang pintu. Alkairo dan juga Andrian langsung datang menghampiri sang dokter dan bertanya.
''Bagaimana keada'an adik saya dokter,'' tanya Andrian mendahului Alkairo.
''Iya dokter, bagaimana dia saat ini,'' sambung Alkairo dengan wajah yang susah di tebak.
''Nona Riana baik baik saja, namun tensi dia sangat rendah, kurangi tidur terlalu malam, dan juga Nona Riana harus menjaga makanan nya,'' jelas nya, yang langsung di angguki oleh Andrian dan juga Alkairo.
''Baik dokter,'' jawab Andrian dan Alkairo hampir bersama'an.
''Setelah ini Nona Riana akan di oindahkan ke kamar seperti perminta'an Tuan Alkairo,'' ujar sang suster yang mengikuti dokter wanita tadi.
10 menit menunggu di luar kini Riana sudah di dorong dari ruangan UGD dan akan di pindahkan ke ruangan VVIP perminta'an Alkairo tadi.
Alkairo dan Andrian mengikuti brankar yang di dorong ke ruangan VVIP yang ada di lantai 3.
Saat Riana di pindahkan ke ruangan VVIP dia sudah sadar dan menatap ke arah Alkairo yang terlihat sangat frustasi. 'Kenapa, di saat seperti ini dia malah ada di dekat ku, kenapa dia harus menolong aku tadi,' gumam Riana yang masih menatap wajah Alkairo dan juga wajah sang kakak.
''Kak?'' Riana memanggil sang kakak dengan suara lirih nya.
''Tunggu sampai kita di ruangan kamu,'' jawab Andrian dengan mengelus puncak kepala sang adik yang terbaring lemah.
Riana mengangguk pelan dan memejamkan matanya sejenak merasakan rasa sakit yang mulai menjalar di perut nya, penyakit yang ia derita dulu. 'Ya Allah, kalau aku sakit begini jadi kangen sama Mama dan juga Papa di rumah,' batin nya.
__ADS_1
''Kak? Riana mau pulang saja,'' Ucap nya dengan nada lirih nya.
''Kamu masih harus di rawat di sini dulu dek, makanya kamu jangan bandel jadi gadis! dini hari baru tidur, dan inilah akibat nya karena tidak mau mendengarkan ucapan kakak nya,'' omel Andrian ketika mengingat sang adek yang kemarin hingga pukul 3 dini hari menyelesaikan pekerja'an nya.
''Riana masih sakit saja masih saja di omelin begitu,'' rengek Riana dengan memalingkan wajah nya ke arah jendela yang ada di kiri badan nya, namun Riana malah bersi tatap dengan wajah tampan laki-laki yang baru beberapa bulan ia kenal.
Riana segera memalingkan pandangan nya dengan menatap langit langit kamar inap nya, ''Asal kak Rian tau, aku tuh tidak betah di sini. Dan lagi ini- sungguh menyakitkan buatku kak,'' ujar Riana yang masih ngambek dengan Rian sang kakak.
''Kak, Riana kangen Mama?'' gumam Riana yang kini menatap ke arah kakak nya yang memilih duduk di sofa yang berada tak jauh darinya.
''Kamu mau ngasih kabar hari ini juga, kalau kamu sedang di rawat di rumah sakit. Dan membuat Mama dan juga Papa datang kesini dengan tergesa-gesa githu,'' sahut Andrian menebak isi pikiran dari adek nya.
''Sebenarnya, Riana ingin pulang dan berkumpul dengan Mama dan juga Papa di rumah kak?''
''Terus bertemu dengan laki-laki breng*sek itu lagi!'' Andrian mulai kesal mendengar semua ucapan sangat adek yang mengatakan ingin pulang ke rumah nya. Memang nya di sini kenapa? aku sudah sangat hati hati menjaga perasa'an kamu selama ini, tapi kamu malah masih memikirkan laki laki bej*at itu. Pikir Andrian, yang kini beranjak dari duduk nya dan berjalan ke luar ruangan yang selalu ia tempati jika sedang merasa sedih.
Alkairo hanya menatap perdebatan wanita pujaan nya dengan sang kakak ipar. 'Terserah kalian sajalah, mau nerusin dan enggak nya,' batin Alkairo
''Kak Al, sebelum nya saya ucapkan banyak terimak kasih, karena sudah mau membawa Riana ke rumah sakit,'' ucap Riana dengan lemah.
Riana juga merasa tak enak hati dengan perlakuan sahabat kakak nya, menit Riana Alkairo terlalu baik kepadanya.
'Ya Allah, hamba masih tidak bisa melupakan kejadian waktu lalu, dan sekarang muncul lagi sosok laki-laki yang membuat aku merasa nyaman selama berada di dekatnya. Tapi hamba mohon kalau hamba belum siap menerima laki-laki untuk saat ini,' gumam Riana pelan, sehingga Alkairo yang ada di dekatnya tidak mendengar gumaman Riana itu sendiri.
Terima kasih yang sudah mampir di karyaku, semoga suka dan jangan like, komen dan favorit kan ya kak?
Terima kasih πππππππππ
__ADS_1