
Andriana sungguh sangat beruntung mempunyai suami dan juga mertua yang begitu baik kepada nya dan juga menerima Riana dengan segala kekurangan nya.
Malam ini Mama Nathalie sudah masakan yang begitu banyak untuk acara penyambutan sang menantu yang baru tadi pagi datang.
''Ayo makan malam sayang?'' ajak Mama Nathalie kepada Riana yang sudah turun dari kamar nya.
Riana hanya mengulas senyum di bibir nya sembari mengangguk pelan kepada sang mertua.
''Makanan nya banyak banget Ma,'' seru Riana ketika melihat meja makan yang sudah di penuhi berbagai macam masakan, masakan tersebut sebagian hasil dari Mama Nathalie dan juga koki di rumah besar itu.
''Mama sengaja masak banyak, untuk menyambut kedatangan kamu ke rumah ini, dan Mama senang banget tau nggak sayang?'' sahut Mama Nathalie dengan senyuman yang paling manis yang pernah Riana lihat dari beberapa orang tua yang ia lihat sebelum nya.
''Oia, suami kamu mana sayang, kok belum turun juga,'' tanya Mama Nathalie seraya melihat ke arah tangga, berharap putera nya datang dan makan malam segera di mulai.
''Tadi Mas Al di panggil Papa Ma, mungkin masih di ruangan kerjanya,'' jelas Riana, sesekali dia juga menatap ke arah tangga, berharap suaminya segera turun dan menuju ke meja makan, karena sebenarnya Riana sudsh sangat lapar sejak tadi dia berbohong kepada suami dan juga Mama mertua nya, kalau dirinya masih kenyang.
''Kebiasa'an banget dech tuh orang,'' gerutu Mama Nathalie yang sudah tak sabar ingin makan malam bersama. Tak lama kemudian kedua pria beda usia itu berjalan menuruni anak tangga dengan gagah nya, apalagi dengan Papa Alkairo yang masih terlihat sangat tampan dengan umur yang sudah menginjak kepala 5 itu.
''Ayo cepat jalan nya, kalian berdua tega banget ya sama menantu Mama,'' seru Mama Nathalie yang sedikit berteriak ke arah laki-laki yang sedang berjalan menuju meja makan.
''Apa sich Ma, Mama kebiasaan banget sich, selalu teriak teriak nggak jelas seperti itu, nggak malu dengan kehadiran menantu kita di sini,'' tegur suaminya Mama Nathalie, yang menunjuk ke arah sang menantu yang sejak tadi hanya diam tak ikut nimbrung.
__ADS_1
''Kalian itu tega tau nggak, sejak tadi menantu Mama sudah kelaparan menunggu kedatangan kalian berdua, bukan nya minta maaf malah balik ngomel sama Mama,'' tukas Mama Nathalie dengan ketus dan juga sedikit meninggikan suara nya.
''Sayang, kamu sudah lapar?'' tanya Alkairo menatap sang istri yang tertunduk malu, mungkin di saat perut Riana berdendang Mama Nathalie mendengar dan dia mengambil kesimpulan kalau dirinya sedang kelaparan.
'Duch malu banget tau nggak sich,' gumam Riana di dalam hatinya yang masih terus menundukkan kepalanya.
''Sudah sayang, jangan malu malu seperti itu lagi, kita di sini keluarga kamu juga kok, harus nya tadi kamu bilang kalau sudah lapar, dan tak seharus nya menunggu kita berdua,'' gumam Papa Alkairo dengan sangat lembut, membuat Riana meleleh mendengar nya.
''Al, kamu ambilkan istri kamu makanan sekarang,'' suruh Mama Nathalie kepada sang putera yang langsung tanggap melayani Riana.
''sudah Mas, aku bisa sendiri kok? lagian juga tidak pantas seorang suami malah melayani istri nya,'' tolak Riana dengan mengambil alih piring nya kembali.
Mama Nathalie hanya tersenyum melihat adegan di depan nya. 'Semoga segera di hadirkan seorang malaikat kecil di perut menantu ku Ya Allah,' batin Mama Nathalie yang terus tersenyim ke arah menantu dan juga putera nya.
Sejak dulu Mama Nathalie menginginkan anak yang banyak, agar rumah besar nya selalu rame dan tidak sepi di saat ia hanya hidup berdua dengan suaminya saja, namun Allah tidak menghendaki semuanya terjadi, ketika Alkairo berumur 10 tahun, Mama Nathalie di vonis mengidap penyakit kanker rahim, dan rahim nya harus segera di angkat demi keselamatan Mama Nathalie sendiri.
Bagai di sambar petir ketika dia mendengar rahim nya sudah tidak ada lagi, namun sang suami selalu bisa menenangkan hati Mama Nathalie yang sedang rapuh itu.
Flashback On
''Mama yang sabar ya,'' bujuk Papa Alkairo saat Mama Nathalie menangis meraung-raung karena rahim nya di angkat tanpa persetujuan darinya.
__ADS_1
''Kenapa Papa tega melakukan itu sama Mama Pa, kenapa Papa tidak bertanya lebih dulu kepada Mama Pa,'' teriak Mama Nathalie kepada sang suami yang sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi, mengingat kondisi Mama Nathalie yang down waktu itu. Hanya jalan operasi itu yang bisa menyembuhkan Mama Nathalie.
''Papa tidak bisa mengerti perasa'an Mama sekarang, Mama sangat sedih karena itu harta Mama satu satu nya,'' pekik nya kepada Papa Alkairo, sedangkan Papa Alkairo hanya bisa memejamkan matanya sejenak dan berkata dengan sangat lembut kepada Mama Nathalie, mengingat emosi Mama Nathalie masih terlalu tinggi.
''Kalau Mama masih menginginkan seorang puteri, kita bisa mengambil dari panti asuhan dan kita jadikan saudara Alkairo,'' bujuk Papa Alkairo pelan.
''Mama tidak mau Pa, Mama maunya anak yang keluar dari rahim Mama sendiri,'' tukas nya dengan sangat ketus dan memalingkan wajah nya ke arah lain.
''Papa tidak akan tau, betapa sedih nya Mama ketika kehilangan rahim Mama Pa, mungkin Papa akan meninggalkan Mama setelah ini,'' ujar nya dengan menatap langit langit rumah sakit yang ia tempati.
''Tidak akan Ma, Papa bersumpah akan selalu menemani Mama sampai ajal yang memisahkan kita berdua, Mama sangat berharga bagi Papa. Mama juga penyemangat Papa ketika Papa masih berada di titik terendah, Mama selalu membantu Papa dalam segala hal agar Papa bisa sesukses ini, dan sekarang Papa sudah sukses dan menjadi orang yang terpandang, dan juga di segani oleh semua orang, Papa tidak akan pernah meninggalkan Mama sendirian. Papa ikhlas kok tidak memiliki anak lagi dari Mama, asal Mama sehat dan terus menemani Papa sampai tua nanti, menemani cucu cucu kita nantinya,'' kata Papa Alkairo dengan panjang lebar meyakinkan Mama Nathalie.
Mama Nathalie menatap mata Papa Alkairo dengan sorot mencari kebohongan di sana, namun nihil. Tak ada kebohongan di dalam mata sang suami, yang ada di sana hanyalah keseriusan dan juga cinta untuk nya.
''Percaya Ma, Papa tidak akan setega itu untuk meninggalkan Mama,'' ujar nya dengan tangisan yang sudah membanjiri pipi nya.
Mama Nathalie yang melihat suaminya menangis akhirnya memeluk dengan erat dan meminta maaf kepadanya, ''Maafkan Mama Pa, Mama tidak tau lagi harus berbuat apa setelah kehilangan rahim Mama, Mama sangt terpukul mendengar kenyata'an pahit ini,'' Ucap Mama Nathalie dengan suara serak nya, karena Mama Nathalie sejak tadi sudah berteriak-teriak, sehingga membuat suaranya sedikit serak.
Papa Alkairo tersenyim dan menghapus air mata sang istri dengan penuh kelembutan, dan beruntung Alkairo kecil tidak ikut ke rumah sakit ketika Mama Nathalie sedang sakit dan menjalani operasi pengangkatan rahim nya.
Flashback Off.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terima kasih yang sudah dukung karya karya Almahyra, dan semoga tidak mengecewakan ya, oiya, jangan lupa like, komen dan juga favorit kan ya kak. Terima kasihππππππππππππ