CEO Cantik Adalah Istriku

CEO Cantik Adalah Istriku
Bab 18. CCAI 18


__ADS_3

Tuan Edward akhirnya mengatakan maksud kedatangan nya ke rumah sakit, adalah untuk membicarakan tentang putera dan juga puteri nya yang sama sama sudah beranjak dewasa.


''Maksud kedatangan kami ke sini untuk membicarakan anak anak kita, mungkin ini terlalu mendadak buat Tuan dan juga Nyonya, tapi maksud kedatangan kami ingin melamar puteri anda sebagai calon istri putera saya,'' lalu Tuan Edward menatap wajah istri nya yang masih berada di samping brankar Mama Citra.


''Kami berjanji akan menjaga puteri anda seperti menjaga puteri kami sendiri,'' sambung tante Mala. ''Saya hanya ingin putera puteri kami bahagia selalu,'' lanjutnya lagi.


''Sayang?'' kini Mama Citra menatap wajah puteri nya yang sedang menundukkan kepalanya.


Riana akan menjawab pertanya'an sang Mama, namun tiba-tiba pintu di ketuk.


Tok tok tok


Kini Andrian yang membuka pintu ruang rawat inap sang Mama. ''Ech bro, lho datang juga ternyata.'' seru Andrian ketika melihat sahabat nya yang kini masih mengatur nafas di depan pintu.


''Iya sob, aku dari Bandara langsung kemari, dan parahnya lagi orang tua gue ngasih tau dadakan tadi pagi,'' jawab Alkairo yang menceritakan yang sebenarnya kepada Andrian.


''Ya sudah masuk yuck, Mama dan Papa kamu ada di dalam,'' ajak Andrian melebarkan pintu ruangan nya.


''Assalamu'alaikum,'' Ucap Alkairo ketika memasuki ruangan.


''Waalaikum salam,'' jawab mereka semua hampir bersama'an.


Alkairo berjalan menghampiri kedua wanita cantik meski di usia nya yang sudah tak lagi muda, Al mencium punggung tangan Mama Citra dan juga tangan sang Mama. Lalu Alkairo berpindah kepada laki laki yang sedang duduk di sofa, yakni sang ayah dan juga Tuan Arzan.


''Sudah lama sampek nya,'' tanya Tuan Edward ketika puterinya mulai duduk di samping nya.


''Baru sampai Pa, dan untung nya Mama serlok tadi. Kalau nggak Al pasti sudah nyasar kemana mana,'' jawab Alkairo panjang lebar.

__ADS_1


''Ini yang namanya Alkairo,'' tanya Tuan Arzan dengan menunjuk ke arah Al.


''Iya Tuan,'' sahuynya dengan sopan, sedangkan ekor matanya sudah melirik ke arah Riana yang berdiri di samping sang Mama, masih dengan wajah pucat nya.


''Kamu sudah sehat Ria,'' tanya Alkairo membuat semua orang membelalakkan matanya, dengan sebutan Ria kepada Riana.


'sejauh apa hubungan puteri ku dengan laki laki ini, sehingga dia sudah mempunyai nama panggilan untuk puteri ku,' gumam Tuan Arzan di dalam hatinya.


''Alhamdulillah sudah lebih baik, terimakasih ya sudah menolongku kemarin,'' jawab Riana dengan sedikit malu, karena semua orang masih menatap nya dengan pertanya'an pertanya'an yang ia dapatkan sebentat lagi, apalagi dari sang Papa yang akhir akhir ini sangat protektif kepada puteri nya, mengingat kemarin puteri nya sudah di khianati oleh seorang laki-laki yang sudah berjanji menikahinya.


''Maaf kak, kalau boleh saya bertanya. Apakah kamu benar-benar sudah siap bertunangan dengan puteri Om,'' tanya Tuan Arzan di sela sela semua orang masih berpikir.


''Maksud Om,'' tanya Alkairo yang belum mengerti seutuhnya dengan pertanyaan dari Papa Riana.


''Papa sudah melamar Riana buat kamu tadi, jadi kamu sudah siap bertunangan dengan Riana,'' Tuan Edward menjelaskan setiap perkata'an yang di lontarkan oleh Tuan Arzan, yang sebentar lagi akan menjadi Papa mertuanya.


''Iya, apa kamu tidak suka mendengarnya,'' tanya sang Papa memastikan puteri nya kembali.


Sedangkan wajah Riana kini sudah agak sedih, melihat Alkairo yang bertanya sedemikian rupa kepada Papa nya. Tapi sedetik kemudian Riana terkejut dengan ucapan Alkairo kepada Papa nya.


''Terima kasih Pa, kamu memang orang tuaku yang paling baik, karena sudah mengerti tentang anak nya yang ingin melamar wanita ini untukku,'' seru Alkairo mencium punggung tangan Tuan Edward.


Tuan Edward dan Tuan Arzan mengulas senyum dengan jawaban Alkairo barusan. ''Berbahagialah nak? kamu pantas bahagia, dan jangan pernah kau siapa siakan wanita yang kamu cintai,'' Tuan Edward berpesan kepada putera semata wayang nya, agar dia senantiasa selalu mencintai wanita yang akan menjadi istri sekaligus Ibu dari anak anak nya kelak.


''Pasti Pa, Al akan selalu membahagiakan dia,'' janji Alkairo kepada semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, tak terasa air mata Riana menetes begitu saja, mengingat masih ada laki-laki yang begitu menyayanginya dan juga mencintainya.


Tante Mala yang melihat Riana menangis segera beranjak dari tempat duduk nya dan menghampiri calon menantu nya yang sedang menangis.

__ADS_1


''Kamu kenapa sayang? apa kamu tidak senang dengan cara kami yang melamar kamu di rumah sakit ini,'' tanyanya dengan mengelus punggung Riana pelan


''Bukan itu tante, Riana sangat senang dan Riana juga tidak mempermasalahkan tempat juga, tapi Riana hanya terharu mendengar nya,'' sahut Riana pelan, tante Mala menghapus air mata Riana yang kini mengalir di kedua pipinya.


''Sudah jangan menangis lagi, mulai sekarang jangan ada air mata lagi, oke,'' kata tante Mala yang kini sudah memeluk tubuh Riana. Mama Citra tersenyum melihat puteri nya yang kini ada di samping nya.


'Semoga kamu selalu di kelilingi oleh kebahagia'an sayang?' batin Mama Citra yang juga ikut terharu dengan perlakuan keluarga Alkairo.


Mama Citra langsung menghapus air mata yang sempat terjatuh ketika melihat puteri nya di pelukan orang yang begitu menyayangi nya.


''Kamu mau kan, menikah dengan Alkairo?'' tanya tante Mala sembari menatap wajah Riana.


Sejenak Riana melirik ke arah sang Papa dan juga Mama nya, untuk meminta pendapat mereka berdua sebagai kedua orang tuanya.


Tuan Arzan yang di tatap pun mengerti dan mengangguk pelan kepalanya, namun seketika itu di kejutkan dengan pengakuan Alkairo yang mengatakan kalau dirinya belum menyiapkan cincin untuk Riana.


Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa lepas mendengar pengakuan Alkairo, ''Mohon di maklumi ya jeng, dia itu belum pernah mencintai seorang wanita selama ini,'' Ujar tante Mala jujur, seketika membuat wajah Alkairo memerah karena malu.


''Kamu tenang saja, Mama kamu sudah menyiapkan semuanya sebelum berangkat ke sini tadi pagi,'' sahut Tuan Edward menepuk punggung tangan putera nya.


''Beneran Pa?'' tanya Alkairo memastikan ucapan Papa nya.


Tuan Edward mengangguk dan menatap ke arah sang istri yang sudah mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna maron di hadapan Riana.


''Al, kemarilah,'' panggil tante Mala kepada putera nya. Alkairo beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri sang Mama yang masih berdiri di samping gadis puja'annya.


''Pakaikan cincin ini ke jari manis Riana, masalah acara tunangan kita akan bahas setelah mertua kamu keluar dari rumah sakit ini, atau kita langsung menikahkan mereka berdua saja, karena aku sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari kalian berdua,'' tutur nya mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2