CEO Cantik Adalah Istriku

CEO Cantik Adalah Istriku
7. CCAI 07


__ADS_3

Andrian mencoba membangunkan sang adik ketika hari sudah pagi, sedangkan matahari sudah mulai meninggi di ats kepala orang dewasa. Riana sengaja tidur lagi ketika selesai sholat subuh, karena hari ini adalah hari minggu dan ingin mengisi nya dengan istirahat dengan tidur sepuasnya, setelah kemarin kemarin memilih begadang hanya untuk mengusir kegalauan nya dengan sang mantan.


''Adek bangun,'' kata Andrian memiliki tepat di telinga sang adek.


''Kak Rian apa'an sich, Riana masih ngantuk??'' balas Riana masih tetap memejamkan matanya, karena terlalu mengantuk.


''Dek bangun? di luar ada Alkairo?'' Andrian masih mencoba membangunkan sang adek, mengingat Alkairo datang hanya untuk bertemu dengan sang adek.


''Riana ngantuk kak? suruh pulang sajalah,'' balas Riana yang tak mau bangun.


''Ayo bangun dulu?'' bujuk Andrian dengan membuka selimut sang adek.


Untung nya Riana tidur dengan piyama lengkap hari ini, karena selesai sholat subuh dia memilih tidur lagi dan sudah memakai baju lengkap. Tidak seperti biasanya yang hanya memakai tentop saja.


Pas Andrian membuka selimut Alkairo sudah berdiri di ambang pintu kamar Riana dan melihat jelas kalau Riana masih tidur di sana.


''Andrian, biarin sajalah adik kamu tidur? kayak nya dia sangat lelah setelah kemarin dia lembut terus,'' gumam Alkairo seraya menatap Riana yang masih bergelung dengan selimut nya.


Riana yang mendengar ucapan Alkairo langsung merubah posisi nya menjadi duduk, dan melihat penampilan nya dengan rambut yang acak acakan, namun masih terlihat sangat cantik walau tanpa polesan make up. Alkairo mengulas senyumnya ketika melihat Riana sudah terbangun dan terlihat bingung di depan sang kakak.


''Kak Al kenapa berdiri di sana? kak Rian juga, keluar dari kamar ku cepat!!'' Riana mengusir sang kakak dan juga Alkairo yang tak lain adalah teman Andrian.


Andrian melemparkan bantal ke muka adik nya seraya berkata, ''Cepat mandi, setelah itu kita akan pergi jalan jalan,'' Ucap nya dengan beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju Alkairo yang masih diam mematung di ambang pintu kamar sang adek.

__ADS_1


''Kita tunggu di ruang tamu saja,'' ajak Andrian sembari menutup pintu kamar adiknya.


Laki-laki tampan tersebut melangkah pergi menuju ruang tamu, sedangkan di dalam kamar, Riana masih mengumpulkan nyawanya dengan mengingat ngingat perkata'an yang Alkairo tadi ucapkan.


''Isshh!!'' desis nya dengan melemparkan selimut nya ke arah lain.


Riana masuk ke dalam kamar mandi hanya untuk sekedar cuci muka dan juga membasahi sebagian rambut nya, karena berdiri seperti singa.


''Sungguh menyebalkan sekali sich, niat hati ingin beristirahat dengan tenang? ech...malah ada saja set*an nya,'' gumam Riana yang masih betah di dalam kamar mandi nya.


Dengan mengoles krim paginya Riana keluar dari kamar nya dengan rambut yang masih belum di sisir rapi, hanya di gulung ke atas memperlihatkan leher putih nya, membuat Alkairo menelan ludah memandang wajah adek kembar teman nya.


''Kok belum mandi sich dek?'' tanya Andrian yang baru dari dapur.


''Kalau sudah mandi kenapa tidur lagi?'' tanya nya lagi dengan memberikan coklat hangat kepada Riana. Andrian hafal betul kalau sang adek lebih suka susu coklat ketimbang minuman lain nya ketika bangun tidur.


''Ya apa masalah nya sich kak? sekarang kan hari minggu, dan lagi pula sekarang tuh waktunya tidur,'' balas Riana dengan menyesap coklat hangat nya. ''Ngomong ngomong makasih ya coklat nya enak?'' tambah nya lagi dengan memperlihatkan deretan gigi putih nya.


''Hari minggu bukan cuma buat tidur seharian dek, jalan jalan gitu? healing kemana sama teman teman kamu,'' sahut Andrian yang juga sedang menyesap teh hangat nya. ''Lagian kakak sudah lapar banget nich, biasanya kamu masak kan?'' Andrian menatau wajah sang adek dengan aura mengintimidasi.


''Kak Rian tinggal pesan doang kan, lagian Riana sudah bilang tadi kalau Riana ngantuk, capek dan juga pegal semua badan nya, jadi malas mau ngapa ngapain,'' Andrian dan juga Riana sudah mulai berdebat, hanya masalah laper doang.


''Sudah, jangan ribut. Biar aku saja yang masak hari ini, lagian kan aku juga yang sudah mengganggu kalian pagi pagi kan?'' potong Alkairo dengan beranjak dari duduk nya, dan melangkahkan kakinya menuju dapur.

__ADS_1


Pertama tama Alkairo membuka lemari pendingin, melihat ada sayur apa saja di dalam, dan tak lupa juga Alkairo mengeluarkan ayam dan juga udang di dalam freezer.


''Kakak yakin, kalau kak Alkairo bisa masak,'' tanya Riana penasaran.


''Kamu lihat saja nanti, masakan spesial Alkairo buat orang spesial juga,'' jawab nya dengan melenggang pergi menuju ke kamar nya, untuk mengambil laptop. Walaupun hari minggu pekerja'an Andrian masih terlalu banyak yang harus segera di selesaikan.


Riana yang merasa tidak enak dengan Alkairo, beranjak dan berjalan menuju dapur, di mana Alkairo sudah mulai meracik bumbu yang akan ia masak, sedangkan daging ayam nya sudah ia goreng di wajan penggorengan, dan dengan santainya dia membolak balikkan ayam nya, tanpa takut terkena cipratan minyak panas.


''Sini kak, biar Riana bantu saja. Lagian ini kan sebenarnya tugas Riana sebagai cewek,'' kata Riana mengambil alih.


''Nggak apa apa kok, lagian aku juga sering bantu di dapur kalau lagi senggang di kantor,''


''Maksud kak Al bantuin Mama nya githu,'' tanya Riana, di saat jiwa kepo nya meronta ingin mengetahui lebih jelas lagi.


''Bukan, aku sering bantu koki di restoran,'' jawab Alkairo dengan singkat. Riana hanya ber oh ria saja, karena dia sudah tidak tau lagi harus membalas dengan ucapan apa lagi.


'Jadi, selain dia CEO di perusaha'an, dia juga punya restoran? hebat hebat, di usia dia sekarang aku nggak nyangka, ternyata ada laki-laki yang sudah mapan dan juga sukses,' gumam nya dalam hati seraya mengangguk ngangguk nggak jelas.


Tak butuh waktu lama masakan yang di masak Alkairo sudah tersaji di meja makan, tak lupa juga Alkairo membuat jus alpukat untuk mereka bertiga.


''Ayo di coba dulu masakan aku, kalau nggak enak buang saja ya, kita pesan go-food saja,'' ujar Alkairo pelan. Alkairo takut masakan nya tidak cocok di lidah saudara kembar di depan nya.


Andrian yang lebih dulu memakan masakan Alkairo, mulai mengangguk anggukkan kepalanya, seraya memberi dia jempol nya, karena masakan Alkairo sangat pas rasanya.

__ADS_1


Riana juga mulai memakan dan dia juga memberi jempolnya sembari mengembangkan senyuman manis nya di hadapan Alkairo dan juga di depan sang kakak.


__ADS_2