
Rumah tangga Michael dengan Laura setiap hari seperti kucing dan juga tikus, keluarga kecil yang sebentar lagi akan di karuniai anak itu selalu berantem yang nggak jelas, karena Michael sendiri tidak pernah pulang ke rumah nya semenjak dia menikah, Michael jarang pulang, bahkan satu bulan kadang Michael hanya akan pulang satu kali ke rumah yang kini di yempati Laura.
''Kamu itu kenapa sich Michael, sejak kamu menikah denganku, kamu tidak pernah sekalipun mengajak aku untuk jalan jalan dan sekarang kamu malah nyuekin aku!'' teriak Laura yang melihat Michael tak menggubris ucapan nya, dan terus saja menaiki anak tangga menuju kamar nya.
''Aku selalu sabar menunggu kamu untuk pulang dengan harapan membawaku jalan jalan dan sekedar membeli perlengkapan anak kita,'' Laura masih berselimut dengan emosi yang terus terusan menteriaki suaminya yang baru pulang ke rumah nya.
''Bukankah ini nyang kamu mau dariku Laura, kamu bukan butuh aku. Kamu hanya butuh harta dan juga kepercaya'an orang tuaku saja, kamu sudah mendapatkan semuanya Laura, apalagi yang kamu harapkan dariku sekarang,'' jawab Michael dengan nada dingin yang kini sudah berbalik badan menghadap Laura yang ada di lantai dasar.
''Aku tidak butuh harta Michael, aku hanya butuh kasih sayang kamu, aku hanya ingin kamu mencintai ku sebagai istri sah kamu,'' kata Laura mendongakkan kepalanya ke atas, karena Michael sudah ada di lantai atas.
Sedangkan pelayan di rumah itu sudah kabur ke belakang karena dia tidak mau mendengy majikan nya yang selalu bertengkar ketika bertemu, seperti sekarang ini misalnya.
''Itu semua salah Non Laura kan ya mbok?'' Ucap pekerja yang baru satu tahun bekerja di rumah mewah itu.
''Hus diam, kamu mau kalau di pecat dari sini,'' tegur mbok Yem kepada rekan nya.
''Tapi itu kenyata'an nya mbok, kalau saja tuan Michael menikah dengan Nona Riana, pasti rumah ini akan sangat hidup dengan canda tawa mereka berdua, seperti kemarin ketika Nona Riana awal awal di bawa ke rumah ini,'' yang lain ikut menimpali.
''Iya kamu memang benar, ketika Nona Riana datang ke rumah ini untuk pertama kalinya, rumah ini nampak hidup, di tambah lagi Nona Riana yang begitu baik dan sopan kepada semua orang yang ada di sini, termasuk kepada kita kita yang hanya pelayan,'' yang bernama Yatik mengingat keramahan Riana dulu.
__ADS_1
''Sudahlah jangan di bahas lagi, yang menjadi istri sah tuan Michael sekarang adalah Nona Laura bukan Nona Riana, jadi jangan bahas itu lagi di sini, takut nya ada yang dengar omongi kita dan melaporkan semuanya kepada Nona Laura. Nanti ujung ujung nya kita yang di pecat,'' Mbok Yem mengingatkan semua rekan kerjanya. Karena di rumah besar itu ada orang suruhan Nona Laura yang bisa jadi melaporkan apa yang mereka obrolin.
''Siapa lagi kalau bukan ini, anak emas sang majikan. Tapi bodohlah mau di bilang kek mau enggak kek, aku nggak peduli,'' sahut Yatik dengan angkuhnya.
Sedangkan yang di katakan anak emas sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik saja, namun dia juga mulai jengah dengan sikap Laura yang semena mena terhadap dirinya yang mentang mentang sudah menjadi nyonya Michael.
Mereka semua masih melanjutkan obrolan nya di rumah belakang, tanpa menghiraukan Dwi yang sedari tadi duduk menyendiri di luar. Sedangkan Mbok Yem sudah ke rumah depan karena di panggil Michael tadi.
Michael memijat kepalanya yang berdenyut, niat pulang ke rumah nya mau beristirahat sejenak, setelah capek bekerja di rumah sakit dengan pasien yang seabrek, dengan macam macam sifat pasien.
Tapi angan angan untuk beristirahat sirna ketika teriakan Laura menggema di seluruh rumah nya.
''Tuan, ini kopinya,'' Ucap mbok Yem dengan menaruh secangkir kopi di atas meja kerjanya.
''Mbok, apa aku sangat keterlaluan sama Laura, sedangkan dia sendiri yang tak pernah betah untuk tinggal di dalam rumah ketika aku pulang, tapi sekarang dia malah menyalahkan aku, karena aku tidak pernh pulang ke rumah ini,'' gumam Michael yang masih memejamkan matanya.
''Mbok juga tidak terlalu mengerti kehidupan anda Tuan, tapi akhir akhir ini Nona Laura selalu uring uringan di kamar nya, dia juga selalu menangis tanpa sebab, mungkin karena hormon kehamilan nya ya Tuan,'' jawab Mbok Yem yang tidak terlalu paham itu.
''Terima kasih Mbok, Mbok boleh pergi sekarang,'' Ucap Michael menatap mbok Yem yang mengangguk pelan, dan melangkah pergi keluar ruangan.
__ADS_1
''Michael di dalam Mbok,'' tanya Laura ketika sedang berpapasan dengan Mbok Yem di luar.
''Iya Nona?'' jawab sang pelayan dengan ramah.
''Apa aku boleh masuk ke dalam,'' tanya Laura dengan nada lirih, Laura juga menginginkan kebahagia'an dari suami nya, namun Michael seperti nya tidak peduli dengan Laura, karena pernikahan ini keinginan Laura bukan Michael.
Laura memang sudah menjebak Michael waktu lalu, Laura sengaja mencampurkan minuman Michael dengan obat perangsang sehingga Michael meniduri Laura yang memang menggodanya.
''Saran Mbok jangan dulu Nona, Tuan Michael sedang tidak enak badan,'' kata sang Mbok Yem berbohong kepada istri sang Tuan, karena Mbok Yem tidak tega melihat Tuan nya yang sering bertengkar kalau bertemu dengan sang istri.
''Baiklah Mbok, kalau Michael memanggil Mbok lagi kasih tau aku saja,'' pesan Laura, lalu dia melangkah pergi menuju kamar nya, Laura butuh istirahat juga menginginkan kandungan nya sudah menginjak bulan ke 5.
Mbok Yem hanya mengangguk dan kembali ke rumah belakang, di mana para pelayan tinggal.
''Mbok di suruh ngapain sama Tuan?'' tanya Yatik yang memang super kepo.
''Tidak di suruh ngapa ngapain kok, cuma Tuan nyuruh bikin kopi saja, mungkin Tuan Michael sedang suntuk dan juga sedang tidak enak badan,'' jawab Mbok Yem yang mendaratkan bokongnya di ranjang tempat tidur nya.
Yatik hanya menatap Mbok Yem yang sudah berumur itu, namun beliau masih sangat sehat dan juga kuat, 5 tahun bekerja bersama Mbok Yem dan dia tidak pernah semena mena kepada sesama pelayan di rumah majikan nya dulu, Mbok Yem selalu berpesan kalau kita adalah saudara, jadi kita harus saling tolong menolong.
__ADS_1
Tak hanya itu, Mbok Yem juga sering membantu teman teman nya yang sedang butuh bantuan, karena Mbok Yem tidak punya keluarga di kampung, sehingga Mbok Yem bisa membantu teman teman nya tanpa harus mengganti nya.
''Mbok, apa Tuan bahagia dengan pernikahan ini, karena Yatik lihat Tuan sangat tidak bahagia dengan Nona Laura,'' gumam Yatik kepada Mbok Yem.