
Andriana hari ini memilih datang ke perusaha'an Papa nya, dia hanya sekedar ingin membantu sang Papa dari pekerja'an yang baru baru ini ia alami.
Perusaha'an cabang mengalami pailit setelah ada yang bermain curang di dalam kantor tersebut, maka dari itu Riana tidak ingin sang Papa kewalahan dengan kejadian tersebut, sedangkan Alkairo saat ini sedang menemui klien nya di salah satu Mall terbesar di Jakarta.
Alkairo juga mempunyai beberapa persen saham di sana, tanpa sepengetahuan keluarga nya dan juga sang istri.
''Assalamu'alaikum, Pa?'' sapa Riana ketika sudah membuka pintu ruangan sang Papa.
Tuan Arzan yang sibuk di depan laptop nya memandang ke arah pintu, di mana di sana sudah menampakkan sang puteri yang melangkah menghampiri nya.
''Waalaikum salam, sayang,'' sapa Tuan Arzan beranjak dari tempat duduk nya dan menghampiri Riana, di bawa nya ke sofa yang ada di dalam ruangan nya.
''Kamu kok ke sini sayang,'' tanya nya penasaran, karena puteri nya tengah meninggalkan suaminya di rumah sendirian.
''Di rumah bosen banget Pa, jadi ku minta ijin sama Mama, untuk datang ke sini,'' sahutnya dengan menatap ke sekeliling ruangan Papa nya yang tidak pernah berubah sejak dia masih kecil, sampai dia juga sudah mempunyai suami.
''Suami kamu kemana,'' tanya Tuan Arzan setengah menyelidiki.
''Mas Al, harus bertemu dengan rekan bisnisnya, jadi dia pergi tadi setelah menurunkan Riana di depan,'' jelasnya. ''Pa, kalau boleh aku ingin sekali bekerja seperti dulu, setiap berada di rumah bawaan nya bosen terus,'' cerita Riana kepada sang Papa.
''Lalu suami kamu bagaimana?'' tanya sang Ayah yang mulai penasaran.
''Mas Al bilang masih mau memantau Mall, entah buat apa itu Mall? Riana kagak ngarti,''
__ADS_1
''Bukannya orang tua Al sudah memutuskan kalau kalian harus pulang ke New York secepatnya,'' tukasnya, mengingat pesan yang di ucapkan oleh Papa Alkairo, sebelum mereka kembali ke Negara asalnya.
''Mas Al nggak mau Pa, masak ia Riana harus maksa buat balik ke sana sich, mending ya bersyukur saja dech, kalau mas Al nggak mau balik ke sana, karena Riana bisa membantu Papa di sini,'' jawab Riana panjang lebar, membuat Tuan Arzan hanya menghela nafas dan menghembuskan dengan perlahan.
Tuan Arzan tidak keberatan kalau seandainya puteri dan juga menantunya ingin bekerja di perusaha'an nya, Tuan Arzan malah senang dengan perkataan Riana barusan, tapi dia tidak boleh egois? karena keluarga Alkairo juga mengharapkan kehadiran Riana di rumah nya.
''Kamu tidak boleh egois lho sayang, suami kamu adalah pewaris tunggal di perusaha'an orang tuanya, dan lagipula Alkairo anak semata wayang nya. Apa kamu tidak merasabkasihan dengan kedua mertua kamu yang berada jauh di sana,'' Tuan Arzan mengingatkan sang puteri agar dia mengingat tentang suaminya yang hanya sendiri, tanpa adanya saudara di sana.
''Pa, Mas Al sendiri yang nggak mau balik dulu, bukan Riana yang nggak mau Pa?'' rengek Riana, karena Papa nya Riana lah yang tidak mau di ajak pulang ke rumah suaminya yang ada di luar Negeri.
''Papa nggak bermaksud githu nak? setelah menikah kalian belum pulang ke sana, dan sekarang malah bilang ingin tinggal di sini sementara waktu, Papa senang kalian menetap di sini dan juga membantu Papa di perusaha'an ini. Tapi yang Papa pikirkan sekarang adalah? perasa'an mertua kamu di sana, yang tengah menunggu kedatangan kalian berdua tanpa kepastian,'' Tuan Arzan mencoba menasehati sang puteri dengan perlahan, agar dia tidak salah faham dengan semua perkata'an nya.
Riana mengangguk pelan, seraya berkata, ''Nanti aku obrolin lagi sama Mas Al Pa,'' kini Riana sudah sadar dengan semua yang Papanya katakan barusan.
Riana merogoh tas selempang nya, dan mengambil benda pipih yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Riana men scroll nomor nomor yang ada di dalam ponselnya, dan Riana langsung menghentikan ketika nama ID di sana bertuliskan Moms.
Panggilan tersambung dan tidak harus membutuhkan waktu yang lama, kini panggilan Riana sudah tersambung, dan terdengar lah suara wanita di seberang sana.
-''Hallo assalamu'alaikum Ma,'' sapa Riana kepada wanita yang begitu ia hormati setelah kedua orang tuanya, suaminya dan mertua nya.
-''Waalaikum salam sayang? kalian kapan balik ke sini, Mama sudah sangat merindukan kamu,'' jawab Mama Alkairo dengan nada sedihnya.
-''Maafkan Riana Ma? Riana dan Mas Al masih ada urusan sedikit di sini, tapi setelah semua nya beres, kita akan pulang secepatnya,'' bujuk Riana yang juga merasa kasihan kepada kedua mertua nya yang sudah menunggu kedatangan nya.
__ADS_1
-''Ya sudah kalau begitu, tapi beneran ya? Mama tunggu lho,'' sahut wanita di seberang mencoba bersikap biasa saja, tapi rasa sedihnya masih bisa di rasakan oleh Riana, karena jauh dengan putera semata wayangnya.
-''Iya Ma, insya Allah? do'akan cepat selesai ya Ma,'' kata Riana yang semakin bersalah dengan mertua nya.
-''Kalau boleh tau,sekarang suami kamu kemana? kok kayak nya sepi banget di sana,'' tanya Mama Alkairo yang menyadari tidak ada suara siapa di dekat Riana.
-''Mas Al bertemu dengan klien nya Ma, dan Riana sekarang ada di kantor Papa? mengisi waktu luang, yang tadinya hanya duduk sendiri di rumah, sekarang mau bantu Papa sedikit sedikit sebelum kembali ke sana,'' jawab Riana dengan jujur.
-''Baguslah kalau seperti itu, apa Al bertemu dengan teman teman nya yang kini sedang mengurus cabang perusaha'an nya yang berada di sana,'' tanya Mama mertua membuat Riana terkejut bukan main, ternyata suaminya juga punya usaha di kotanya.
-''Mas Al punya perusaha'an di sini juga Ma?'' tanya Riana memastikan, kalau dirinya tidak salah dengar.
-''Kamu belum tau, kalau suami kamu punya perusaha'an di sana,'' Mama Alkairo malah bertanya balik kepada sang menantu, Riana hanya menggeleng pelan, yang otomatis mertuanya tidak akan tau kalau dia sudah menggeleng kan kepalanya, karena sambungan telfon nya, bukan lah memakai VC.
-''Mama juga baru tau sich kebenarannya,'' tambah Mama Alkairo yang merasa bersalah kepada menantunya, Mama Alkairo pikir putera nya sudah memberi tahu tentang perusaha'an nya yang berada di sana, tapi kenyata'an nya Riana sampai saat ini belum mengetahui fakta kalau suaminya juga pengusaha yang terkenal di kancah internasional, termasuk di Indonesia itu sendiri.
-''Ya sudah, kamu tidak boleh capek capek dengan semua pekerja'an yang kamu lakukan saat ini, agar Mama bisa secepatnya menimang cucu,'' pesan Mama Alkairo yang, lagi lagi Riana mengangguk pelan.
-''Iya Ma, kalau githu Riana matiin sambungan telfon nya ya, Assalamu'alaikum,'' Ucap Riana penuh dengan kelembutan.
-''Iya, waalaikum salam,'' jawab Mama Alkairo dan langsung memutuskan sambungan telfon nya.
Riana terdiam sejenak mengingat apa yang tadi Mama mertuanya katakan. ''Aku nggak nyangka kalau Mas Al juga pengusaha, tapi kenapa dia menyembunyikan itu semua dari ku ya. Ech bukan nyembunyiin sich? tapi lebih tepatnya belum sempat kali untuk mengungki semuanya kepada Riana, aku harus sadar diri, dan tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan dengan langsung bertanya seperti itu kepada Mas Al. Takutnya dia malah salah faham dan urusan nya akan berabe kan,'' Gumam Riana pelan, dengan laptop yang masih menyala.
__ADS_1