CEO Cantik Adalah Istriku

CEO Cantik Adalah Istriku
Bab 19. CCAI 19


__ADS_3

Keluarga Alkairo dan keluarga Riana sungguh sangat bahagia atas putera puteri nya yang kini sudah menemukan pasangan nya.


''Setelah ini Mama akan mengadakan pesta yang sangat meriah buat kalian, dan menurut Mama yang di katakan Mama Al ada benar nya juga, kita langsung adakan acara nikahan saja,'' cetus Mama Citra dengan nada bahagia nya.


'Hanya kabar seperti ini, orang tua ku sudah begitu bahagia. Seandainya aku egois dan menolak lamaran dari keluarga kak Al, apa mereka semua akan kecewa lagi dengan ku,' gumam Riana di dalam hatinya.


''Kamu setuju kan sayang?'' tanya Mama Citra menatap wajah cantik puteri nya, ''Kamu tidak senang dengan keputusan ini,'' tanya lagi Mama Citra ketika melihat wajah murung puteri nya.


''Bukan gitu Ma, Riana ngikut saja yang terbaik buat Riana. Lagian tak udah acara lamaran juga nggak apa apa kok,'' sahutnya dengan menepuk punggung tangan Mama nya, agar sang Mama tidak merasa sedih.


''Sayang, kamu tidak boleh bohongi Mama lagi. Kalau kamu misalkan tidak suka bilang saja,'' lagi lagi Mama Citra bertanya kepada puteri nya.


''Ma, yang Riana pikirkan sekarang adalah? apa tidak apa Riana menikah lebih dulu dari kak Rian,'' jawab Riana pelan, seraya bertanya bolehkah dia menikah lebih dulu dari pada kakak nya itu.


''Alah dek, kita cuma beda 5 menit doang juga! lagian apa salahnya kalau adekku nikah lebih dulu dari pada aku. Umur kita sama kok,'' Ujarnya mengingatkan sang adek jika dia lupa kalau dirinya hanya beda waktu 5 menit lahir lebih dulu ketimbang sang adek.


''Yang di katakan kakak kamu itu benar sayang?'' sambung Tuan Arzan yang beranjak dari duduknya dan menghampiri Riana.


''Papa nggak nyangka kamu akan segera menikah sayang, baru kemarin Papa gendong kamu,'' gumam Tuan Arzan dengan nada lirih nya.

__ADS_1


''Sudahlah Mas, kita sebagai orang tua hanya bisa mendo'akan yang terbaik buat anak anak kita, iya kan,'' Mama Citra menimpali ucapan suaminya yang begitu sedih, karena puteri nya bakalan di boyong ke luar negeri setelah mereka menikah.


''Iya sayang, kita nggak nyangka sudah setia ini rupanya,'' gumam nya kepada sang istri dengan manja.


Mama Citra hanya terkekeh geli dengan ucapan suaminya yang mengatakan sudah tua, ''Papa belum tua tua banget kok, kalau pun kita bertiga di bikinin adek lagi, Rian tidak akan menolak kok. Lagian adek perempuan Rian sudah akan di miliki laki-laki lain dan akan segera pergi dari rumah,'' Ujar Andrian yang langsung mendapatkan pelototan dari sang Mama.


''Kak Rian apaan sich! nggak malu dengan keluarga kak Al,'' bisik Riana karena ucapan frontal dari kakak nya.


''Lah apa salah nya ya kan tante?'' sahut Rian dengan meminta pendapat dari orang tua Alkairo.


''Tak apalah, kalian masih muda dan bisa bikinin mereka adek lagi, seandainya saya juga bisa membuatkan Alkairo seorang adek, betapa bahagia nya aku sekarang?'' jawab tante Mala yang tiba-tiba sedih di akhir kalimat nya.


''Tak apa Ma, kita akan punya cucu yang banyak setelah ini dari putera kita,'' kata Tuan Edward menguatkan sang istri, agar tidak terlalu sedih dengan apa yang ia alami.


''Kak Rian sich berkata seperti itu tadi,'' bisik Riana lagi yang merasa tak enak hati.


''Maafkan putera saya Mbak?'' ucap Mama Citra juga merasa nggak enak dengan perkata'an putera nya.


''Nggak apa apa kok jeng, aku saja yang terlalu di bawa suasana,'' jawab tante Mala lembut. ''Kamu harus cepat sembuh dan kita adakan acara pernikahan anak kita dengan sangat meriah, dan kamu juga jangan terlalu memikirkan hal yang sudah berlalu,'' kata tante Mala lagi.

__ADS_1


''Yang di katakan Mbak ada benarnya, mungkin karena aku terlalu memikirkan nasib puteri ku saja, jadi malah seperti ini yang terbaring lemah di rumah sakit,'' balas Mama Citra tak kalah lembut nya.


Riana menatap Alkairo yang masih setia menatap wajah sendu Mama nya, ''Kak Al bisa kita bicara di luar sebentar?'' ajak Riana dengan sangat hati hati, dia sudah tidak sabar ingin bertanya tentang Mama nya yang tiba-tiba berubah menjadi sedih seperti tadi, Riana takut kalau suatu hari kejadian ini terulang kembali karena ketidak tahuan Riana dan juga keluarga nya.


Alkairo mengangguk dan melangkah keluar ruangan yang di ikuti oleh Riana di belakang nya, namun sebelum dia pergi mereka berdua sudah minta ijin terlebih dulu kepada orang tua masing-masing.


Di sini Alkairo dan Riana berada, di kursi yang ada di taman yang begitu sejuk dan begitu indah di pandang mata, sejenak Riana teringat tentang adek sepupunya yang dulu di rawat di rumah ini juga dan dia lebih senang duduk di kursi yang sekarang malah di tempati oleh Riana dan juga calon suaminya.


''Ada apa?'' tanya Alkairo dengan duduk meyamping karena menatap wajah cantik calin istri dan juga calon Ibu dari anak anaknya kelak


''Kak sebelum nya saya minta maaf, kalau Riana harus bertanya tentang kejadian barusan di dalam kamar rawat inap Mama, kamu tidak sepatutnya membuat tante Mala bersedih, namun kami benar-benar tidak sengaja, dan tidak mengetahui yang sebenarnya terjadi,'' kata Riana panjang lebar.


Alkairo menepuk punggung tangan Riana dengan penuh kelembutan, agar si wanita tidak merasa bersalah dengan kejadian tadi kepada Mama nya.


''Kalian tidak bersalah kok, tapi Mama selalu merasa sedih jika ada seseorang yang membahas tentang adek,'' jawab Alkairo yang mulai menceritakan semuanya kepada Riana apa yang terjadi kepada Mama nya, sehingga dia menjadi anak tunggal di keluarganya saat ini.


''Rahim Mama harus di angkat, karena terkena kanker serviks, sebelum nya Mama tidak rela dengan pengangkatan rahim tersebut, tapi karena desakan Papa dan juga orang tua dari Papa yang mengatakan tidak mau kehilangan Mama dan juga menantu yang baik seperti Mama, jadi Mama antara siap dan nggak siap harus menyetujui operasi pengangkatan rahim nya. Waktu itu aku masih berumur 10 tahun, dan seperti anak kecil kebanyakan yang selalu meminta seorang adek kepada orang tua kita, tapi Mama selalu menangis ketika aku meminta nya? mungkin aku terlalu berharap akan mendapatkan seorang adek dari Mama dan juga Papa, tapi setelah aku remaja dan mendengar dengan jelas penjelasan dari Papa, aku mulai melupakan keinginan ku. Bagiku Mama sangat berharga di banding punya adek?'' Alkairo mendongakkan kepalanya agar air mata nya tidak terjatuh dan terlihat oleh wanita di samping nya.


''Tidak apa apa, menangis lah jika itu perlu. Tapi bagiku kak Al adalah seorang anak yang baik bagi tante dan juga Om,'' Riana mengelus punggung Alkairo dengan lembut, Riana seakan mengerti perasa'an Alkairo sekarang, hidup sendiri tanpa saudara sungguh kesepian sekali di kehidupan nya.

__ADS_1


''Terima kasih sudah mau menerima lamaran Mama aku tadi, maaf kalau cara melamar nya tidak serimantis yang kamu bayangkan pastinya.''


''Tak apa kok kak, lagi pula Mama Ria juga masih terbaring di sini, jadi mana mungkin Ria harus memikirkan hal lain nya sich?'' balas Riana dengan mengulas senyum manis nya di depan calon suaminya.


__ADS_2