
2 bulan kemudian.
Riana yang sudah mulai melupakan Michael, lambat laun bisa menerima kehadiran sosok laki-laki yang akan membahagiakan nya, namun Riana tidak mau terburu buru dalam mengambil keputusan, biarlah semua ini berjalan dengan apa adanya.
Riana sengaja menyibukkan dirinya dengan pekerja'an yang setiap hari menumpuk di atas meja kerja nya, meski Andrian mengambil sebagian pekerja'an Riana namun sang adik masih saja sok sibuk di kantor nya.
''Jangan terlalu memforsir diri dalam pekerja'an, ayo kita pulang sekarang,'' ajak sang kakak yang kini sudah memegang lengan sang adik.
''Kakak kalau mau pulang? pulang saja. Riana masih belum selesai,'' ujar Riana menatap wajah sang kakak yang juga menatap nya.
''Kalau gitu aku juga di sini memet kamu saja.'' jawab Andrian dengan nada datar nya.
''Sudah, lebih baik kak Rian ngapelin cewek nya saja sanah!'' Riana mengusir dengan dengan menggoda sang kakak yang tak kunjung punya kekasih.
''Cewek, lha kan kamu cewek ku,'' Andrian menggoda balik sang adik yang malah di jawab dengan kekehan kecil.
''Apa apa'an?!'' balas Riana setelah terkekeh geli dengan ucapan Rian barusan.
Andrian dengan setengah memaksa sang adik untuk bangun dari duduk nya, sedangkan tas selempang Riana sudah di kalung kan ke leher Andrian, kedua tangan nya menarik lengan sang adik dan setelah itu segera menggendong di bahu kirinya.
''Kak Rian, aku bukan barang yang harus di gendong seperti ini?'' rengek Riana yang merasa tak nyaman dengan sang kakak, bukan nya apa? tapi menurut Riana mereka berdua sudah sama sama dewasa, jadi dia merasa sangat malu dengan perlakuan sang kakak saat ini.
''Makanya kamu nurut sama kakak, kamu bukan nya menurut sama aku malah selalu melawan semua perkata'an yang kakak lontarkan ke kamu tadi.'' jawab Andrian yang masih menggendong Riana.
__ADS_1
Di sisi lain para karyawan yang berpapasan dengan saudara kembar tersebut, hanya mengulas senyum karena melihat saudara kembar di depan nya begitu akur dan juga saling menyayangi satu sama lain nya.
''Seneng banget kalau lihat CEO kita seperti itu?'' gumam karyawan yang kebetulan melihat Andrian menggendong Riana.
''Iya, adem gitu lihat nya,'' sambung yang lain nya.
''Sudah, ayo kita pulang saja sekarang. Takut nya bos kita malah mendengar obrolan kita ini, dan kita akan mendapatkan akibat nya,'' sahut teman yang satu nya yang sudah melenggang pergi meninggalkan kedua teman nya yang masih sibuk melihat kedua CEO nya.
''Heeeiiii! tunggu,'' teriak sang teman ketika mendapati teman nya sudah menjauh dari tempat dia berdiri tadi.
Yang di panggil hanya menoleh kebelakang, tanpa mau menghentikan langkah nya. 'Suruh siapa di ajak pergi malah sibuk melihat CEO yang sedang main gending gendongan,' gerutunya di dalam hati sambil terus melangkah pergi menuju parkiran khusus karyawan.
''Kamu jahat banget ninggalin kita berdua di sana!'' seru sang teman yang tadi di tinggal pergi begitu saja, ketika sedang asik menatap kedua CEO nya.
''Ich kamu gitu ya sekarang? turun lho dari mobil gue!'' ucap nya ketus dan juga tanpa berpikir panjang.
''Enak aja, lho yang harus turun! ini mobil gue, dan lho harus ingat yang numpang di sini itu lho, ngerti.'' jawab nya yang tak terima dengan ucapan sang teman yang menyuruh nya turun dari mobilnya, padahal dia yang numpang.
Sedangkan teman yang tadi menyuruh teman turun hanya tertawa garing yang memperlihatkan deretan gigi putih nya.
''Nggak ada yang lucu, apa apa'an!'' ketus nya seraya melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kantor tempat mereka bekerja, sedangkan teman yang satunya cuma menjadi penonton sejak tadi ketika kedua teman nya mulai berdebat membahas mobil.
'Untung nggak langsung di lempar keluar nich Juki,' batin nya yang masih tetap bengong melihat kedua teman nya yang sama sama ada di jok depan.
__ADS_1
...****************...
Di belahan dunia lain nya, Michael sedang frustasi memikirkan Riana yang sampai sekarang tidak bisa di hubungi sama sekali, selain itu Tuan Arzan dan keluarga Sanjaya yang lain nya, sudah menutup akses buat perusaha'an Tuan Bagas, mereka semua merasa kecewa dengan sikap yang di lakukan oleh keluarga Tuan Bagas yang langsung mengambil kesimpulan sendiri, tanpa mau melibatkan keluarga Tuan Arzan yang tak lain adalah orang tua Riana.
''Bagaimana keada'an cucuku di sana?'' tanya kakek Sanjaya yang baru keluar dari kamar nya, dan mendapati anak dan juga menantunya yang sedang menjenguk kakek Sanjaya di rumah nya.
''Mereka berdua sangat baik di sana Pa, Papa tenang saja ya. Sekarang Papa harus sehat agar kelak bisa melihat semua cucu nya di pelaminan,'' ujar Mama Citra yang kini sudah duduk bersimpuh di hadapan sang Papa.
''Syukur lah, kalau mereka baik baik saja. Semoga mereka selalu di beri kesehatan dan kelancaran dalam semua hal,'' jawab kakek Sanjaya yang mendo'akan kedua cucu nya yang sedang berada di luar negeri.
''Kamu juga jangan terlalu memikirkan masalah itu lagi ya, biar semuanya suami dan adik ipar kamu yang melakukan nya, lebih baik kamu sekarang berbahagia saja, karena sebentar lagi cucuku Riana? pasti akan mendapatkan laki-laki yang akan menyayangi dia dengan tulus, dan tidak akan pernah menyakiti nya seperti Michael kemarin,'' ucap kakek Sanjaya dengan panjang lebar.
''Pa, ayo kita makan malam dulu, setelah itu Papa harus minum obat, agar besok kalau Riana dan yang lainnya menikah, Papa bisa ikut mendampingi mereka juga,'' gumam Cinta yang sudah berdiri di belakang kursi roda nya.
Kakek Sanjaya mengangguk pelan seraya berkata, ''Ayo, makan malam semuanya,'' ajak nya kepada anak dan juga menantu nya yang juga masih mengobrol di ruangan lain nya.
Tuan Arzan dan adik ipar nya mengangguk sembari beranjak dari tempat duduk nya. Mereka semua makan malam dengan sangat khidmat tanpa beban sama sekali.
Cinta sesekali melirik ke arah kakak nya yang masih terlihat sangat sedih, mengingat sang ponakan yang batal tunangan, tapi Cinta tidak mau membahas nya sekarang, agar sang kakak tidak bertambah sedih.
Cinta juga merasakan hal yang demikian, mengingat kedua puteri nya yang kini tengah mengenyam pendidikan di luar negeri.
Setelah makan malam Cinta beranjak dari duduk nya untuk mengambilkan obat buat sang Papa yang kian hari semakin membaik dari sakit nya. Kakek Sanjaya memang drop ketika mendengar Michael akan menikahi wanita lainnya.
__ADS_1