
Pagi ini orang tua Alkairo akan kembali ke Negara nya terlebih dulu, mengingat pekerja'an Tuan Hutama yang begitu banyak, karena sudah satu minggu ia tinggalkan untuk mempersiapkan hari pernikahan putera semata wayang nya dengan Andriana.
''Sebenarnya Mama tak ingin pergi tanpa kamu sayang, tapi Mama juga tidak bisa meninggalkan Papa kamu sendirian di sana?'' kata Mama Devano sedih.
''Sebentar lagi Al juga balik kok Ma, tapi nunggu istri Al dulu,'' jawab Alkairo yang juga merasa sedih ketika melihat Mama nya yang begitu sedih.
''Hati hati,'' kata Alkairo kepada Mama dan juga Papa nya, Riana tidak ikut mengantarkan kepergian sang mertua ke bandara, entah kenapa Riana tiba-tiba merasakan demam dari semalam, sehingga batal untuk ikut mertuanya balik hari ini.
''Jaga istri kamu dengan benar, dan jangan sampai istri kamu kecapean ngelayanin kamu,'' cetus nya dengan kekehan di bibir nya.
''Sudahlah Ma, jangan bahas itu terus? emangnya Mama nggak malu mengatakan itu terus,'' ujar Alkairo yang tak suka dengan ledekan sang Mama.
''Heeeiiii!!! kamu pria dewasa dan Mama cuma memberi tahu kamu saja, buktinya istri kamu sampai sakit githu, bukan nya ngelayanin kamu yang bringas itu,'' bela sang Mama yang tak mau di kalahkan oleh putera nya.
''Pa, lebih baik cepat bawa Mama pergi dari sini, Mama di sini cuma membuat Al pusing saja,'' gerutu Alkairo.
''Kalau Riana sudah sehat, cepat kembali. Perusaha'an sangat membutuhkan kamu,'' Ucap Tuan Hutama kepada putera nya.
''Baiklah Pa,''
''Kalau githu kami harus pamit, pesawat akan take off,'' pamit Tuan Hutama yang di angguki oleh Alkairo, sedangkan Mama nya sudah pergi begitu saja tadi, ketika Alkairo merajuk dan menyuruhnya cepat bawa pergi sang Mama.
Alkairo melambaikan tangan nya ketuka sang Papa sudah berada ini dalam. Alkairo berjalan keluar setelah kepeegian Papa nya, dia juga menggerutu dengan ucapan sang Mama yang begitu absurd bagi Alkairo. Bagaimana tidak? Riana sakit gara-gara dia, apa hubungannya coba, pikir Alkairo.
''Mama pasti salah mengira karena Riana sakit, jadi dia menyalahkan aku sebagai suaminya, dengan mengatakan kecapean ngelayanin aku segala lagi. Memang nya Riana ngelayanin seperti apa sich,'' gumam Alkairo di sepanjang dia menuju ke mobilnya yang ia parkiran tak jauh dari tempat ia berdiri tadi.
''Apa Mama mengira aku menyiksa Riana di atas ranjang ya, tapi kenapa bisa begitu sich? aku dan dia kan belum melakukan kewajiban kami sebagai suami istri, karena keburu tamu Riana datang lebih cepat!'' Devano merutuki kesalahan nya yang tidak bisa menjelaskan itu semua kepada sang Mama tadi.
__ADS_1
Lagi pula ngapain juga Alkairo harus melaporkan semuanya kepada Mama nya, yang ada nanti Riana yang malu setelah kembali ke rumah Mama nya. Dalam perjalanan Alkairo sangat frustasi di buat nya, karena terus mengingat perkata'an Mama nya ketika di bandara tadi.
Alkairo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengingat jalanan sudah sangat ramai ketika di jam jam semua orang pulang dari tempat kerjanya.
...****************...
Di sisi lain Michael kini, sedikit lebih memberikan perhatian kepada Laura, setelah kejadian kemarin, lagi pula dia juga tau sendiri, kalau wanita yang ia cintai sudah menjadi milik orang lain, menginat saat ini? yang ada di dalam kandungan Laura adalah benar-benar anak nya.
Michael sudah melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Laura ketika dia kemarin jatuh sakit dan harus di larikan ke rumah sakit tempat ia bekerja.
Michael memang sempat menyangkal kalau anak yang ada di kandungan Laura adalah anaknya, mengingat hubungan mereka di landasi tanpa cinta dan juga karena di jebak oleh Laura, hanya demi memiliki Michael seutuh nya.
Dua hari di rawat di rumah sakit Laura semakin sehat dn juga kandungan nya yang kini sudah menginjak 8 bulan, dan jenis kelamin nya adalah perempuan.
Michael sendiri tidak keberatan dengan jenis kelamin anaknya, baginya perempuan dan laki-laki sama saja, sama-sama harus di jaga dengan baik dan di didik dengan benar.
Mama dan Papa Michael juga tidak keberatan dengan calon cucu nya yang berjenis perempuan tersebut, malah mereka akan menyambut kedatangan mereka ke dunia ini dengan tangan terbuka dan juga dengan kebahagia'an tentunya.
''Mama tidak keberatan kan dengan cucu Mama yang berjenis kelamin perempuan ini?'' tanya Laura sekali lagi, dia hanya ingin meyakinkan dirinya saja, takut sang mertua malah tidak senang dengan kehadiran cucunya yang berjenis kelamin perempuan.
''Sayang? sudah berapa kali Mama mengatakan sama kamu, mau laki-laki atau perempuan itu sama saja, sama-sama akan menjadi pewaris Michael nantinya,'' jawab sang mertua dengan lembut, Mama Michael mengerti dengan ketakutan Laura saat ini. ''Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak pikiran dan memikirkan yang bukan bukan, harusnya kamu harus banyak banyak bersyukur, karena calon cucu Mama sehat dan lengkap di sini, bukan nya khawatir seperti itu,'' tambah nya lagi mengusap bahu Laura dengan penuh kelembutan.
Awal awal pernikahan Michael dan Laura sang Mama tidak begitu menyukai menantunya itu, sifat keras kepala dan juga culas nya, membuat sang Mama mertua angkat tangan, dan menyuruh Michael membawa Laura pergi dari rumah nya. Tapi semakin hari Laura berubah sedikit demi sedikit dari biasanya, membuat Mama Michael membuka hatinya dan menyuruh Laura pulang ke rumah nya? ketika perut Laura sudah besar.
''Istirahat lah, Mama akan menyiapkan makan malam buat suami kamu dan juga Papa mertua kamu,'' Ucap Mama Michael kepada menantunya.
''Ma, bisakah Laura membantu Mama memasak?'' mohon Laura seraya menangkup kan kedua tangan nya di depan dada.
__ADS_1
''Baiklah ayo,'' ajak sang mertua karena tak tega melihat Laura yang memohon seperti itu.
Laura berjalan mengikuti mertua nya ke dapur, di mana di sana ada 2 orang pelayan yang sudah menyiapkan bahan makanan yang akan mereka masak bersama sang majikan.
''Sini Bi, Laura saja yang potongan sayuran nya,'' pinta Laura kepada asisten rumah tangga di rumah Mama Michael.
Sang Bibi menatap sang majikan, meminta persetujuan nya. Mama Michael yang mengerti tatapan sang Bibi akhirnya angkat bicara.
''Kasih saja Bi, Bibi bisa kerjakan yang lainnya,'' sambung Mama Michael yang di angguki langsung sang asisten.
Sedangkan pelayan yang satunya terkejut melihat sikap Laura yang sedikit berubah dari sebelum nya, 'Apa Non Laura hanya pura-pura saja ya, karena ada di depan Nyonya,' pikirnya yang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
''Bi, tolong ambilkan baskom itu dong?'' perintah Laura karena dia sendiri susah untuk bangun karena beban di perutnya.
Bibi itupun membuyarkan lamunan nya ketika sang majikan memerintah, ''Baik Non?'' jawab nya dan bergegas mengambil barang yang di suruh.
Bibi menaruh baskom yang sudah ia ambil di dekat Laura, ''Terima kasih Bi,'' Ucap Laura untuk pertama kalinya mengucapkan terima kasih kepada sang asisten di rumah besar itu.
''Jangan sungkan Nona,'' jawab sang Bibi dengan sedikit senyuman di bibir nya. 'Sudahlah, lebih baik aku kerjakan yang lainnya saja, ketimbang melamun terus, dan ujung ujungnya bakalan di tegur sama Nyonya,' gumam nya di dalam hati.
Watak manusia memang masih bisa di rubah, dengan kesabaran dan juga ikhlas dalam memberi arahan yang baik untuknya, contohnya Laura yang kini sedikit berubah hanya untuk menarik perhatian suami dan juga Mama mertua nya.
Semua itu tak luput dari apa yang di ajarkan oleh asisten yang bekerja di apartemen nya selama ini, sang asisten selalu sabar dalam menghadapi sikap kasar Laura, dan sang asisten juga selalu sabar ketika Laura tengah berkeluh kesah kepadanya, tentang mertua dan juga suaminya.
Asisten tersebut hanya memberikan nasehat sedikit demi sedikit kepada majikan nya, agar bisa merubah sikap dan juga sifat nya. Alhasil Laura merubah sifat nya dengan perlahan, dia juga belajar bersabar menghadapi suami yang ia nikahi tanpa ada rasa cinta kepadanya.
Semua orang hanya bisa bersabar, ikhlas dan berserah diri kepada Allah SWT, karena Allah sudah merencanakan semuanya dengan baik tentunya.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
jangajangan lupa like, komen dan favorit kan ya, terimakasih ππππππππ