CEO Cantik Adalah Istriku

CEO Cantik Adalah Istriku
8.CCAI 08


__ADS_3

Hari senin adalah hari tersibuk bagi semua orang yang bekerja, termasuk Riana dan juga Andrian.


Sesudah sholat subuh Riana bergegas ke dapur karena akan membuatkan sarapan untuk sang kakak dan juga dirinya.


Rian yang juga sudah selesai sholat berjalan menghampiri sang adik yang sedang berjibaku dengan alat masak dan juga bahan bahan yang lain.


Tak butuh waktu lama Riana kini sudah menyelesaikan masakan nya, karena dia tau betul kakak nya sudah menunggu di meja makan.


Sedangkan Rian sendiri sudah sibuk dengan laptop di pangkuan nya dengan teh hangat yang sudah terhidang di atas meja nya.


Riana selalu membuatkan sang kakak teh hangat, atau juga coklat hangat seperti kebiasaan dirinya sendiri.


''Sarapan dulu kak?'' ujar Riana yang sedang menaruh piring di atas meja makan nya.


''Memang nya sudah selesai,'' tanya Rian dengan mengerutkan kening nya, pasalnya sang adik baru saja masuk ke dalam dapur mininya.


''Kalau belum selesai, terus ngapain aku nyuruh kak Rian untuk sarapan coba,'' sahut Riana yang kini memiliki duduk di ruang makan.


Rian yang penasaran terpaksa menaruh laptop nya dan berjalan menghampiri sang adik yang sudah siap untuk sarapan. Memang sebelum berangkat kerja Riana dan juga Rian selalu menyempatkan sarapan di apartemen nya.


Riana dan juga Rian memang terlahir dari keluarga yang di kelilingi dengan kemewahan, namun semua itu tak memungkiri kalau Riana dan juga kakak kembarnya selalu hidup sederhana, dan lebih memilih merakyat dari pada memperlihatkan kekaya'an yang buat mereka berdua hanyalah sebuah titipan dari sang Ilahi saja.

__ADS_1


''Dek, kakak akan kerja di luar hati ini. Jadi kamu yang handle semua pekerja'an ku di kantor. Dan nanti siang akan ada Alkairo yang datang ke kantor untuk menandatangani kontrak yang akan di kerjakan satu bulan lagi,'' jelas Rian dengan menyendok nasi dan meletakkan di atas piring nya, bersama lauk pauk yang memng kesuka'an nya.


''Baiklah kak, kak Rian memang selalu begitu kalau Alkairo datang ke kantor untuk membahas pekerja'an, kamu selalu tidak ada di kantor. Apa jangan jangan kak Rian punya niat terselubung dengan Alkairo,'' tanya Riana mulai menyelidik sang kakak. Karena akhir akhir ini selalu Riana yang menemui klien klien laki-laki nya.


''Kak Rian nggak usah jodoh jodohin aku seperti itu lagi, Riana trauma kak?'' kata Riana dengan suara lirih nya, sedangkan kelopak matanya sudah memupuk air mata di sana, Riana mencoba menahan air mata nya agar tidak terjatuh di depan sang kakak.


''Maaf kan kakak dek. Bukan maksud kakak begitu? tapi kakak sekarang benar-benar harus datang ke proyek, karena di sana sedang ada masalah. Kakak tidak pernah ada niatan untuk menjodoh jodohkan kamu, seperti yang di lakukan orang orang kemarin,'' jawab Rian dengan beranjak dari duduk nya. Rian mengelus bahu sang adek yang sudah bergetar karena tangis yang sudah pecah ketika di samperin oleh kakak nya.


''Jangan ingat ingat lagi soal masalah yang kemarin, karena kamu tidak seharusnya mendapatkan penderita'an ini. Kamu berhak bahagia,'' bisik Rian dengan memeluk sang adek, memberikan sebuah kekuatan agar dia bisa bangkit dan mendapatkan laki-laki yang benar-benar baik dan juga iklas menyayangi sang adek. do'a Rian dalam hati.


Riana menghapus air mata nya dan tersenyum pada sang kakak. ''Kak Rian makan lagi, maaf kalau Riana ganggu makan kakak?'' gumam Riana memegang punggung tangan Rian.


Tian mengangguk dan kembali ke tempat nya semula. ''Nggak apa apa kan kalau kakak tinggal sendirian di kantor,'' tanya Rian memastikan sang adek.


''Kamu yakin?'' tanya Rian memastikan ucapan sang adek.


''Iya kak, lagian Riana juga belum siap siap kok? biarin saja telat, cuma bertemu dengan Al saj kok,'' ucap nya dengan santai dan meneruskan suapan nya.


''Heyyy, jangan mentang mentang jadi bos, kamu malah seenaknya ya,'' tegur sang kakak.


Selesai sarapan Rian langsung berangkat, sedangkan Riana kembali ke kamar nya untuk mengganti baju dan berangkat ke kantor nya dengan menggunakan taksi online yang sudah ia pesan tadi.

__ADS_1


Riana menatap gedung gedung yang menjulang tinggi tak kalah dengan gedung perusaha'an ayah nya yang ada di Jakarta. Mengingat sang Ayah kini Riana di landa kerinduan yang sangat besar, memang mereka selalu menghubungi orang tuanya yang saat ini berada jauh dari nya, tapi rasa kangen nya tidak bisa di pungkiri.


''Papa, bagaimana keada'an Papa dan juga Mama sekarang?'' gumam Riana pelan, tapi masih di dengar oleh sang sopir taksi. Tak terasa air mata nya menetes begitu saja tanpa ia sadari.


Sang sopir yang melihat dari kaca spion di atas nya, memberikan tissu kepada Riana, ''Maaf Nyonya,'' ucap nya dengan menyodorkan tisu ke arah nya.


''Terima kasih Pak?'' balas Riana dengan tersenyum kecut. 'Kamu cengeng banget sich Ria, cuma kangen Mama dan Papa saja kamu menangis di depan orang lain,' gumam Riana dalam hatinya.


''Sama sama Nyonya, memang nya Nyonya asalnya dari mana,'' tanya sang sopir dengan hati hati.


''Saya dari Indonesia Pak, kebetulan saya di sini ada pekerja'an bersama saudara kembarku,'' jelas nya, tak lupa juga mengulas senyum dengan sang sopir taksi.


''Nyonya yang sabar ya, mungkin besok atau lusa Nyonya bisa datang dan bertemu dengan orang tua Nyonya di sana,'' katanya dengan ramah. ''Bapak juga orang Indonesia juga, tapi orang tua Bapak sudah tidak ada semua, jadi Bapak lebih betah tinggal di sini, daripada tinggal di Indonesia yang hanya mengingatkan Bapak kepada kedua orang tua Nyonya,'' cerita sang sopir taksi yang di angguki oleh Riana.


''Terima kasih Pak, dan semoga keluarga Bapak di terima amal ibadah nya dan di yempatkan di surganya Allah,'' dengan rasa ikhlas Riana mendoa'kan keluarga sopir taksi tersebut.


''Terima kasih neng?'' jawab sang Bapak sopir dengan bahagia.


Perjalanan dari apartemen nya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke perusaha'an nya. Kemarin Andrian merekomendasikan apartemen yang dekat dengan perusaha'an nya, namun Riana menolak, karena dia sudah sangat betah dengan tinggal di apartemen yang dulu, selain nyaman di sana juga banyak kenangan di dalam nya.


Di saat kuliah dulu Papa dan juga Mama nya datang dan menginap di sana, ada kebahagiaan tersendiri di apartemen yang sudah sangat lama ia tinggali itu.

__ADS_1


Riana membuka pintu taksi dan langsung di sambut satpam yang begitu ramah menyapanya. ''Selamat pagi Nyonya,'' sapanya dengan ramah.


__ADS_2