
''Anak siapa yang kamu hamili sampai dia masuk ke rumah sakit,'' Ucap sang Mama dengan nada tinggi, sehingga Andrian yang sedang tidur di buat terkejut dengan suara yang begitu keras itu.
Riana yang ada di dalam toilet juga mendengar ucapan dari Mama Alkairo. ''Mama apaan sich, datang datang kok sudah ngomong seperti itu, Al tidak sebejat itu Ma!'' jawab Alkairo yang tak terima di katakan seperti itu oleh sang Mama.
Andrian yang sudah bangun dari tidur nya dan segera menghampiri Riana yang baru keluar dari toilet dengan infus di tangan kanan nya, ''Kamu baik baik saja, kenapa kamu nggak bangunin kakak sich?'' kata Andrian kepada sang adik.
''Nggak apa apa kok kak, Riana sudah baik baik saja,'' jawab Riana lembut tak lupa senyum di bibir nya.
Andrian menatap Alkairo yang ada tak jauh darinya, lalu Andrian pun bertanya. ''Maaf, maksud anda apa ya Nyonya,'' tanya Andrian sopan.
''Kamu siapanya wanita ini,'' Mama Alkairo balik tanya kepada Andrian.
''Saya kakak kembarnya Riana, maksud perkata'an nyonya barusan itu apa ya,'' jawab Andrian seraya membaringkan kembali Riana ke brankar nya.
Mama Alkairo melangkah menghampiri Riana yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang rumah sakit, ''Nak, katakan kalau kamu di hamilin putera ku,'' Ucap Mama Alkairo yang membuat Riana dan juga Andrian syok di buatnya.
''Mama kenapa sich nggak percaya kepada Al sich, Al benar-benar tidak menghamili siapapun!'' teriak Alkairo yang tak terima ucapan sang Mama.
''Maaf tante, tante salah paham dengan saya, sebenarnya saya cuma sakit dan bukan hamil dengan kak Al. Dan kebetulan kak Al yang membawa saya ke rumah sakit ini kemarin,'' Riana mencoba menjelaskan perihal yang terjadi sebenarnya, lagian mana mungkin dia bisa hamil dengan Alkairo, jalan berdua saja tidak pernah, pikir Riana.
''Jadi kamu tidak hamil anak Alkairo?'' tanya Papa Alkairo menimpali, di dalam hatinya dia sudah terkikik geli karena dia hanya nge prank putera semata wayang nya.
__ADS_1
''Papa juga ikutan Mama yang nggak benar ini,'' dengusnya dengan mendudukkan diri di sofa yang tadi ia tiduri.
''Papa kira kamu nginap di rumah sakit ini karena wanita ini sedang hamil, dan itu anak kamu Al,'' balasnya dengan duduk di samping Alkairo yang sudah sangat frustasi.
''Nanti Al malah di kira sering ngehamilin anak orang lagi, lagian orang tua Al sotoy semua,'' keluh Al menatap wajah Riana yang sedang menahan tawa, karena Al mengatai orang tuanya dengan kata sotoy.
''Hamil juga nggak apa apa kok Pa, Mama sudah ingin menimang cucu dari anak berandalmu itu,'' Mama Alkairo menunjuk ke arah Alkairo.
''Kamu mau ya, jadi menantu tante sayang? nanti tante akan mendatangi orang tua kamu di rumah, bagaimana?'' bujuk nya dengan menaik turunkan alisnya.
Andrian hanya menahan senyum karena tanpa dia sadar kini sang adek sudah di lamar oleh orang tua sahabat nya, yang sama sama memulai bisnis dari nol.
''Dek, jawab dong?'' kata Andrian dengan menyenggol lengan sang adek yang masih ter bengong.
''Maaf tante, adek ku masih trauma soal kata lamaran, karena dia pernah di khianati oleh laki-laki yang akan di jodohkan dengan dia, dengan menghamili mantan pacarnya,'' Andrian membuka suara ketika melihat sang adek hanya diam tak menjawab.
''Astaghfirullah, bodoh banget laki-laki itu,'' seru Papa Alkairo beranjak dari duduk nya dan melangkah menuju Riana yang setengah berbaring.
''Mungkin belom jodohnya kali Om,'' ujar Andrian mewakili sang adek.
''Kamu jangan banyak pikiran lagi ya, tante janji akan menikahkan kamu dengan putera berandal tante, nanti dia berbuat yang macam macam, tante yang akan ada barisan paling depan,'' Ucapnya dengan lantang, sembari menatap wajah putera nya yang memang sangat menyukai gadis di depan nya, namun karena Riana masih trauma, Alkairo tidak bisa mengutarakan isi hatinya kepada Riana.
__ADS_1
Mama Alkairo yang tau langsung beraksi demi sang kebahagiaan putera nya, meskipun dia nakal dan suka bermain di luaran sana, tapi Mama Alkairo sangat yakin kalau putera nya belum pernah bermain dengan wanita lain di luaran sana.
''Alkairo! kamu harus mau kalau Mama ingin kamu menikah cepat, karena Mama sudah menemukan calon wanita yang tepat buat kamu,'' seru sang Mama, sedangkan tangan nya mengelus punggung Riana yang sudah bergetar karena menangis.
''Kamu jangan takut, jangan pikirin kejadian yang lalu, kamu juga berhak bahagia juga dengan laki-laki yang tepat buat kamu,'' gumam Mama Alkairo dengan penuh perhatian, Riana langsung menghambur ke pelukan Mama Alkairo yang berada di samping nya.
''Kasih saya waktu untuk berpikir tante, lagian kak Al belum tentu suka sama Riana?'' gumam Riana di sela sela tangisnya.
''Kata siapa aku nggak suka sama kamu, aku tuh cinta sama kamu,'' Ucap Alkairo yang langsung menutup mulutnya karena keceplosan.
''Tuh, kamu sudah dengar sendiri kan, dari orangnya langsung, kalau dia itu cinta sama kamu, bukan cinta biasa tapi cinta mati kayaknya,'' sang Mama malah menggoda putera nya, sembari terkekeh pelan.
Sangat lama mereka mengobrol di dalam kamar rawat Riana, tak di rasa hari sudah mulai siang. ''Ech, Rian. Adekmu belum makan tadi pagi dan belum minum obat juga,'' Alkairo baru teringat kalau Riana belum sarapan. Bukan hanya Riana saja yang belum sarapan, tapi Alkairo dan juga Andrian yang belum sarapan.
Mama Alkairo langsung memukul bahu putera nya karena dia lupa dengan calon istri nya. ''Kenapa kamu sampai lupa, dan baru ingat sekarang?'' ujar sang Mama, ''Lihat tuh jam berapa sekarang, ini mah bukan sarapan lagi, tapi makan siang adanya,'' tambah sang Mama yang langsung menelfon seseorang di luar untuk segera membawa makan siang untuk mereka semua dan juga dirinya.
''Biar Al saja yang beli Ma, lagian Mama dan Papa betah banget sich di sini. Bukan nya Papa harus ke kantor ya.''
''Sontoloyo nich bocah, mungkin kamu keganggu dengan kehadiran Mama dan juga Papa githu,'' sahut sang Papa.
''Itu ngerti.'' balas Alkairo dengan santai.
__ADS_1
''Sudah sudah, lebih baik kalian pergi ke kantor masing-masing, biar Mama yang jaga Riana di sini,'' Ucap Mama Alkairo.
''Tante juga ikut pulang saja istirahat di rumah, Riana bisa sendiri kok?'' sambung Riana yang tak mau merepotkan orang lain, apalagi ini orang tua Alkairo. Laki-laki yang sempat ia dambakan sebelum nya, tapi Allah memang adil kepada semua hambanya yang mau bersabar dan ikhlas menerima semua coba'an nya.