
''Pagi Pak,'' jawab Riana tak kalah ramah nya. Riana yang bisa datang tepat waktu kini dia terlambat satu jam datang ke kantor nya.
''Apa di dalam sudah yang datang?'' tanya Riana kepada resepsionis yang berjaga hari ini.
''Iya Nona, di dalam sudah ada Tuan Alkairo yang sedang menunggu kedatangan Nona,'' jawab sang resepsionis kepada Riana.
Riana melihat jam di pergelangan tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 9 kurang 20 menit. ''Pantas saja dia sudah menunggu aku, rupanya sudah jam segini saja. Apa dia akan marah melihat aku yang telat,'' gumam Riana yang kini sudah ada di dalam lift khusus para petinggi di perusaha'an yang di beri nama AA Grub tersebut.
Di dalam ruangan asisten manajer Alkairo sudah menggerutu nggak jelas, karena Riana sudah telat satu jam lamanya.
''Tuan Al, mungkin Nona Andriana tidak jadi datang ke pertemuan hari ini,'' ujar nya yang memang terbilang berani dengan atasan nya. Mengingat dia hanyalah sebagai asisten manajer nya yang kebetulan ikut pergi.
Bukan hanya itu, sang asisten juga punya rasa kepada sang bos yang diam diam mengagumi ketampanan nya dan juga kekaya'an nya yang tidak akan habis sampai tujuh turunan. Mengingat orang tuanya sangat terpandang di kota New York, dan di Indonesia juga ada perusaha'an yang kini sedang di pimpin oleh saudara nya.
Tok tok tok
Riana langsung masuk setelah mengetuk pintu, menampakkan diri di depan Alkairo yang kini sudah tersenyum lebar dengan kedatangan Riana, yang sudah ia tunggu selama 1 jam lamanya.
''Maaf membuat Anda menunggu lama Tuan,'' Ucap Riana membuka obrolan nya, yang langsung di jawab oleh sang asisten dengan nada ketus.
''Satu jam kita menunggu anda di sini Nona, tak bisakah anda bersikap kompeten dalam kerja sama ini. Dan perlu anda ketahui kalau waktu adalah uang,''
''Maafkan saya Nona, tadi sebenarnya saya sudah ingin menghubungi Tuan Al, tapi ponsel ku mati di tengah jalan. Maafkan saya Tuan Al, karena saya tadi ada sedikit urusan di apartemen,'' jawab Riana dengan ramah, dia tau sudah membuat orang penting setingkat Ayah-nya menunggu hingga satu jam lamanya.
''Sepenting itukah urusan anda sehingga...''
''Sudahlah Noli, Nona Riana sudah datang, dan sekarang kamu tinggal keluarkan berkas berkas yang harus di tanda tangani oleh Nona Riana,'' potong Alkairo yang melihat wajah Riana yang sedikit pucat.
__ADS_1
Ya, tadi setelah sampai di lantai dasar apartemen nya, Riana harus kembali lagi ke atas, karena perutnya tak enak dan di bagian intim nya terasa basah.
Riana bergegas berlari karena dia sedang datang bulan tapi tidak mengingat nya, jadi dia tidak membawa pembalut di dalam tas nya.
''Kamu nggak apa apa,'' tanya Alkairo yang masih menatap wajah pucat Riana.
''Aku nggak apa apa Tuan?'' jawab Riana bohong sembari membubuhkan tanda tangan ke berkas berkas yang sudah di berikan oleh sang asisten Alkairo.
''Nona, wajah kamu sangat pucat? apakah anda sakit,'' bisik Nandini yang juga menatap wajah sang bos.
''Aku nggak apa apa kok Dini, kamu tenang saja,'' balas nya, dan mencoba untuk tersenyum agar tidak terlalu nampak, kalau dirinya sedang merasakan kesakitan di perut nya, karena datang bulan.
Sedangkan tangan kiri nya meremas perut bagian bawah nya, agar rasa sakit yang sedang ia alami tidak begitu terasa sakit.
Beberapa saat kemudian, acara meeting nya selesai sesuai dengan kesepakatan sebelum nya. Riana yang sedari tadi menahan sakit di perutnya menaruh kepalanya di atas meja, Alkairo yang kebetulan belum benar-benar kelur dari ruangan meeting pun segera menghampiri Riana dan bertanya.
''Aku nggak apa apa, cuma sakit saja di perut karena sedang ada tamu bulanan,'' jawab Riana tanpa mau mengangkat kepalanya dari atas meja.
''Mau antar ke ruangan kamu, agar kamu bisa beristirahat di sana?'' tanya Alkairo dengan perasa'an yang begitu khawatir.
''Tidak usah, sebentar lagi bakal sembuh kok,'' tolak Riana karena dia merasa tidak enak dengan Alkairo di samping nya.
''Riana, aku tulus ingin menolong kamu,'' gumam Alkairo yang selalu mendapatkan penolakan dari Riana.
''Maaf, bukan nya aku menolak tapi aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain saja,'' jawab Riana yang kini memilih menatap wajah tampan Alkairo. Wajah blasteran Indo Amerika itu membuat Riana takut, takut akan penghianatan yang terjadi beberapa bukan lalu, dan mengakibatkan dirinya lah yang paling tersakiti.
''Riana, kalau saja aku boleh jujur, aku akan jujur sama kamu. Kalau aku jatuh cinta sama kamu, jauh sebelum kerja sama ini di mulai,'' gumam Alkairo pelan sehingga Riana tidak mendengar gumaman Alkairo di samping nya.
__ADS_1
Alkairo merogoh saku jas nya dan mengambil benda pipih yang selalu ia bawa kemana mana, dia mencari nomor Andrian untuk mengabati sang adek yang sedang sakit.
-''Hallo,'' Ucap Andrian di seberang setelah sambungan telfon nya di terima oleh Andrian.
-''Andrian, kamu ada di mana?'' tanya Alkairo masih dengan nada khawatir nya, karena wajah Riana yang sangat pucat.
-''Aku ada di proyek saat ini, bukan nya di sana ada Riana yang akan menandatangani berkas berkas nya, dan seharusnya itu sudah selesai bukan?'' tanya Andrian mengerutkan kening nya.
-''Sudah, tapi bukan itu yang akan aku bilang, Riana sedang sakit perut, dan sekarang wajahnya sangat pucat, aku khawatir sama keada'an dia sekarang,'' jawab Alkairo panjang lebar.
-''Sakit!'' sentak nya, ''Tadi pagi dia baik baik saja, kenapa sekarang jadi sakit,'' suara Andrian kini mulai meninggi mendengar sang adek sedang sakit.
-''Aku akan bawa Riana ke rumah sakit sekarang?'' tukas Alkairo yang langsung mematikan sambungan telfon nya.
Alkairo segera menggendong Riana untuk segera mendapatkan penanganan dari dokter, mengingat Alkairo tidak paham akan berbuat apa.
''Nona Riana kenapa Tuan,'' tanya Nandini yang terkejut melihat sang bos yang sedang di gendong oleh rekan bisnis nya.
''Saya akan membawa Riana ke rumah sakit sekarang,'' jawab Alkairo yang terus melangkahkan kaki lebar nya menuju lift.
''Riana, tetap sadar Ri. Aku nggak mau terjadi apa apa dengan kamu,'' gumam Alkairo, setelah pintu lift terbuka Alkairo menyuruh seorang satpam untuk mengambilkan mobilnya.
Alkairo memasukkan Riana ke dalam mobil dan melakukan mobil nya, setelah dia memakaikan seatbelt kepada Riana.
Alkairo melaju dengan kecepatan di atas rata rata, karena takut terjadi sesuatu dengan Riana, wanita yang diam diam ia cintai dan ia kagumi selama 4 bulan terakhir.
Akankah cinta itu hadir di dalam hati Riana.
__ADS_1