
Sore harinya Riana bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang di penuhi dengan keringat.
Riana sebenarnya cukup kaget ketika dirinya terbangun sudah berada di dalam kamar nya, ''Kak Rian tak pernah mau membangunkan aku, jika sedang tertidur di dalam mobil?'' gumam nya dengan menjeda sebentar, ''Tapi aku kan sudah bukan anak kecil lagi, pasti sangat berat kan?'' gumam nya lagi mengingat sang kakak yang selalu menggendong nya.
''Ach sudahlah, aku mandi saja. Mikirin itu semua membuat kepalaku semakin pusing saja,'' Ujar Riana yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Tak butuh waktu lama Riana untuk membersihkan tubuh nya, hanya membutuhkan waktu 15 menit dia kini sudah tampil cantik dengan gaun selutut yang ia kenakan di sore hari, mengingat dirinya akan menemui sang Mama di rumah sakit.
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu di keturunan dari luar.
''Masuk saja,'' Ucap Riana yng masih merapikan rambutnya di depan meja rias nya.
''Maaf Nona, bubur nya mau di makan di sini atau di meja makan?'' tanya sang kepala pelayan dengan ramah dan juga lembut.
''Di meja saja Pak, sebentar lagi aku akan turun. Apa kak Rian sudah ada di meja makan?'' tanya Riana menatap wajah kepala pelayan yang sudah lama bekerja di rumah nya.
''Tuan muda tadi pamit pergi, namun baru saja menelfon kalau sudah pulang,'' terang kepala pelayan yang di angguki oleh Riana.
''Baiklah, kalau begitu saya permisi Nona,'' pamitnya yang hanya di angguki oleh Riana.
''Sebenarnya pergi kemana kak Rian tadi, sampai sampai dia meninggalkan aku di sini sendrian,'' Riana mulai memeras otak nya dan berfikir kemana sang kakak pergi tadi.
Riana akhirnya beranjak dari duduknya dan segera menuju meja makan bertepatan dengan kedatangan sang kakak kembar. ''Kak Rian dari mana?'' tanya Riana yang masih ada di tengah anak tangga.
__ADS_1
''Makan dulu, kamu pasti sangat lapar kan? setelah itu baru minum obat biar cepat sembuh,'' Andrian tak menjawab pertanya'an sang adek, namun dia malah mengalihkan ucapan nya.
Riana hanya mendengus ketuka sang kakak tidak mau menjawab pertanya'an nya, dia menghentakkan kakinya dan berjalan menuruni sisa anak tangga yang saat ini ia pijak.
Andrian menarik bubur dan langsung memberikan kepada sang adek agar dia tidak mengambil makanan lain nya, ''Kamu makan bubur saja, biar cepat pulih,'' titah nya yang tak mau di tolak.
Perintah Andrian, seperti perintah dari sang Papa yang tak mungkin bisa di tolak, dan di tentang nya.
''Padahal Riana mau makan nasi yang ada di depan kak Rian,'' sahut Riana dengan wajah cemberut nya.
''Sudah cepat makan, mau ketemu Mama nggak!'' Andrian mulai dingin dengan sang adek, karena sikap adeknya yang mulai tidak bisa di ajak bicara pelan lagi.
''Iya iya, Riana makan bubur nya sekarang, tapi setelah itu tolong antarkan Riana ke rumah sakit,''
Riana hanya sesekali melirik kepada kakak nya yang begitu lahap makan nya, 'Padahal aku sudah sangat sembuh, dan sudah bisa makan nasi seperti kemarin kemarin, tapi kenapa sekarang malah di beri bubur sich. Pasti ini semua pengaturan dari kak Rian dech,' gumam Riana dalam hati nya.
...****************...
Di New York.
Alkairo nampak sangat gelisah, karena semenjak kemarin ponsel Rian tidak bisa di hubungi lagi, ''Pergi kemana sich tu orang!'' gumam Alkairo yang masih duduk di bibir tempat tidur nya.
''Al,'' panggil sang Mama karena hari sudah semakin siang, tapi putera nya belum keluar dari kamar nya. ''Al belum bangun?'' Mama Mala memanggil kembali sang putera.
''Kalau kamu tidak mau bangun juga, biar Mama sama Papa saja yang pergi menemui Riana di rumah nya!'' teriak Mama Mala yang sukses membuat Alkairo membuka pintu kamar nya, namun masih dengan penampilan yang awut awutan.
__ADS_1
''Astaghfirullah, kenapa kamu belum mandi juga sich! sebentar lagi pesawatnya akan segera landing, kita harus cepat ke Bandara,'' seru Mama Mala menepuk jidad nya, ketika melihat Alkairo masih dengan celana kerja kemarin.
''Cepat mandi, atau kamu lebih baik berangkat sendiri saja, Mama dan berangkat lebih dulu,'' pungkasnya dengan menenteng tas mahalnya di tangan sebelah kiri.
Sedangkan Alkairo masih nampak bingung dengan ucapan sang Mama, dia hanya melihat kepergian sang Mama yang sudah mulai tidak terlihat.
''Al mana Ma?'' tanya suaminya, yang tak lain Papa Alkairo.
''Al masih belum siap Pa, biarkan dia nyusul setelah membersihkan tubuh baunya itu,'' jawab Mama Mala asal, karena mana mungkin putera satu satunya itu bau, meski tidak mandi satu hari, Alkairo selalu tampil dengan wajah tampan nya dan juga dengan aroma wangi sepanjang hari, entah itu karena parfum nya yang mahal atau mungkin juga badan nya yang tak pernah bau, pikir sang Mama.
''Pak Dani, Mama sama Papa pergi kemana,'' tanya Alkairo yang masih mematung di depan pintu kamar nya.
''Tuan sama Nyonya akan pergi ke Indonesia Tuan, sejak tadi beliau sudah menunggu anda di ruang tamu, namun tuan muda tidak juga turun ke bawah,'' jelas pelayan yang bernama Dani tersebut.
''Indonesia, bukan kah Mama dan Papa tidak punya keluarga yang ada di Indonesia,'' gumam Alkairo masih dengan kebingungan nya.
''Benar Tuan muda, tapi Nyonya sama Tuan besar akan mendatangi rumah keluarga Nona Riana di sana, beliau juga beroesan kalau Nona Riana saat ini sudah ada di Indonesia, di karenakan Mama nya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit,'' lagi lagi sang pelayan menjelaskan dengan panjang lebar.
Alkairo terkejut ketika mendengar Riana sudah ada di Indonesia saat ini. ''Pak Dani nggak bohong kalau Riana ada di Indonesia,'' tanya nya dengan sangat antusias.
''Yang saya dengar dari Nyonya begitu Tuan Muda, lebih pastinya Tuan Muda tanya langsung kepada Nyonya besar saja,'' sahut Pak Dani setengah membungkukan badan nya.
''Baiklah, Pak Dani tolong pesan kan aku pesawat di jam ini, aku akan segera menyusul Mama dan juga Papa,'' perintah Alkairo dan berlalu masuk ke dalam kamar mandinya, untuk membersihkan diri dan bersiap siap dengan baju kaos dan juga jaket hitam di padu padan kan dengan celana jeans hitamnya, tak lupa juga dengan topi dan juga kacamata warna senada.
Alkairo menuruni anak tangga dengan cepat, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Riana, wanita yang sudah mengisi relung hatinya selama beberapa bulan ini, dan di tambah lagi dengan orang tuanya yang sudah merestui dirinya bersama dengan Riana, kini hanya harus menunggu kepastian dari Riana sendiri, mau atau tidak nya kepada Alkairo, laki-laki tampan dan juga pengusaha sukses di New York.
__ADS_1