
Riana sangat bersyukur karena melihat saudara sepupu nya sudah semakin sehat, dan tidak ada tanda tanda penyakitnya akan kambuh lagi, sehingga Riana merasa sangat bahagia sekarang.
'Aku harap kebahagiaan ini selalu terpantri di keluarga kecil adek sepupu ku ya Allah,' Riana berdo'a di dalam hatinya, sekaligus bersyukur karena semua keluarganya di beri kesehatan sampai hati ini.
''Kita pulang sekarang?'' tanya Alkairo melihat jam tangan nya, baby yang ia pangku tadi sudah berpindah ke kamar nya, karena sudah tertidur pulas di pangkuan ayah nya.
Ya Sania mengajarkan anak anaknya untuk memanggil Riana dengan sebutan Bunda, dan yang pasti kepada calon suami Riana juga memanggil Ayah biar terlihat klop di mata semua orang.
''Baiklah, dek? aku titip adekku yang cerewet ini ya, jaga dia dan jangan sering mengamuk, nanti tensinya malah naik,'' kata Riana kepada suami adek sepupu nya.
Sania yang di ledekin hanya mengerucut kan bibir nya, dia mau balas perkataan sang kakak, namun dia berpikir kalau tak lama lagi kakak nya akan pergi setelah menikah, karena kakak sepupu nya akan tinggal bersama dengan suaminya di New York.
''Puas puasin saja ledekin Sania, paling sebentar lagi akan kangen sama Sania yang cerewet ini,'' sambung Sania dengan raut wajah yang sudah mulai sedih.
''Hey, kenapa menangis? aku kan belum pergi dari sini, lagian masih kurang 4 hari lagi kok,'' tukasnya dengan melangkah menghampiri sang adek.
Riana memeluk adek sepupu nya dengan erat dan berkata. ''Aku akan sering pulang kok, dan pastinya akan mengunjungi anak anakku yang ada di sini,'' gumam nya sehingga membuat Sania terkekeh karena ucapan kakak nya.
''Kakak hanya ngaku ngaku saja, sedangkan aku yang mengandung dan juga melahirkan, terus jangan lupa? aku juga mengurus mereka hingga menjadi gemoy seperti sekarang ini,'' balasnya dengan cemberut.
''Sudah lah sayang? kakak kamu hanya bercanda saja, toh dia sebentar lagi bakalan bikin sendiri, iyakan kak Al,'' kata Arlan ngasal, membuat Arlan menatap nya dengan tatapan dingin namun tak lama kemudian Alkairo menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan dari suami adik sepupu calon istri nya.
__ADS_1
Riana hanya memanyunkan bibir nya mendengar perkataan dari Arlan, Alkairo hanya menggeleng melihat calon istri nya yang bersikap seperti anak kecil itu.
Sikap seperti inilah yang bikin Alkairo menyukai Riana, karena sikap apa adanya, bukan sikap yang seolah di buat buat ketika berada di hadapan nya. Sedangkan Riana sendiri hanya bersikap seperti biasanya ketika sedang berkumpul dengan keluarga ataupun dengan teman teman nya.
''Kalau gitu kita pamit sekarang, anak anakku juga sudah tidur,'' pamit Riana dengan memeluk Sania, adek sepupu nya.
Sania mengangguk dan melambaikan tangan kepada sang kakak yang dari dulu begitu menyayangi dirinya.
''Ayo masuk, di luar dingin?'' Ujar Arlan merangkul pinggang sang istri yang masih seperti dulu.
Di perjalanan pulang menuju ke rumah Riana, Alkairo sempat bertanya kepada Riana karena penampilan adek sepupu nya. ''Emm... sayang? boleh bertanya nggak?'' meski dengan perasaan gugup tau Alkairo ingin tau yang sebenarnya.
''Apa-- adek sepupu kamu sudah lama pakek pakaian syar'i seperti itu,''
''Lumayan lama sich, sejak dia di vonis Leukimia,'' terang nya membuat Alkairo meminggirkan mobilnya, setelah mendengar ucapan salin istrinya.
''Maksud kamu adek kamu pernah sakit Leukimia?'' tanya Alkairo memastikan kalau pendengaran nya tidak salah.
''Iya, dia sempat lari dari rumah, demi menghindar dari keluarga besarku, dia berpikir kalau dirinya akan merepotkan kami semua, karena itu Sania memilih untuk pergi dari rumah, namun seiringnya waktu keluarga kamipun tau kalau Sania mengidap penyakit mematikan itu. Demi menutupi penyakitnya dia merubah penampilan nya dengan memakai baju baju gamis dan hijab nya, karena tanpa kami sadari perubahan Sania demi menutupi rambut nya yang hampir botak karena rontok, gara-gara melakukan kemoterapi,'' Riana menghentikan ceritanya sejenak, dia memejamkan matanya mengingat penyakit adek sepupu nya, namun kini air mata sudah membanjiri kedua pipinya, dan itu membuat Alkairo merasa bersalah karena harus mengingatkan kembali peristiwa tahun lalu, yang sudah berubah menjadi kebahagiaan dengan hadirnya si kembar.
''Maafkan aku sayang, aku tak bermaksud bikin kamu menangis, aku salah,'' Ujar Alkairo dengan menangkup pipi Riana.
__ADS_1
Riana tersenyum mendengar ucapan Alkairo, yang menghawatirkan nya. ''Nggak apa apa kok kak, sekarang sudah tidak sedih lagi? karena sudah ada 3 baby yang memberikan warna di kehidupan adek sepupu aku.
''Yang aku sesalkan dulu adalah, tidak cepat menemukan adek sepupu ku yang sudah di tinggal pergi Ayah nya, sejak dia masih berusia 5 tahun.'' Riana menarik nafas panjangnya, ''Jadi- aku sangat menyayangi dia lebih dari adek kandungku sendiri,'' lanjutnya dengan menghembuskan nafasnya secara kasar.
Alkairo kini mengerti, kenapa Riana begitu sayang dengan Sania, ternyata alasannya karena dia tidak tau paman nya meninggal,dan keluarga nya tidak mengetahui keluarga dari paman Riana, tapi aku sangat salut dengan apa yang Riana lakukan, aku jadi semakin cinta dengan wanita cantik satu ini, pikir Alkairo.
Setelah puas bercerita dan sempat di samperin polisi juga, karena berhenti di pinggir jalan yang di mana di sana sudah terdapat larangan berhenti.
''Maaf, apa mobilnya mengalami kerusakan?'' tanya seorang polisi yang sedang patroli.
Alkairo menurunkan kaca mobilnya agar bisa berkomunikasi dengan sang polisi yang bertanya. ''Maaf Pak, sebenarnya mobil kami tidak rusak tapi-''
''Apakah anda tidak mengetahui kalau di area ini di larang untuk berhenti,'' polisi tersebut langsung memotong ucapan Alkairo.
''Bukan begitu Pak, istri saya tadi tiba tiba sakut perut, jadi saya syok dengan kejadian itu, tanpa berpikir panjang? saya pun berhenti di sini tanpa melihat tanda larangan tersebut.''Jawab Alkairo berbohong, karena dia tidak tau kalau jalanan ini ada larangan seperti itu, pikirnya.
''Dia sedang hamil Pak, dan sekarang saya mau membawanya ke rumah sakit takut terjadi apa apa dengan calon anak kami,'' lagi lagi Alkairo berbohong yang mengatakan kalau Riana sedang hamil dan sedang kesakitan juga. ''Maaf Pak, kalau sudah tidak ada lagi, kamu mohon pamit untuk segera menuju rumah sakit,'' lanjutnya yang langsung di angguki oleh polisi tersebut.
''Semoga calon bayi dan juga ibu nya sehat selalu,'' tak lupa polisi tersebut mendo'akan Riana, sebelum mobil yang di kendarai Alkairo melaju.
''Terima kasih Pak, saya permisi dulu,'' pamit nya dengan menyalakan mibilnya dan berlalu pergi dengan cepat.
__ADS_1