
Mama Alkairo sangat senang mendengar kabar kalau menantu dan juga putera semata wayang nya akan kembali ke rumahnya.
''Nyonya, ada tamu di depan,'' ujar salah satu pelayan di rumah nya, yang langsung membuyarkan lamunan sang Nyonya.
''Siapa Bi,'' sahut Mama Nathalie seraya memicuo matanya ke arah pembokat nya.
''Assalamu'alaikum Ma,'' seru Alkairo dan Riana secara bersama'an.
''Sayang, kalian sudah sampai?'' Mama Nathalie terkejut dengan tamu yang di maksud oleh sang pelayan. Alkairo sengaja menyuruh pelayan nya untuk mengatakan kalau ada tamu yang sedang menunggu nya, namun karena Alkairo sudah tak sabar ingin bertemu dengan sang Mama, akhirnya Alkairo masuk ke dalam rumah nya setelah berdebat kecil dengan Riana sang istri.
''Bilang nyaau bikin kejutan, percuma nyuruh pelayan tadi,'' gerutu Riana kepada suaminya yang menurut dia hanya bikin kesal saja.
''Tapi aku kangen banget sama Mama sayang?'' Jawa Alkairo dengan santai dan menggeret koper nya.
''Dasar anak Mama,'' tukas Riana pelan, tapi masih bisa di dengar jelas oleh Alkairo.
''Kita bahas di dalam saja ya sayang,'' ajak Alkairo tanpa merasa bersalah sama sekali kepada sang istri.
Kembali ke Mama Nathalie, Riana memeluk Mama Nathalie dengan sangat erat sedangkan Alkairo hanya di abaikan oleh sang Mama membuat Alkairo mengerucut kan bibir nya.
''Sebenarnya anak Mama itu siapa sich,'' gerutu Alkairo yang hanya di cuekin oleh sang Mama.
Para pelayan menahan tawanya melihat sang tuan muda yang bertingkah seperti anak kecil. ''Tuan muda lucu sekali ya, kalau seperti itu,'' gumam salah satu pelayan yang menyambut kedatangan Riana dan juga Alkairo.
''Mama sudah enek dengan kamu Al. Sekarang giliran Riana yang akan Mama sayang,'' balas nya tanpa melepaskan pelukan dari sang menantu.
''Tega ya Mama sama Al,'' keluh Alkairo dengan menghentakkan kakinya ke lantai, layaknya seperti anak kecil yang sedang ngambek gara-gara minta manisan pada sang Mama,
Riana hanya cekikikan melihat tingkah suaminya yang bersikap aneh menurut nya. ''Mas itu sudah dewasa, kenapa sifat dan kelakuan seperti anak kecil guthu sich,'' seru Riana menatap wajah suaminya yang masih saja cemberut.
''Sudahlah sayang, abaikan saja dia. Kita ke kamar kamu sekarang ya,'' ajak Mama Nathalie kepada menatu kesayangan nya.
Riana menoleh kepada sang suami dengan mengulurkan tangan nya agar juga ikut ke kamar nya, mengingat di dalam perjalanan sang suami tidak memejamkan matanya sama sekali.
''Ayo Mas,'' ajak nya dengan nada lembut seraya meraih tangan Alkairo yang di lipat ke depan dadanya.
Alkairo meraih tangan Riana dengan senyuman yang sudah mengembang di kedua bibir nya, membuat Riana tersenyum melihat nya. ''Kamu ini ada ada saja tingkah lakunya Mas,'' Riana masih terus menggandeng tangan Alkairo sampai ke dalam kamar.
__ADS_1
''Kalian istirahat lah, Mama akan memasakkan makanan kesukaan kalian,'' gumam Mama Nathalie yang melihat kedua orang yang ia sayangi, meski Mama Nathalie mengacuhkan Alkairo, tak membuat Mama Nathalie benar-benar mengabaikan putera semata wayang nya itu.
''Nggak usah repot repot Ma, kami berdua sudah makan sebelum sampai di sini tadi,'' Ucap Riana mencegah kepergian Mama mertua nya.
''Ya sudah, kalau begitu kalian beristirahat lah, Mama turun dulu,'' sahut Mama Nathalie yang tak ingin mengganggu waktu istirahat putera dan juga menantu nya.
Alkairo hanya mengangguk pelan, ''Baiklah Ma?'' jawab Riana dengan suara yang sangat lembut.
Sebelum kepergian Mama Nathalie dia menyempatkan untuk tersenyum ke arah menantunya yang sudah beberapa hari di tunggu kedatangan nya.
''Semoga rumah ini segera rame dengan suara teriakan teriakan anak kecil,'' gumam Mama Nathalie ketika menuruni anak tangga menuju ruang keluarga nya, menunggu kedatangan sang suami dari kantor nya.
Di dalam kamar, Riana segera membersihkan tubuh nya yang sudah sangat lengket dengan keringat.
Hanya butuh waktu lima menit, Riana sudah menyelesaikan ritual mandinya. Riana menatap ke arah suaminya yang masih bergelut dengan ponsel yang ia genggam saat ini, Riana menghampiri dan berkata, ''Mas Al nggak mau mandi?'' tanya nya dengan duduk di samping nya.
Alkairo hanya menatap sekilas wajah cantik sang istri, tanpa ada polesan make up sama sekali, Alkairo kembali menatap wajah sang istri ketika melihat rambut basah istri nya.
''Kamu keramas?'' tanya Alkairo pelan dengan menatap rambut panjang Riana yang basah.
''Berarti nanti malam kita bisa bikin dong?'' goda Alkairo yang sudah seminggu ini menahan hasrat nya.
''Bikin apa sich Mas?'' tanya Riana yang nggak ngeh dengan ucapan suaminya.
''Ya bikin Alkairo junior lah, aku sudah tidak sabar ingin mengobrak-abrik punyamu sayang,'' bisik Alkairo membuat Riana mengerutkan kening nya.
'Mengobrak-abrik, apa maksud nya aku tidak mengerti,' gumam nya dalam hati.
Riana tak mau terlalu banyak berpikir sehingga dia memilih beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan menuju meja rias di samping tempat tidur nya. Riana menyisir rambut panjangnya yang masih lumayan basah, namun Riana memilih mengikat rambut nya yang basah tersebut, sehingga Alkairo berjalan menghampiri Riana dan membuka ikatan di rambut nya.
''Rambut yang basah jangan dulu di ikat, sini handuk nya biar Mas yang kering inikn rambut kamu ini,'' pinta Alkairo dengan menadahkan tangan nya ke hadapan Riana. ''Rambut kamu panjang banget sayang?'' tambah Alkairo yang baru menyadari rambut sang istri.
''Iya Mas, sudah waktunya di potong,'' kata Riana pelan.
''Kenapa harus di potong sich sayang, kamu lebih cantik dengan rambut panjang,'' balas Alkairo yang tak rela melihat rambut indah istri nya di potong begitu saja.
''Terserah Mas saja dech, aku mah nggak yakin bisa betah dengan rambut sepanjang ini, apalagi kalau keramas seperti sekarang ini, susah banget ngeringin nya,'' kata Riana dengan mengambil alih handuk di tangan suaminya.
__ADS_1
''Lebih baik Mas Al mandi sekarang saja dech, bau tau,'' Riana menutup hidung nya, agar sang suami mau membersihkan tubuh nya.
''Enak saja bilang aku bau, mana ada aku bau sayang?'' dengan Alkairo sembari menciumi ketiak sebelah kanan dan juga sebelah kiri nya.
''Tapi bo'ong,'' celoteh Riana dengan berlari keluar dari kamar nya, Riana keluar dari kamar ingin menemui sang Mama mertua, karena Riana masih sangat kangen dengan Mama Nathalie.
Sikap Mama Nathalie tak beda jauh dengan sikap Mama Citra kepadanya, jadi Riana semakin betah tinggal di rumah sang suami.
Riana menuruni anak tangga satu persatu di rumah besar sang suami. Riana mencari keberada'an Mama Nathalie di ruang tamu dan ruang keluarga nya, namun tidak adanya nda tanda keberada'an sang mertua di sana.
''Maaf Bi, apa Bibi melihat Mama ada di mana?'' tanya nya kepada sang pelayan yang ia temui di ruang keluarga.
''Nyonya besar sedang ada di dapur Nona,'' jawab nya seraya setengah membungkukkan tubuh nya di depan Nyonya mudanya.
''Terima kasih Bi,'' ucap Riana seraya berlalu menuju dapur yang lumayan besar, tak beda jauh dengan rumah orang tuanya.
''Mama bikin apa sich, rajin banget di dapur,'' kata Riana sedikit memuji Mama mertua nya.
''Sayang? kamu tidak istirahat di kamar,'' tanya Mama Nathalie menatap ke arah sumber suara, di mana Riana tengah berdiri di ambang pintu dapur.
''Riana tidak lelah Ma, dan Riana ingin mengobrol dengan Mama saja,'' sahut nya dengan berjalan menghampiri Mama Nathalie yang sedang sibuk mengaduk masakan nya.
''Mama bikin puding kesuka'an suami kamu, kalau kamu suka apa sayang?'' tanya Mama Nathalie lagi, mengingat dirinya belum tau kesuka'an menantunya.
''Apa saja kok Ma, Riana orang nya tidak pemilih soal makanan, tapi kalau Sifoed Riana tidak bisa memakan nya,'' terang nya, membuat Mama Nathalie menatap wajah sang menantu.
''Memang nya kenapa kalau makan Sifoed sayang?'' Mama Nathalie penasaran dengan pengakuan Riana barusan.
''Riana alergi sama Sifoed Ma,'' Ucap Alkairo yang tengah menapaki anak tangga. ''Papa belum pulang Ma,'' tanya Alkairo lagi.
''Belum, paling sebentar lagi Papa kamu akan sampai,'' sahut nya dengan terus mengaduk adonan puding yang masih berada di atas kompor nya.
''Sayang, ayo kita keliling rumah saja, biarin saja Mama di sini,'' ajak Alkairo yang di angguki oleh Mama Nathalie.
''Sudah, lebih baik kamu keliling rumah dengan suami kamu, Mama sebentar lagi selesai kok,'' suruh nya dengan sedikit mengulas senyum di bibir nya.
''Baiklah Ma, Riana tinggal dulu ya,'' pamit Riana sebelum benar-benar pergi dari hadapan Mama Nathalie.
__ADS_1