CEO Cantik Adalah Istriku

CEO Cantik Adalah Istriku
Bab 24. CCAI 24


__ADS_3

Kini kebahagia'an menyelimuti keluarga besar Sanjaya, di mana di sana semua cucu dan juga cicit berkumpul menjadi satu, rumah yang biasanya hanya di tinggali oleh kakek Sanjaya, Cinta dan Fabian beserta kedua puteri nya, kini tiba tiba penuh dan sesak oleh kehadiran semua orang yang berkumpul di dalam rumah besar nya.


Di tambah lagi Alkairo dan kedua orang tuanya yang juga hadir, ikut memeriahkan hari jadi tuan besar Sanjaya yang sudah 70 tahun.


Kakek Sanjaya sangat terharu melihat kekompakan yang di perlihatkan oleh anak, menantu, cucu dan juga cicitnya yang masih lumayan kecil.


''Selamat hari jadi kakek, semoga kakek selalu di limpahkan kesehatan dan juga umur panjang sampai cicitnya mempunyai suami dan juga anak,'' Ucap Sania yang paling heboh dengan ulang tahun sang kakek, meski penampilan Sania sederhana? namun terlihat elegan dan begitu anggun dengan baju muslim yang ia pakai saat ini.


Tak banyak berubah dengan Sania selama ini, namun dia bertambah blak blakan di dalam tutur katanya, membuat semua keluarga nya tertawa dengan hal yang di lakukan oleh Sania.


''Cucu kakek yang paling nakal dan juga petakilan ini, terima kasih banyak ya sudah mendo'akan kakek selama ini..'' kakek Sanjaya menjeda ucapan nya yang akan ia utarakan kepada sang cucu dari putera sulung nya yang sudah lama tiada. ''Kado buat kakek mana?'' kakek Sanjaya menengadahkan kedua tangan nya meminta kado dari sang cucu, membuat semua orang tertawa melihat nya.


''Yaelah kek, ujung ujungnya juga kado yang di minta,'' jawab Sania yang berjalan ke arah sang Bunda, dia mengambil Kenan dari tangan sang Bunda dan berjalan menghampiri sang kakek kembali dengan memberikan Kenan kepada kakek Sanjaya.


Kakek Sanjaya melotot ketika melihat balita laki-laki di tangan nya seraya berkata, ''Apa ini?''


''Ini kado buat kakek, kado yang tak akan terlupakan oleh kakek? kalau kado lainnya kakek bisa membelinya sendiri, toh uang kakek banyak kan?'' jawab Sania dengan santainya, membuat Andriana yang berdiri tak jauh dari sana melotot di buatnya, karena balita yang di kasih kan kepada sang kakek adalah seorang anak yang sudah di akui anak oleh nya.


''Enak saja Kenan di kasih sama kakek, ini anakku,'' Ucap Riana yang kini sudah mengambil alih Kenan di pelukan nya.


''Yaelah kak Ria? kak Ria kan bisa bikin sekarang, kenapa harus Kenan yang di akui sebagai anaknya kakak sich, sebel dech?!'' Sania merajuk di depan sang kakek dengan mengharap sang kakek membelanya, tapi di luar duga'an nya. Kakek Sanjaya malah membela Riana yang kini tengah menggendong Kenan.

__ADS_1


''Kamu bawa pulang saja itu Kenan, dia kan sudah jadi anak kamu sekarang? jadi mulai sekarang kamu rawat sendiri saja di rumah,'' sahut kakek Sanjaya kepada Riana.


''Kakek, itu anak Sania? kenapa harus di bawa kak Riana sich?'' Sania mencebikkan bibir nya mendengar jawaban sang kakek. ''Lagian kak Ria juga sudah menikah, dan otomatis dia akan segera memiliki anak? lagipula iya kalau kak Alkairo setuju mau mengasuh Kenan di rumah nya,'' tambah nya lagi.


Alih alih mendapatkan dukungan dari lainnya, kini malah Alkairo juga ikut ikutan mengatakan kalau dia tidak keberatan sama sekali untuk mengasuh Kenan kecil.


''Saya sama sekali tidak keberatan untuk mengasuh nya dek, malah saya sangat senang jika adek dengan rela dan juga ikhlas buat kami membawa Kenan ke kota kami lusa,'' jawab Alkairo dengan lantang.


Arlan yang sudah tidak tega melihat sang istri yang kini tengah di goda langsung menghampiri dan membelanya juga.


''Enak saja, aku bikin nya susah itu,'' sambung Arlan yang mengundang gelak tawa keluarga lainnya.


''Benar benar pasangan yang komplak banget,'' seru lain nya yang juga ikutan gemas dengan ucapan Arlan barusan.


''Mas Arlan sich ngomong gitu, jadi kita lagi kan yang kena?'' Sania berbisik di telinga sang suami.


''Lagian kamu juga sich, pakek acara ngasih Kenan segala pada kakek, kalau gini gimana,'' balasnya dengan balik berbisik, ''bukan nya berterima kasih, malah mas lagi yang di salahin,'' gerutu Arlan yang tak terima dia di salahkan lagi oleh sang istri.


''Sudah sudah, kalau berdebat kayak gini terus, kapan acaranya di mulai sich? lagian malu juga di lihatin mertua dari kakak kamu itu,'' seru tante Cinta yang sudah membawa sang Papa ke dapan meja besar, di mana di sana sudah ada sebuah kue yang amat besar dan juga nasi tumpeng.


Tanpa adanya nyanyian selamat ulang tahun, acara pun kini di mulai dengan berdo'a bersama agar kakek Sanjaya di beri umur panjang, kesehatan dan juga rezeki yang terus mengalir seperti air.

__ADS_1


Kakek Sanjaya memotong kue nya dan langsung di berikan kepada menantu pertama nya, yang sudah ia anggap sebagai pengganti putera nya yang sudah tiada.


Tidak seorang pun yangerasa iri dengan perlakuan Papanya kepada kakak ipar nya, karena mereka semua sudah pada tau kalau Papa nya menganggap Bunda Wati sebagai pengganti kakaknya.


''Terima kasih Pa,'' Ucap Bunda Wati yang di angguki oleh kakek Sanjaya.


Potongan kedua ia berikan kepada Citra dan potongan ketiga di berikan kepada puteri bungsu nya yang bernama Cinta.


Mereka semua terharu melihat semua itu, namun ada seseorang yang belum mengerti dengan potongan kue yang harus di berikan kepada Bunda Wati.


''Bunda Wati itu siapa sayang?'' tanya Mama Alkairo kepada Riana dengan berbisik.


''Bunda Wati istri dari putera sulung kakek Ma, tapi beliau sudah lama meninggal? jadi setiap kakek merayakan hari jadinya, potongan kue pertama selalu di kasih kepada Bunda Wati,'' balas Riana dengan senyuman yang mengembang di bibir nya, ketika melihat keakraban semua keluarga nya.


''Bunda Wati, Bunda dari siapa,'' tanyanya lagi yang memang jiwa keponya sudah bangkit sedari tadi, sejak perdebatan antara mereka berdua di mulai.


''Bunda Wati, Ibu dari kak Karan dan juga Sania?'' sahutnya seraya mengajak Kenan bercanda.


''Mama senang lihat keluarga kamu sayang, mereka semua tidak merasa iri dengan lainnya, tidak seperti keluarga Mama yang hanya membahas soal warisan terus,'' gumam Mama Alkairo dengan nada lirih nya.


''Mereka semua sudah sepakat dengan semua nya Ma, tidak boleh saling iri dengan usaha masing-masing, karena kakek sudah memberikan semua anak dan juga cucu nya sebuah perusaha'an, agar mereka semua bisa menikmati hasil jerih payah nya,'' Riana menjelaskan semuanya, kepada sang mertua? agar nantinya tidak ada kesalah-pahaman.

__ADS_1


__ADS_2