CEO Cantik Adalah Istriku

CEO Cantik Adalah Istriku
Bab 28. CCAI 28


__ADS_3

Masih di dalam kamar Riana, di mana Alkairo masih setia terus menunggu istri nya, Andriana sejak tadi belum juga keluar dari kamar mandi entah apa yang sedang dia lakukan di sana membuat Alkairo menjadi khawatir.


Alkairo beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan menuju kamar mandi, namun kamar mandi terkunci dari dalam.


Tok tok tok


''Sayang, kamu baik baik saja kan di dalam,'' panggil Alkairo dari luar kamar mandi seraya terus berteriak memanggil sangat istri.


Tak ada jawaban dari dalam, ''Kalau kamu tidak jawab, akan aku dobrak sekarang pintunya,'' Alkairo yang sudah kebingungan langsung mengambil ancang ancang buat mendobrak pintu kamar mandinya, namun pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka dari dalam, dan menampakkan sosok wanita cantik yang hanya berbalut handuk.


''Apa sich Mas, Ria lupa nggak bawa baju tadi ke kamar mandi, jadi Ria malu mau keluar,'' kata Riana menundukkan kepalanya, karena sang suami menatap Riana dari atas ke bawah, dengan penampilan Riana yang baru ia lihat.


Selama satu kamar dengan Riana, Alkairo tak pernah melihat Riana berbalut handuk seperti ini, Riana selalu membawa baju ganti ke dalam kamar mandi nya, meski di sana ada walk in closet nya.


''Kenapa Mas Alkairo natap Riana seperti itu sich,'' tanya Riana dengan sangat hati hati, takut nya dia malah membuat suaminya salah faham dengan pertanya'an nya. ''Ya sudah aku mau ganti baju sekarang saja,'' putus Riana, karena suaminya tidak menjawab semua pertanya'an nya.


Sedangkan Alkairo dengan susah payah menelan ludahnya yang tercekat di tenggorokan nya, setelah melihat tubuh mulus sang istri.


'Al, tahan sebentar lagi?' gumam Alkairo di dalam hatinya. ''Sayang, setelah ini aku mau ngobrol sama kamu,'' Ujar Alkairo setengah berteriak, berhubung Riana kini masih berada di dalam walk in closet nya.


''Iya sebentar, Riana sebentar lagi kelar kok ganti bajunya,'' Riana balik berteruak kepada sang suami.


''Ada apa sich, Mas Al hari ini? serius terus bawa'an nya,'' bisik nya pada dirinya sendiri, sembari memakai baju santainya.


Riana berjalan dengan santai menuju meja rias yang ada di depan Alkairo, celana pendek dengan kaos pres body yang menjadi pilihan Riana sore ini, Riana terlihat seperti wanita wanita Abg lainnya.


''Sayang, kamu seperti wanita yang masih kuliah saja, kalau memakai pakaian seperti itu? bukan seperti Nyonya Alkairo,'' Ucap Alkairo menatap tampilan istri yang baru beberapa hari ia nikahi.


''Iya, emang aku lebih suka pakaian seperti ini kalau sedang di rumah Mas, lebih enak saja ketimbang harus pakek dress ribet kalau duduk di bawah,'' jawab Riana yang sedang menyisir rambut panjang nya.


''Kalau Mas boleh jujur, kamu marah nggak?'' tanya Alkairo dengan pelan.


Riana menoleh ke arah suaminya, ''Jujur saja Mas, kalau itu semua tidak menyakiti hati Riana kenapa Mas Alkairo takut mau ngomong jujur,'' sahut Riana memandangi wajah suaminya yang tertunduk.


''Mas ingin kamu seperti Sania,'' jawab Alkairo dengan takut, Alkairo lebih suka melihat istri nya menutup aurat nya, ketimbang harus mengumbar aurat nya. Meski pakaian Riana tidaklah selalu seksi di mata semua orang, namun keinginan Alkairo mempunyai istri yang sholehah membuat nya harus berkata jujur kepada istri nya.

__ADS_1


''Mas Al yakin dengan ucapan nya?'' Riana meyakinkan ucapan suaminya sekali lagi, ''Bukan nya laki-laki lebih suka melihat wanita yang berpakaian seksi dan juga memperlihatkan rambut indah nya,'' tambah nya, Riana tak ingin suaminya menyesal di kemudian hari setelah Riana benar-benar istiqomah memakai pakaian yang tertutup.


''Insya Allah tidak sayang, Mas hanya senang saja ketika melihat sepupu dan juga Bunda kamu berpakaian tertutup, kayaknya adem gitu rasanya. Aku pernah bertanya kepada Arlan waktu itu, mengenai Sania yang berpakaian muslimah? Arlan begitu senang melihat istri nya yang sekarang ketimabang harus melihat istri yang membuka aurat nya,'' Alkairo menceritakan semua yang ia dengar dari adik ipar nya tersebut.


''Cobalah sayang, kamu akan lebih sangat cantik dengan pakaian itu, tapi Mas nggak akan memaksa kamu kok? Mas hanya ingin kamu mencoba nya saja, siapa tau kamu menginginkan juga kan,'' lanjut Alkairo yang kini sudah ada di belakang sang istri.


''Insya Allah, do'akan saja Mas,'' balas Riana dengan mengulas senyum di bibir manisnya.


''Maaf ya, kalau Mas selalu minta yang tidak tidak sama kamu,'' Alkairo merasa tak enak hati melihat istri nya yang sedang memikirkan sesuatu di depan nya.


''Nggak apa apa kok, Riana hanya berpikir kenapa Riana punya suami yang sepemikiran dengan Riana gitu saja,'' jawab Riana mengelus punggung tangan Alkairo. ''Sudahlah, kita turun ke bawah sekarang, takutnya Mama sama Papa mengira kita belum datang lagi,'' ajak nya dengan menggenggam lengan suaminya dengan mesra.


Alkairo tersenyum dengan semua ungkapan Riana barusan, berarti Riana juga punya pikiran yang sama, sama sama menginginkan memakai baju tertutup (syar'i).


...****************...


Laura kini sedang menata baju baju baby boy nya ke tempat yang sudah di sediakan oleh sang mertua, menginginkan sebentar lagi Laura akan melahirkan puteranya, buah cinta dengan Michael, meski Michael masih bersikap dingin, tapi Michael perlahan sudah menerima kehadiran Laura sebagai istri dan juga Ibu dari baby boy nya nanti.


Michael membuka pintu kamar baby boy dengan perlahan, dan terlihat Laura tengah memasukkan baju baju ke dalam almari di sana, Michael sering melihat Laura tidak pernah menyuruh para pelayan nya lagi, selama dia bisa melakukan nya sendiri. Berbanding terbalik dengan dulu, ketika Laura awal awal nikah dengan nya, Laura sering berteriak tak tentu di rumah orang tuanya, tapi sekarang Michael sudah mendengar teriakan teriakan itu lagi dari Laura.


''Ach, kamu sudah pulang Mas?'' jawab Laura dengan suara lembut nya.


''Iya, baru saja sampai? kan ada mbak nya, kenapa kamu beresin sendiri semua baju baju ini,'' kata Michael duduk di sofa tunggal, Mama nya sudah mempersiapkan semua nya di kamar ini, sofa tunggal untuk Laura menyusui putera kecilnya nanti.


''Nggak apa apa kok, lagian mbaknya pasti capek sudah melakukan semua pekerja'an sejak pagi, aku juga sedang nggak kerja'an, jadi lebih baik beresin baju baby dech,'' tukas nya panjang lebar.


''Tapi ingat jangan terlalu capek dengan semua kegiatan kamu,'' Michael menasehati sang istri.


Laura merasa senang, kini suaminya yang tidak pernah menganggapnya, sedikit demi sedikit sudah mulai perhatian dengan nya, ''Iya Mas,'' balas nya dengan senyuman yang mengembang di bibir merah nya, menambah kesan manis di wajah nya.


Michael berjalan menghampiri Laura dan berjongkok di depan nya, perlakuan seperti itu membuat Laura terkejut dengan perlakuan Michael.


''Apa dia nakal di dalam sini,'' tanya nya seraya mengelus perut buncit Laura.


''Nggak juga kok Mas, cuma sesekali dia menendang keras,'' jawab Laura dan sekarang baby nya malah merespon dengan tendangan lagi, membuat Laura mengaduh.

__ADS_1


''Aduhh,''


''Apakah ini sakit?'' tanya Michael dengan sedikit khawatir, sambil terus mengelus perut Laura.


''Sedikit, tapi ya nikmati saja momen momen seperti ini Mas,'' jawab nya dengan mengulas senyum.


''Jagoan Daddy tidak boleh nakal, Mama kamu kesakitan,'' Ucap Michael di depan perut Laura, membuat calon baby nya membeliak, membuat Michael tersenyum dengan calon baby nya.


''Sudah, lebih baik kamu istirahat saja di kamar, biar mbak sama Bibi yang nyelesain ini semua nya nanti,'' ujar Michael yang mendongakkan kepalanya, menatap wajah putih sang istri.


Laura mengangguk dan berdiri dari dari duduk nya, namun kakinya terasa kram ketika dia mencoba bangun dari duduk nya.


''Kamu nggak apa apa kan, dan kenapa kaki kamu bengkak gini?'' tanya Michael yang baru menyadari kalau kaki istri nya sudah mulai bengkak.


''Nggak apa apa kok Mas, kata Mama ini hal yang wajar buat wanita hamil yang sebentar lagi akan melahirkan,'' balas Laura meraih meja sebagai pegangan untuk bangun kembali dari duduk nya.


Michael yang melihat Laura kesusahan untuk beranjak dari tempat nya, langsung menggotong ke kamar nya, Laura sebenarnya nggak mau dengan perlakuan Michael saat ini, dia meronta minta turun dari gendongan suaminya, namun Michael tidak menggubris apa yang di ucapkan Laura.


Dengan sangat perlahan Michael menaruh Laura di atas tempat tidur nya, ''Diam di sini, biar aku ambilkan air hangat untuk meng kompres kaki kamu,'' Michael pergi meninggalkan Laura yang masih dalam keada'an kebingungan melihat sikap perhatian sang suami.


''Aku sangat senang dngan semua perlakuan kamu terhadap mu Mas, tapi aku mulai takut kalau kamu bersikap baik kepada ku, kamu akan pergi meninggalkan aku setelah ini,'' Ucap Laura dengan nada lirih nya, Laura memejamkan matanya sejenak agar air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya tidak menetes keluar.


''Kamu tidur,'' tiba tiba suara mengagetkan Laura. Laura membuka matanya dan melihat Michael sedang membawa sebuah baskom yang berisi air hangat.


''Kalau kamu mau tidur, harusnya kamu benerin posisi kamu dulu, biar kamu tidak jengah,'' protes Michael dan membenarkan posisi tidur Laura.


''Tidur lah, biar aku kompres kaki kamu,'' ucapnya dan memeras kain yang sudah ada di dalam baskom yang ia bawa tadi.


''Aku bisa sendiri kok Mas, biar aku saja yang meng kompres kakiku,'' Laura mencoba bangun dari tiduran nya, namun Michael menahan nya, agar Laura tetap berbaring.


''Sudah lah nurut saja sama aku, aku paling males dengan wanita yang pembangkang,'' tukas nya dengan sedikit kesal, melihat Laura yang mulai tidak menurut kepada nya.


Laura mengangguk pelan dan mulai merasakan perlakuan baik dari sang suami, Laura memejamkan matanya dan pura pura tidur agar tidak terlalu canggung ketika bersitatap dengan Michael.


''Terima kasih sudah mulai menerimaku Mas, tapi aku masih ragu dengan semua peelakuan kamu kepadaku ini, aku takut kamu bakalan ninggalin aku setelah anak ini lahir,'' bisik nya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2