
Riana lagi lagi hanya mengangguk dan ikhlas menerima perlakuan yang di lakukan oleh Alkairo kepada tubuh nya, sehingga membuat malam yang dingin ini terasa sangat panas dengan pergilatan mereka berdua, Alkairo tersenyum puas karena mengetahui sang istri masih yersegel dan dia yang menerobos nya malam ini.
Riana mencengkram bahu kekar Alkairo sehingga meninggalkan bekas di sana, rasa perih tak ia hiraukan karena tengah menikmati Surga Dunia yang sudah Tuhan anugrah kan kepada nya. Seorang istri yang cantik dan juga baik, dan sekarang Alkairo merasa sangat beruntung mendapatkan wanita yang masih suci tanpa pernah di jamah oleh seseorang selain dirinya.
Pergulatan nyang cukup menguras tenaga membuat Riana kelelahan sehingga tertidur sampai jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Riana mengerjapkan matanya melihat ke sekeliling mencari keberada'an suaminya yang tak ia temukan di mana-mana.
Mencoba untuk turun dari tempat tidur nya, dan berjalan menuju ke kamar mandi, namun siapa sangka? rasa perih yang menyeruak tiba-tiba ketika dia ingin melangkahkan kakinya.
''Awwww,'' ringis nya bertepatan dengan kemunculan Alkairo dari pintu kamar nya.
''Sayang, kamu kenapa?'' tanya Alkairo yang sedikit khawatir kepada Riana, karena baru saja mendengar tingisan dari bibir ranum sang istri.
''Mas, entah kenapa rasanya sangat sakit Mas,'' adu Riana kepada sang suami.
''Lebih baik kamu tiduran saja di tempat tidur,''
''Tapi Mas, Riana mau mandi? masak ia Riana tidak mandi sich,'' tolak Riana dengan cemberut.
''Ya sudah aku gendong kamu ke kamar mandi,'' Alkairo langsung menggendong sang istri yang masih telan**jang bulat tanpa sehelai baju pun, di bawa ke dalam kamar mandi, Alkairo mengisi bakal mandi dengan air hangat untuk sang istri berendam.
Riana kini sedang berendam dengan wangi wangian vanila yang di tuangkan oleh Alkairo tadi sebelum memasukkan Riana ke dalam bakal mandi yang di beri nama bathub itu.
Alkairo kembali ke kamar untuk mengambilkan baju sang istri di lemari kecil di dekat meja rias nya, tiba-tiba berhenti ketika menemukan bercak merah di sprei tepat di bawah Riana, Alkairo menyunggingkan senyuman nya bahagia melihat bercak merah tersebut.
Dia bangga sekaligus bahagia dengan melihat hal tersebut.
Dengan segera Alkairo mengganti sprei dengan yang bersih, agar istri nya tidak merasa malu ketika juga melihat bercak merah itu di tempat tidur nya. Alkairo menaruh sprei tersebut ke dalam keranjang baju kotor nya.
Tok tok tok
Alkairo mengetuk pintu kamar mandi lebih dulu, takutnya sang istri masih merasa malu dengan kejadian semalam.
__ADS_1
''sudah sayang?'' tanya Alkairo dari luar kamar nya.
''Sebentar lagi Mas, lebih baik Mas Al tunggu di luar saja, aku malu kalau Mas Al masuk ke dalam,'' jawab Riana dengan suara yang sedikit di kerasin, agar suaminya bisa mendengar nya dengan jelas.
Riana membuka pintu kamar mandi sedikit, memberi celah agar dirinya bisa menerima baju yang di bawa suaminya saat ini, ''Terima kasih Mas,'' ucap Riana ketika sudah menerima baju pemberian suaminya.
''Sama sama sayang?'' tukas nya dengan menutup kembali pintu kamar mandi nya.
Alkairo tersenyum sendiri dengan menyandarkan tubuh nya ke pintu kamar mandi, mengingat pergulatan semalam yang tidak hanya satu melainkan tiga kali sekaligus, membuat Riana sangat kelelahan di buat nya.
...****************...
Christopher sedang menunggu kedatangan sang bos, karena hari ini akan meeting dengan klien nya yang bernama tuan Tomo.
''Akhirnya kamu datang juga bro, aku kira istri kamu lagi yang bakalan datang untuk mewakili pertemuan ini, seperti kemarin,'' gumam nya dengan hati-hati.
''Istri ku sedang tidak enak badan, mungkin dia sedang kelelahan karena kemarin dia mencoba menyelesaikan semua pekerja'an ku di sini,'' jawab nya dengan sedikit menghembuskan nafas nya.
''Namanya juga perempuan, jadi gampang sakit? sudah, lebih baik kita berangkat sekarang saja, aku juga mau cepat pulang ke rumah, kasian istri ku sudah nunggu,'' sahutnya tanpa menoleh ke arah Christopher yang ada di samping nya.
''Dasar bucin,'' tukas nya dengan melirik ke arah Alkairo yang tak merespon sama sekali.
Alkairo dan Christopher masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan sebelum nya oleh petugas keamanan yang sedang bertugas di sana, Alkairo hanya mengangguk kan kepalanya ketika sang satpam membungkuk hormat.
''Aku harap Tuan Tomo bisa menerima usulan dari perusaha'an kita,'' Christopher membuka obrolan nya ketika sudah berada di dalam mobil nya.
''Kalau dia tidak bisa menerima usulan dari kita, kita batalkan kerja sama ini, beres tanpa harus memikirkan sesuatu yang sulit untuk perusaha'an kita kan!'' sahut Alkairo dengan nada dingin nya.
''Ya itu lebih baik lagi, tidak membuatku kerepotan dan juga kesusahan dengan urusan yang seperti ini, apalagi pemilik perusaha'an yang mengajak kita untuk bekerja sama, sangat lah pelit dan cukup perhitungan dalam bagi hasil.'' cerita Christopher yang tidak terlalu suka dengan kerja sama saat ini.
''Sudah lah, lebih baik kita ikuti saja permainan dari Tuan Tomo itu, aku juga mau lihat? seberapa besar kekuatan dia dengan mengajak kita kerjasama,'' Alkairo tersenyum tipis dengan mendengar sisi buruk Tuan Tomo.
20 menit, Alkairo dan juga Christopher sudah sampai di restoran tempat mereka temu janji dengan Tuan Tomo.
__ADS_1
''Permisi, maaf mau tanya meja atas nama Tuan Tomo,'' tanya Christopher ketika sudah memasuki restoran.
''Mari Tuan, saya antar ke ruangan yang sudah di reservasi Tuan Tomo,'' jawab nya dengan berjalan lebih dulu, dengan di ikuti kedua laki-laki gagah dan juga tampan dari belakang nya.
''Ini adalah ruangan yang di reservasi oleh Tuan Tomo, dan sekarang beliau sudah ada di dalam sedang menunggu kedatangan Tuan Alkairo,'' jelas nya dengan mempersilahkan Alkairo dan juga Christopher untuk masuk ke dalam ruangan yang pintu nya masih tertutup.
Sedangkan di dalam ruangan, Tuan Tomo sudah di temani dua wanita cantik yang sengaja ia boking sebelum nya untuk mencoba merayu lawan bisnis nya.
''Tuan Alkairo dan Tuan Christopher sudah datang? mari silahkan duduk,'' Tuan Tomo mempersilahkan semuanya untuk duduk di kursi yang sudah ia persiapkan untuk keduanya.
Alkairo dan juga Christopher hanya mengangguk dan tho the poin, Alkairo merasa risih dengan pertemuan nya dengan Tuan Tomo hati ini, tapi ini semua untuk perusaha'an Papa nya yang sedang di mainkan oleh Tuan Tomo, jadi mau tak mau Alkairo mencoba untuk bermain main juga dengan orang yang sudah setengah tua, tapi sangat lucik dalam dunia bisnis.
Alkairo mengangkat sudut bibir ke atas melihat tatapan Tuan Tomo yang di peruntukkan untuk kedua wanita di samping kanan dan juga kirinya.
Mereka semua sedang membahas kerja saman yang akan di lakukan selama beberapa tahun ke depan, Alkairo hanya menyimak kata kata yang di ucapkan oleh sekretaris Tuan Tomo yang tidak masuk akal menurut nya, bagaimana mau masuk akal, sedangkan Tuan Tomo selaku minta dana kepada Alkairo, meminta pendapatan yang cukup tinggi, sedangkan pemberi dana seperti Alkairo hanya bisa mendapatkan 20% saja dari keuntungan sebelum nya.
Akan kah Alkairo mau bekerja sama dengan Tuan Tomo yang sangat licik dan juga mata duaitan itu.
tunggu kelanjutan nya ya.
.
.
.
.
Bersambung
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasihππππππππ
__ADS_1