CEO Cantik Adalah Istriku

CEO Cantik Adalah Istriku
Bab 49. CCAI 49


__ADS_3

Keluarga Sanjaya dan juga Narendra sangat bahagia dengan kabar kehamilan Riana, semua orang terus menghubungi Riana di New York, tak terkecuali Sania dan juga Karan sang kakak.


''Akhirnya kak Riana hamil juga ya kak Pinky,'' ujar Sania yang memang kebetulan sedang bertandang di rumah Bunda nya.


''Iya dek, rasanya aku ingin sekali menghampiri Riana dan memberitahu semua hal perihal seputaran kehamilan,'' jawab Pinky sang kakak ipar.


''Di sana kan sudah ada Mama mertuanya kak, jadi kak Pinky tidak udah khawatir soal itu lagi,'' sahutnya dengan menimang salah satu anak kembar nya.


''Mungkin kita akan punya ponakan kembar setelah ini,'' seru Sania yang di angguki oleh Pinky.


''Sangat lucu pastinya, kalau kita punya ponakan kembar lagi, dan pastinya rumah ini akan semakin rame banget,'' balas Pinky dengan nada yang sangat bahagia sekarang.


Sania dan Pinky sangat bersyukur sekali karena saudara nya sudah hamil dan sebentar lagi rumah Mama Citra akan terisi tangisan bayi.

__ADS_1


''Kamu ada di sini rupanya, kenapa kamu tidak bilang dulu kalau kamu datang ke sini?'' tiba tiba Karan bertanya kepada sang adek.


''Memang Sania tidak boleh datang ke sini kak, kan Sania ke sini hanya jenguk Bunda saja, nggak bakalan nginep kok?'' jawab Sania dengan cemberut.


''Bukan nya gitu Dek, suami kamu malah nyari kamu, dan sekarang dia ada di depan noh,'' tunjuk Karan kepada Arlan yang turun dari mobilnya.


''Memang nya adek tidak ngasih tau Arlan kalau mau ke sini,'' tanya Pinky.


Sania menggalang dan menampakkan deretan gigi putih nya kepada kakak dan juga kakak ipar nya.


''Bunda, kak Karan nakal??'' adu Sania kepada sang Bunda, karena Karan sang kakak malah menggoda nya dan Sania juga sudah mulai pura pura sedih di depan Bunda nya.


''Karan, kamu tidak boleh menggoda adek kamu seperti itu,'' sahut Bunda Wati dengan menjewer telinga Karan.

__ADS_1


''Harusnya Bunda menjewer terlihat Sania Bunda, bukan telinga Karan seperti ini dong?'' balasnya dengan mengusap telinga yang tadi di jewer oleh sang Bunda.


''Lagian, kenapa sich kalian selalu bertengkar kalau sedang berkumpul, harus nya kalian malu dengan sikap mu yang seperti anak kecil ini,'' seru Bunda Wati dengan menjewer telinga Sania dan juga Karan.


''Ini yang salah bukan Karan Bunda, tapi adek, dia datang ke rumah ini tanpa memberi tahu suaminya lebih dulu, dan alhasil Arlan kelimpungan mencari keberadaan adik?'' adu Karan dengan meringis kesakitan ketika tangan tua sang Bunda masih nemplok di telinga kiri nya.


Bunda Wati hanya melongo melihat pengakuan Karan, dan Bunda Wati juga melihat ke luar rumah, di mana di sana ada Arlan yang sedang berdiri mengobrol dengan ponsel yang melekat di telinga kiri nya.


''Lebih baik kamu samperin suami kamu saja gih,'' ucapnya dengan menyuruh Sania datang menghampiri suaminya yang masih mengobrol dengan seseorang di saluran telfon nya.


Sanit hanya patuh dengan sang Bunda, meski dia malas menghampiri suaminya karena dia merasa lelah.


''Sayang, kamu aku cari di rumah dan ternyata kamu tak ada di rumah sama sekali, Mas khawatir sama kamu tau,'' ucap Arlan ketika melihat sang istri datang menghampiri nya.

__ADS_1


Sania hanya mengulas senyum kepada sang suami, tanpa mau membalas ucapan Arlan.


__ADS_2