
''Anak baru belagu' amat,'' cetus salah satu tekan kerja nya yang juga satu ruangan dengan Riana.
''Bukan belagu' kak, tapi pintar,'' bela Riana dari seorang wanita yang menurut dia adalah antek dari sang direktur.
''Pintar dan belagu' jauh banget perbeda'an nya, sudah? kamu kerjakan semua ini dengan benar, jangan pergi kalau belum selesai, memgerti,'' papar nya dengan melotot ke arah Riana.
''Baik kak,'' jawab nya dengan mengangkat sudut bibir nya ke atas.
''Sama sama kuli saja bertingkah,'' gerutu Riana yang melihat Nela hanya menatap nya, tanpa mau membela nya ketika rekan kerja satu ruangan nya memberikan pekerja'an kepada nya.
''Namun yang sabar ya, nanti aku belikan makan siang kam,'' balas nya yang tau dengan tatapan dari Riana.
Riana hanya mengangguk dan mulai mengerjakan semua pekerja'an yang baru saja ia terima dari sesama rekan kerja nya.
Tapi sedetik kemudian Nela mengambil beberapa berkas yang ada di meja kerja Riana, ''Aku akan bantu selesaikan ini semua, tapi kamu jangan bilang bilang ya,'' bisik nya tepat di telinga Riana.
''Terima kasih,'' ucap Riana dengan membalas bisikan dari Nela rekan kerja nya.
'Akan aku beri pelajaran nanti, tunggu saja setelah semua ini terbongkar,' janji Riana di dalam hatinya, dia tidak mau ada salah satu karyawan nya yang semena mena dengan karyawan lainnya.
''Dia sudah biasa bersikap seperti itu, semua pekerja'an nya di limpahkan kepada semua rekan kerja nya, sedangkan dia juga menerima gaji tanpa susah susah bekerja,'' gumam Nela ketika melihat Riana masih bingung.
Riana mulai mengerjakan semuanya dengan tenang, bahkan panggilan dari Mama Nathalie saja ia abaikan karena saking khusyuk dengan semua berkas yang menumpuk di meja kerja nya.
...****************...
Di rumah Nathalie sedang bingung memikirkan keada'an menantunya yang sedati tadi tidak mau menerima panggilan nya.
''Kemana sich kamu sayang, sudah sore nich? kenapa kamu belum pulang juga,'' gumam Mama Nathalie dengan mondar mandir di teras rumah nya.
__ADS_1
''Mama sedang apa di teras, mondar-mandir seperti itu,'' tanya sang suami ketika baru turun dari mobil nya.
''Mama menunggu Riana Pa, dia belum pulang dari kantor cabang Alkairo, Mama khawatir sama dia, takut terjadi sesuatu githu,'' jawab nya dengan mengambil alih tas kerja Ayah Alkairo.
''Mama tidak usah Khawatir dengan menantu kita, dia bisa jaga diri kok di sana? lagipula tidak akan ada yang berani mengganggu dia juga kan?'' sambung nya dengan melonggarkan dasinya, seraya mendaratkan boking nya di sofa ruang tengah rumah nya.
''Tapi Mama sangat khawatir Pa, apa Papa lupa kalau dia saat ini sedang hamil cucu kita,'' ucap nya memilih duduk di samping suaminya.
Sedangkan Papa Alkairo hanya menghela nafas mendengar icehan istri nya, yang memang tidak mengetahui rencana nya dengan sang menantu.
''Di kantor cabang ada orang orang Papa kok, kalau misalkan terjadi sesuatu sama menantu kita, dia pasti akan mengabari kita semua kok Ma, lagian tadi siang Alkairo sudah memantau istri nya di kantor cabang nya,'' ungkap Papa Alkairo, agar istri nya tidak lagi merasa khawatir dengan menantu kesayangan nya.
''Tapi, sama saja Pa? kenapa Al tidak menyuruh Riana bekerja di kantor pusat saja, kenapa dia malah bekerja di kantor cabang dengan menjadi karyawan biasa sich,'' Mama Nathalie ngedumel karena menantu nya hanya menjadi karyawan biasa di kantor cabang putra nya.
'.Sudah lah, tadi pagi Mama juga melihat kan, Riana sendiri yang mau?'' putus Papa Alkairo yang tak ingin rencana nya terbongkar karena ucapan istri nya yang suka memancing obrolan nya.
Mama Nathalie hanya mengangguk seraya mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang, Mama Nathalie hanya menatuh tas kerja Papa Alkairo, setelah itu beliau kembali ke lantai bawah dan menuju ke dapur, untuk menyiapkan makan malam keluarga nya, namun sesekali Mama Nathalie menengok kena tahan luar melalui jendela yang memang ada di dapur.
''Kenapa Nyonya khawatir gitu,'' tanya pelayan yang ikut membantu memasak di dapur.
''Iya Mbok, aku khawatir sekali? sampai sekarang menantu ku belum juga pulang, sedangkan Alkairo sudah sampai tuh, tapi tidak dengan menantu ku,'' sahut nya menunjuk ke arah Alkairo yang baru turun dari mobil nya.
''Tapi sopir nyonya sudah berangkat untuk menjemput Nona Riana kok Nya, jadi Nyonya tidak perlu khawatir lagi,'' sang asisten memberi tahu Mama Nathalie kalau sopir nya sudah berangkat untuk menjemput menantu nya.
''Och, benar juga kamu mbok, jadi aku tidak perlu khawatir lagi, mungkin pekerja'an dia masih banyak di kantor nya,'' Mama Nathalie mendesah mengingat kantor cabang putra nya dalam masalah saat ini.
Alkairo sudah berada di dalam rumah, dan segera mencari keberada'an istri nya yang menurut dia sudah pulang dari kantor nya.
''Ma, kemana Riana,'' tanya nya ketika tidak melihat istri nya di dapur dan juga di ruangan lainnya.
__ADS_1
''Lho seharusnya Mama yang nanya seperti itu sama kamu, kamu sebagai suami harus tau jadwal oulang katanya di kantor, itu juga kantor kamu kok,'' bukan nya menjawab pertanya'an Alkairo, Mama Nathalie malah mengomeli putra nya, mengingat menantu nya yang belum oulang sampai hati semakin petang.
''Al kita dia sudah pulang, dan Mama tau nggak, di kantor istri Al juga sangat garang meski dia berpenampilan culun,'' adu Alkairo kepada sang Mama, mengingat istri nya tadi sempat melawan direktur kantor cabang nya.
''Apa kamu bilang?'' tanya Mama Nathalie memastikan, ketika beliau mendengar kata culun dari mulut putra nya.
''Iya, istri Al berpenampilan culun di kantor, jadi Al yrungkan tidak jadi menemui dia di sana, mungkin ini semua rencana Papa dengan Riana, tanpa sepengetahuan kita berdua,'' jelas nya membuat dahi Mama Nathalie mengerut.
''Masak sich, Papa kamu tega githu sama menantu nya sendiri, dengan mengirim dia ke kantor cabang kamu,'' tanya Mama Nathalie yang masih sibuk dengan spatula nya.
''Entah lah, di sana juga ada orang orang kepercaya'an Papa kok Ma,'' kini Alkairo sudah menyeruput air dingin yang ia ambil dari lemari pendingin.
''Lebih baik kamu mandi dan tengok langsung ke kantor, Mama takut terjadi sesuatu dengan iso kamu Al,'' titah nya dengan mendorong bahu putra nya untuk segera pergi.
''Baiklah Ma, Al ke kamar dulu,'' putus nya dengan mengambil tas kerja nya yang ia taruh di kursi byak jauh dari dapur.
Alkairo menaiki anak tangga dengan otak yang berputar putar tanpa arah, di sisi lain dia sedang memikirkan kantor cabang nya yang bermasalah, di sisi lain nya juga Alkairo sedang memikirkan istri nya yang masih belum mau menerima nya dengan baik selama dia hamil.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih ππππππππ.
__ADS_1