
Kini Riana sudah berada di Bandara dengan di jemput oleh sang asisten dengan mobil mewah nya.
''Maaf merepotkan kamu Jeremy,'' kata Andrian tak enak hati, Andrian terpaksa meminta asisten Papa nya untuk menyiapkan semuanya, karena dia tidak mau sang adek terlalu lelah.
''Tidak apa apa Tuan Muda, lebih baik Nona Riana duduk di sini saja,'' sahut Jeremy sembari menyodorkan kursi roda ke hadapan Riana.
''Saya bisa jalan sendiri Jeremy?'' tolak Riana dengan halus, dia terlalu malu dengan menaiki kursi roda yang sudah di siapkan oleh Asisten Papa nya.
''Adek, kamu harus menurut. Karena itu demi kebaikan kamu juga,'' gumam Andrian yang sedang merapat sang adek. ''Atau kalau adek nggak mau, kakak gendong saja mau?'' tambah Andrian yang kini sengaja menggoda sang adek.
''Nggak ach, Riana berat tau kak?'' tengek nya dengan mendudukkan diri di kursi roda di depan nya, Andrian terkekeh heli dengan sikap sang adek yang sudah tak mau di gendong lagi oleh Andrian, dengan alasan berat. Padahal tubuh Riana saat ini terlalu kurus di banding 6 bulan yang lalu.
Riana dan Andrian di bawa ke rumahnya terlebih dahulu agar mereka berdua bisa beristirahat sejenak di rumah nya, itu juga perminta'an Andrian karena tak tega melihat wajah sang adek yang masih terlihat pucat.
''Kita pulang saja dulu Jeremy, nanti sore baru aku menemui Mama di rumah sakit,'' seru Andrian menatap adeknya yang sudah tertidur.
''Baik Tuan.'' jawab Jeremy sembari menganggukkan kepalanya.
Di perjalanan menuju rumah nya, Andrian melihat Laura di jalan bersama pelayan yang selalu berada di samping nya, ''Wanita tadi bukan nya istri Michael,'' tanya Andrian kepada sang asisten.
''Benar Tuan, tapi setahu saya mereka berdua tidak harmonis, mereka selalu bertengkar jika Michael pulang ke rumah nya, entah karena Michael jarang pulang atau memang Michael tidak cinta sama wanita itu Tuan,'' cerita Jeremy yang di angguki Andrian.
''Biarlah, toh mereka berdua sudah sah menjadi suami istri, lagi pula adek ku sudah sangat bahagia bersama ku,'' jawab Andrian yang kembali menatap wajah cantik sang adek.
Wajah Riana begitu cantik saat di pandang, dan itu membuat Andrian sempat berpikiran kalau saja Riana bukan adek kembarnya, pasti Andrian sudah menikahi Riana bulan ini juga, tapi Andrian sadar kalau Riana adalah adek kembarnya dan harus di jaga dengan baik selama dia belum menemukan jodohnya.
__ADS_1
Mobil melaju dengan sangat cepat, membelah jalanan yang sangat lengang, karena hari masih sangat pagi. Mobil yang di tumpangi Riana dan juga Rian sudah memasuki gerbang yang menjulang tinggi, dengan beberapa orang yang menjaga di sana.
Andrian menggendong Riana yang masih terlelap dengan tidurnya. Para pelayan di rumah itu kini sedang berbaris menyambut kedatangan kedua anak majikan nya, yaitu Tuan Muda dan juga Nona mudanya.
''Pagi Tuan,'' Ucap kepala pelayan di rumah itu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
''Pagi juga Pak,'' jawab Andrian dengan melangkah melewati mereka semua menuju kamar sang adek yang ada di lantai dua.
''Pak, setelah ini siapkan bubur untuk adek,'' tutur nya dengan menghentikan langkah nya sudah ada di anak tangga.
''Baik Tuan,'' sahut sang kepala pelayan dengan menyuruh para pekerja yang sedari tadi masih berdiri di ambang pintu.
Riana di letakkan di tempat tidurnya dengan sangat perlahan oleh sang kakak, begitu besar cintanya Andrian kepada adek kembarnya sehingga memperlakukan sang adek begitu baik dan juga memanjakan nya.
Ketika Rian akan melangkahkan kakinya keluar dari kamar sang adek, dia melihat foto adek sepupunya yang kini sudah bahagia dengan memiliki 3 orang anak kembar. Senyum Rian mengembang ketika mengingat adek sepupu nya berjuang melawan penyakit nya, dan kini mereka sangat bahagia dengan kehadiran 3 malaikat kecil dan lucu dan sangat menggemaskan.
''Kalian apa kabar,'' gumam Andrian mengusap foto tersebut.
...****************...
Alkairo yang baru pulang dari kantor nya langsung menuju rumah sakit di mana Riana di rawat, tapi Alkairo sangat kecewa begitu melihat kamar inap Riana sudah kosong dan juga sudah di rapikan oleh OB di rumah sakit tersebut.
''Maaf suster, pasien yang ada di kamar ini kemana ya?'' tanya Alkairo kepada salah satu suster yang kebetulan lewat di depan nya.
''Pasien di ruangan ini sudah pulang Tuan,'' jawab nya dengan ramah.
__ADS_1
''Terima kasih,'' jawab Alkairo dan melangkah pergi, tak lupa juga dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel guna menghubungi Andrian. Namun Alkairo harus merasa kecewa lagi karena pinsel Andrian yidak aktif.
Alkairo mengambil mobilnya dan melakukan menuju apartemen Andrian dan juga Riana, dia sangat yakin kalau Riana dan kakak nya bakalan ada di apartemen nya kali ini, tapi lagi lagi Alkairo harus kecewa dengan tidak adanya Riana di dalam nya.
''Kemana kamu pergi Ri,'' Alkairo merutuki dirinya sendiri karena tidak cepat pulang tadi sore, Alkairo pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Dengan langkah lesu Alkairo masuk ke dalam rumah nya setelah pulang dari apartemen Riana. Sang Mama yang sedari tadi sudah menunggu di ruang tamu segera mencegah langkah Alkairo yang akan menaiki tangga menuju kamar nya.
''Al, Mama mau ngomong sama kamu sebentar,'' ucap sang Mama dengan tatapan mengintimidasi.
''Jangan sekarang Ma, Al sedang malas untuk berdebat dengan Mama,'' sahut Alkairo yang tak mau berdebat dengan Mama nya, karena Alkairo mengira Mama nya akan berkata yang bukan bukan lagi kepadanya.
''Ya sudah sanah pergi, tapi kamu jangan menyesal kalau Riana tidak akan kembali ke negara ini lagi,'' seru Mama Mala dengan sangat lantang, membuat Alkairo menoleh ke arah sang Mama dan datang menghampiri nya.
''Jadi Mama tau Riana pergi kemana sekarang?'' tanya Alkairo di hadapan Mama nya.
''Nggak penting!'' kata Mama Mala yang sudah emosi dengan sikap sangat anak yang selalu ia manja dari dulu.
''Ma, Mama kok gitu sich! kasih tau Allah dong,'' teriak Alkairo ketika sangat Mama yang di hampiri malah masuk ke dalam kamar nya.
''Ach, bodoh banget sich kamu Al?!'' desisnya dengan meninju ke udara.
Alkairo menarik nafas panjang dan kembali melangkah ke anak tangga untuk sampai ke kamar nya, Alkairo membaringkan tubuh lelah nya ke ranjang king size nya, tanpa mau membersihkan tubuh nya terlebih dahulu.
Tubuh yang begitu lelah, dengan pikiran yang entah melayang kemana, akibat memikirkan Riana yang tidak tau keberada'an nya saat ini.
__ADS_1