
Riana bertugas di, di visi keuangan? Papa mertua nya sengaja menaruh menantunya di sana, agar lebih memudahkan dia, dalam melako semua tugas nya.
Tadi Riana berpakaian serba rapi dari rumah nya, karena dia sengaja berpakaian seperti itu agar suami dan Mama Nathalie tidak curiga dengan penampilan Riana.
Dengan rambut di kuncir dan juga kacamata tebal sudah menghiasi wajah cantik Riana.
''Heh, anak baru ya,'' tanya salah satu yang juga ada di di visi tersebut.
''Iya kak,'' jawab Riana dengan membenarkan kacamata tebal nya.
''Tolong bantu bawa semua berkas ini ke ruangan direktur dong, banyak banget yang mau di bawa soal nya,'' ucap nya dengan di angguki Riana.
'Aku harus bersabar,' guna Riana dwngan mengangkat berkas berkas yang ada di atas meja rekan kerja nya.
Riana juga ingin tau seperti apa yang menjadi direktur kantor cabang suami nya, berjalan dengan seperti biasa dan juga sesekali melihat jam tangan yang sudah di atur dengan sedemikian rupa.
Jam tangan yang bisa merekam suara dan juga merekam gambar.
Tok tok tok
Rekan kerja Riana mengetuk pintu ruangan sang direktur, terdengar suara yang mengatakan masuk dari dalam.
Riana dan juga teman nya pun melangkah masuk ke dalam ruangan dengan membawa banyak berkas di sana, entah berkas apa saja? yang pasti berkas berkas tersebut sangat banyak.
''Ini semua berkas nya Pak,'' kata Nela menaruh berkas di atas meja sang direktur.
''Taruh saja di sana?'' titah nya tanpa melihat ke arah Nela yang sudah menaruh swmua berkas di atas meja nya.
''Ada lagi Pak?'' tanya Nela sebelum keluar dari ruangan sang direktur.
__ADS_1
''Tidak ada lagi, mungkin nanti aku panggil kamu lagi ke ruangan ku,'' jawab nya yang masih sibuk dengan ponsel nya. ''Tunggu dulu Nela, di samping kamu itu siapa,'' tanya nya ketika sudah menyadari kalau Nela tidak sendiri masuk ke ruangan nya.
''Ini karyawan baru Pak, dan mulai hari ini dia bekerja,'' jawab Nela dengan memandang Riana yang menunduk.
''Nemu di mana karyawan seperti ini, jelek banget,'' sang direktur menghina Riana yang berpenampilan jelek.
''Penampilan nya desa banget,'' celetuk nya lagi, ketika melihat penampilan Riana dari atas ke bawah.
''Tapi dia sangat berprestasi kok Pak, dia juga sebelumnya sudah bekerja di sebuah perusaha'an swasta, dan diapun di akui kinerja nya sangat bagus, tapi...''
''Tapi saya berhenti ketika ada yang berkhianat Pak,'' Riana memotong pembicara'an Nela yang sebenarnya itu hanya karangan dia saja.
''Kenapa bisa berhenti, kan bukan kamu yang berkhianat,'' tanya sang direktur dengan mengangkat alis nya ke atas. ''Ciba rubah penampilan kamu lebih bagus lagi, pasti akan banyak orang yang suka dengan kamu,'' papar nya dengan tanpa sadar.
''Maaf Pak, saya disini ingin kerja, bukan mencari pacar atau bahkan membuat semua orang suka sama saya,'' jawab nya dwnganntegas dan melangkah pergi, Riana juga sudah jengah mendengar ucapan direktur nya yang seperti nya hanya menyukai wanita yang berpenampilan wah dan juga seksi.
Nela hanya memandang dari belakang, tak lama kemudian Nela juga berpamitan kepada sang atasan, ''Maafkan kesalahan dia Pak, dia masih baru dan tidak terlalu tau dengan aturan kantor ini,'' Nela mencoba membela Riana yang notabene nya adalah karyawan baru, tapi dia sudah sangat berani kepada direktur nya.
''Kamu apa apa'an sich, kalau kamu sampai di pecat dari kantor ini? kamu mau kerja di mana,'' Nela mencecar Riana yang sudah bersikap tidak sopan kepada sang atasan.
''Ya tinggal risen aja, gampang kan?'' jawab nya tanpa ia sadari di sana daerah ada seorang laki-laki yang terus mengawasi nya.
''Memang kamu pantas menjadi istri Alkairo, selain kamu pintar? kamu juga hebat dengan berpenampilan seperti itu, kamu sudah membuat aku semakin cinta dan juga sayang sama kamu,'' gumam Alkairo yang melihat Riana dari jauh.
''Tuan muda, anda datang kemari,'' tanya salah satu karyawan kepercaya'an Alkairo, Alkairo yang mendengar sapa'an nya, langsung menaruh telunjuk di bibir nya.
''Bapak jangan keras keras, aku ke sini hanya ingin tau keada'an kantor ini saja,'' Alkairo mengingat kan sang karyawan, dan Alkairo juga berkata bohong, sebenarnya dia datang ke kantor cabang nya hanya untuk mengetahui keadaan istri nya saja tidak lebih.
''Riana, kamu sangat berani rupanya,'' seru Nela dengan menautkan kedua alis nya ketika mendengar Riana begitu berani, Riana juga dengan entengnya mengatakan kalau dia akan risen.
__ADS_1
''Lagian direktur nya saja seperti itu, lagian kalau jadi direktur tuh harus baik dan juga bersikap rahasia kepada semua karyawan nya, jangan hanya melihat seseorang dari casing luar nya saja, casing luarnya bisa mengecoh seseorang, tapi tidak dengan hati?'' jawab Riana panjang lebar.
Meskipun dia hanya berpura-pura menjadi karyawan biasa di sana, dia juga tidak maunkalai dirinya di hina oleh direktur di kantor cabang tersebut.
Sebisa mungkin Riana harus bisa mengetahui orang orang yang ikut andil dalam penggelapan uang di kantor cabang suaminya.
''Sudah lah kak Nela, Ria juga kesal dengan direktur tadi, dia menghina Riana karena berpenampilan seperti ini kan?''
''Bukan begitu Ria, kamu tidak tau saja soal direktur kita, nanti aku kan ceritakan semuanya sama kamu, kalau ada waktu luang,'' balas nya dengan menghampiri meja kerja nya.
''Kak Nela, kalau boleh tau? siapa yang memilih direktur tadi,'' tanya Riana yang masih sangat penasaran.
''Entah lah, aku bekerja di sini direktur itu sudah ada di kantor ini juga,'' jawab Nela dengan jujur.
Riana melihat mata Nela dengan tatapan yang sulit di artikan, Riana masih mencari kebenaran semua ucapan Nela barusan melalui matanya, tapi tidak ada kebohongan sama sekali di kedua mata Nela sang rekan kerja.
''Riana sangat menyayangkan saja kak Nela, banyak karyawan lain yang lebih sopan dari sang direktur, tapi kenapa malah dia yang menjadi direktur di kantor ini, ini yang membuat semua karyawan tidak betah bekerja di kantor ini, karena harus mengikuti prosedur dari kantor. Dulu aku bekerja di perusaha'an besar? tidak gini kok, tapi di sini bahkan kantor kecil kenapa harus membuat karyawan lainnya terkekang sich,'' Ucap Riana dengan panjang lebat, mengeluarkan semua unek unek yang ada di dalam hatinya saat ini.
''Sudah, lebih baik kita bekerja sekarang, dan jangan banyak protes lagi,'' kata Nela yang mengetahui sang atas sedang keluar dari ruangan nya.
'Yach cemen jadi karyawan, untung saja aku sekarang sedang menyamar, kalau tidak habis tu direktur,' gumam Riana ketika melihat direktur yang sombong dan juga angkuh keluar dari ruangannya.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih ππππππππ.