CEO Cantik Adalah Istriku

CEO Cantik Adalah Istriku
Bab 29. CCAI 29


__ADS_3

Malam itu Andriana, Alkairo, Papa Arzan dan juga Mama Citra sedang menikmati makan malam bersama di meja makan. Ada rasa sedih ketika Alkairo harus mengatakan apa yang sebenarnya ada di otaknya sejak tadi, mengingat sang istri Andriana yang sedang tertawa bersama dengan kedua orang tuanya, tapi Alkairo harus mengatakan semua nya dari sekarang, kalau dirinya dan juga sangat istri harus kembali ke New York, gara-gara ada masalah di perusaha'an nya di sana.


''Nak Al kenapa? apa ada yang sedang di pikirkan saat ini,'' tanya Mama Citra yang baru menyadari diamnya sang menantu.


''Emmm...'' Alkairo ragu ragu ingin mengatakan semuanya malam ini kepada semua nya, takutnya sang istri malah tidak mau di ajak kembali ke Negara kelahiran nya.


''Cerita saja, kalau memang sedang ada masalah, Mama dan Papa akan dengarkan kok?'' sambung Papa Arzan yang juga mengetahui ada masalah pada diri sang menantu.


''Sebenarnya Al mau ngomong sesuatu kepada Papa dan juga Mama,'' sahut Alkairo dengan takut.


''Katakan, apa yang ingin kamu katakan?'' jawab Mama Citra dengan sangat lembut.


''Al harus kembali ke new York Ma, perusaha'an di sana sedang mengalami masalah, dan asisten Al tidak bisa meng-handle sendirian di sana,'' kata Alkairo pelan, Andriana malah menatap suaminya dengan terkejut karena dia tidak tau menau soal itu.


''Kenapa Mas Al tidak cerita sama Riana, kenapa harus di umpetin seperti itu sich,'' seru Riana yang tak menyangka kalau suaminya merahasiakan perihal masalah di perusaha'an nya di Negara kelahiran nya.


''Aku hanya tidak ingin melihat kamu kepikiran saja dengan masalah ini sayang? bukan karena di tutup tutupi seperti apa kata kamu barusan.'' balas Alkairo yang kini menundukkan kepalanya di depan Riana.


''Mas, aku ini istri kamu? dan nggak seharusnya aku bisa tenang sedangkan kamu sendiri sedang bergelut dengan pikiran pikiran kamu ini,'' ujar Riana dengan nada tinggi, karena menurut Riana dia tidak di hargai sebagai istri nya.


''Kakak tenang saja dulu, suami kamu belum selesai,'' Mama Citra menegur sang puteri yang sudah terlihat marah di depan suaminya.


''Tapi Ma?'' jawab Riana namun langsung di potong oleh Papa Arzan.


''Kakak diam dulu sebentar ya,'' protes sang Papa.


''Sebenarnya Al juga baru tau soal ini barusan Pa, dan Al juga tak ingin membuat Riana sedih dengan berpisah dengan Mama dan juga Papa disini, tapi Al juga tidak ingin pergi tanpa Riana Pa,'' Alkairo berkata jujur kepada kedua orang tua sang istri.


''Kenapa Mas Al bisa berpikiran begitu? kalau Mas Al pergi otomatis Riana juga akan ikut?!'' kesal Riana dengan sikap suaminya yang menyimpulkan sendiri kalau dirinya tidak akan ikut dengan nya. ''Tadi Mama juga menghubungi Ria di kantor, Mama nanya kapan aku sama Mas Al balik ke sana, Ria hanya bisa bilang akan bicara dulu dengan mu Mas, tapi Mas Al sudah menyimpulkan kalau Ria tidak akan ikut pergi,'' tambah nya lagi.


''Sayang, maafkan aku,'' Ucap Alkairo dengan nada sedih nya.


''Kakak sudah jangan bersikap seperti itu sama suami kamu, suami kamu itu ada benarnya juga, dia tidak ingin mengganggu kebahagia'an kamu dengan Mama, maka dari itu suami kamu berpikir demikian, bukan bermaksud yang bagaimana bagaimana, mengertilah kak?'' Mama Citra menegur Riana dengan sangat lembut, agar puteri nya yang kini sudah menjadi seorang istri bisa paham dengan pemikiran suaminya.

__ADS_1


''Kapan rencananya balik?'' tanya Papa Arzan yang sedari tadi diam dan hanya menjadi pendengar saja.


''Kalau boleh besok saya akan membawa Riana balik Pa,'' jawab Alkairo dengan segala rasa gundah nya.


''Baiklah, Papa akan menyiapkan pesawat nya besok, kalian berdua sekarang sudah menjadi suami istri, dan suami istri harus bisa memahami satu sama lain, bukan hanya berpikir kasian kasian saja,'' kata Papa Arzan dengan nada tegas, mengingat sang puteri masih belum bisa berpikiran dewasa seperti saudara sepupu nya Sania.


''Terima kasih Pa,'' ucap Alkairo dengan senyum yang sudah mengembang di bibir nya, lalu Alkairo melirik ke arah samping nya dan ternyata sang istri masih saja cemberut, membuat Alkairo kembali menundukkan kepalanya.


''Sudah, lebih baik kalian beristirahat sekarang saja, besok akan menjalani perjalanan panjang,'' kata Papa Arzan ketika melihat sang puteri masih saja cemberut.


Papa Arzan melirik sang istri agar dia bisa membujuk puteri nya, Mama Citra yang di lirik pun mengerti apa yang harus dia lakukan kepada sang puteri.


''Kenapa kakak cemberut gitu, apa kakak tidak mau ikut pergi,'' Mama Citra tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu kepada Riana, ''Kalau masih betah di sini ya nggak apa apa, kalau kakak tinggal di sini, sedangkan nak Al harus kembali ke New York,'' tambah nya lagi.


''Bukan nya nggak mau ikut Ma, tapi cara Mas Al yang Riana tidak suka, kenapa tadi dia tidak menceritakan semuanya kepada Riana di dalam kamar,'' keluh nya dan masih sama menyalahkan Alkairo.


''Mas, tadi sudah bilang ingin mengatakan sesuatu, tapi kamu malah lama di dalam kamar mandi, apa Mas harus bercerita sambil berdiri di depan pintu kamar mandi, sedangkan kamu saja satu jam lebih di dalam sana,'' bela Alkairo yang sudah tidak mau lagi di salahkan oleh sang istri.


''Itu, itu bukan cuma salah Alkairo kak? tapi itu juga salah kakak yang tidak merespon dengan cepat apa yang di ucapkan suaminya tadi,'' sambung Mama Citra yang tak ingin membela siapapun, mengingat dirinya juga sayang dengan sang puteri, dan tak ingin puteri nya pergi meninggalkan dia sendiri di rumah. Tapi mengingat semua nya Mama Citra hanya bisa menghela nafas dan menghembuskan secara perlahan.


''Tapi tadi Riana lupa nggak bawa baju ke kamar mandi, jadi karena itu Riana lama di dalam?'' aku Riana yang juga sudah merasa bersalah, karena dia tidak cepat keluar ketika suaminya mengatakan ingin berbicara sesuatu tadi.


''Kakak harus lebih memahami lagi tentang suami kamu, bukankah menikah berjanji akan sehidup semati, tapi kenapa hanya gara-gara lupa bawa baju ke kamar mandi kakak jadi lama banget di dalam? Apa jangan jangan kakak belum memenuhi kewajiban sebagai istri,'' seru Mama Citra yang sedikit menggoda puteri nya.


''Apa'an sich Ma, Ria tu lagi halangan? masak ia harus ngelayanin suami di atas ranjang,'' balas Riana dengan blak blakan, Riana tak merasa malu dengan sang Papa yang masih duduk di dekat nya.


''Sayang, kalau ngomong tu ya di sensor dong, malu ada Papa,'' tegur Alkairo ketika mendengar penuturan sang istri.


''Apa salahnya, wong cuma Papa kok,'' balas Riana membuat Alkairo hanya menggeleng kan kepalanya pelan.


''Kalian balik saja ke kamar, siap siap biar besok tinggal berangkat saja,'' kata Mama Citra yang di angguki oleh Riana, sedangkan Papa Arzan hanya memegangi kening nya yang mulai terasa pening, mengingat sang putri terlalu absurd dalam bertutur kata.


...****************...

__ADS_1


Di New York Andrian sedang di sibukkan dengan proyek barunya, meski dia hanya pebisnis pendatang baru di sana, Andrian terbilang cepat menguasai pasar dan membuat perusaha'an yang ia rintis dari nol berkembang dengan pesat, mengalahkan perusaha'an perusaha'an besar lain nya. Papa Arzan tidak pernah ikut campur dalam dunia bisnis putera nya, Papa Arzan hanya membimbing sang putera ke jalan mana yang harus ia lewati agar semua orang yang merasa tidak suka dengan nya, tidak begitu mudah menembus ke dalam perusaha'an barunya.


-''Al, kamu benar-benar mau balik ke sini,'' tanya Andrian kepada adek ipar sekaligus sahabat nya.


-''Iya Bro, di perusaha'an mengalami masalah sedikit dan aku harus turun tangan langsung,'' jawab Alkairo di saluran telfon nya.


-''Apa adek ikut juga,'' tanya Andrian yang sudah merasa kangen dengan sang adek.


-''Ikutlah, kemanapun suaminya pergi? seorang istri harus ikut suaminya, itu kata Mama Citra sich, hehehehe,'' Alkairo terkekeh mengingat ucapan Mama mertuanya tadi.


-''Baguslah, aku kira adek nggak bakalan ikut karena kemarin dia masih belum telah ninggalin Mama,'' kata Andrian membuat Alkairo merasa bersalah kepada sang istri.


-''Entahlah Rian, aku juga masih merasa bersalah kepada Riana, tapi mau apa lagi kalau Mama Citra sudah ngomong seperti itu, lagian Mama aku juga sudah nelfonin Riana terus, untuk segera bakik ke sana, aku jadi serba salah dech,'' jelas Alkairo kepada kakak ipar nya.


-''Sudahlah, kalau Mama sudah bilang seperti itu sich, adek nggak bakalan banyak protes juga kan?'' balas Andrian yang kini sedang berada di kantor nya.


-''Ech lho masih di kantor jam segini Bro, jangan gadang terus nanti cepat tua lagi,'' ledek Alkairo dengan di selingkuh kekehan kecil, karena Alkairo masih tak menyangka kalau Andrian adalah sahabat nya, dan kini malah menjadi kakak iparnya karena Alkairo menikahi adek kembar Andrian.


-''Awas kualat lho Al, aku bakal aduin ke adek nanti,'' ancam Andrian membuat Alkairo bungkam seketika.


-''Ech ech ech, jangan jangan? aku hanya bercanda kali,'' Alkairo sedikit takut dengan ancaman Andrian kakak iparnya.


Sedang di seberang hanya tertawa melihat Alkairo yang kedengeran ketakutan ketika Andrian akan mengatakan semuanya kepada sang adek.


-''Dasar Susi,'' ledek Andrian. ''Sudah ach, aku mau lanjutin kerja'an aku, keburu malam lagi,'' ucapnya dan langsung memutuskan sambungan telfon nya sepihak.


''Kebiasa'an banget sich nich orang,'' gerutu Alkairo di dalam kamar nya.


Riana sendiri sudah tidur pulas di sebelah Alkairo, Alkairo bukan nya tidur malah sedang mencuri curi memandang wajah cantik istri nya, ''Kamu sangat cantik sayang? di tambah lagi pakek pakaian tertutup di luaran sana, pasti semakin cantik,'' gumam Alkairo lalu mencium kening Andriana dengan sangat lembut


Terima kasih yang sudah mampir dan sudah ngasih like nya.


Semoga suka dengan ceritanya ya, Terima kasihπŸ™πŸ’•πŸ™πŸ’•πŸ™πŸ’•πŸ™πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2