CEO Cantik Adalah Istriku

CEO Cantik Adalah Istriku
Bab 14. CCAI 14


__ADS_3

Di rumah sakit Tuan Arzan dan Mama Citra sedang menunggu kedatangan puterinya, ''Mas, kenapa Riana belum datang juga?'' tanya Mama Citra dengan nada lemah nya.


''Maaf sayang, kakak tidak bisa datang hari ini, dia juga sedang di rawat di rumah sakit,'' sahut Tuan Arzan dengan merangkul Mama Citra seraya mengusap usap bahu istri nya.


''Mas, aku mau ke sana sekarang? aku takut terjadi sesuatu sama dia di sana,'' lirih nya sembari memegang tangan Tuan Arzan, mencari sumber kekuatan di sana.


''Kakak cuma kecapean saja kok, mungkin lusa? dia akan datang ke sini,'' tukasnya dengan lembut. Tuan Arzan sendiri juga belum tau kalau puteri nya yang ia panggil dengan sebutan kakak akan datang lusa, dia hanya menghibur sang istri yang sedang sakit.


Di sisi lain Tuan Arzan sudah sangat kepikiran dengan puteri satu satunya, dan ingin sekali mendatanginya, tapi kembali lagi menginginkan keadaan istri nya yang kini sedang di rawat di rumah sakit, jadi rasa kangen ia singkirkan terlebih dulu.


Mama Citra meminta tuan Arzan menghubungi puteri nya yang ada di negeri orang.


Drrrrtttt


Ponsel Riana bergetar di atas nakas sebelah ranjang nya.


''Papa,'' gumam Riana pelan namun Mama Alkairo.


''Siapa sayang,'' tanya nya dengan nada yang begitu lembut.


''Papa tante,'' jawab Riana dengan sedikit malu, karena Mama Alkairo yang menunggu di rumah sakit.


''Angkat saja, siapa tau penting,'' kata Mama Alkairo lagi.


-''Assalamu'alaikum, hallo Pa,'' sapa Riana setelah menggeser layar ponsel nya.


-''Waalaikum salam,'' jawab Tuan Arzan, ''Kakak bagaimana keada'an nya, Mama kamu mau ngomong,'' ujar Tuan Arzan lagi, dan memberikan ponsel nya kepada sang istri.


-''Sayang, kamu baik baik saja kan?'' tanya Mama Citra, ketika melihat wajah puterinya yang masih begitu pucat.


-''Rianan sudah mendingan kok Mah, tapi kayak nya Mama juga sedang tidak sehat sekarang, dan tunggu dulu! itu bukan nya ruangan rumah sakit,'' tebak Riana yang langsung di angguki oleh sang Mama.


-''Mama hanya sedang stress memikirkan kamu terus di sana, jadi Mama kamu sampai ngedrop begitu,'' Tuan Arzan mengambil alih ponsel yang sedang di pegang istri nya.

__ADS_1


-''Kakak kamu kemana sayang, kok nggak ada di sana,'' tanya Tuan Arzan yang tidak mendengar suaranya, di sana terlihat sangat sepi.


-''Kak Rian ke kantor Pa, tadi Riana menyuruh nya pergi,'' jawab Riana. ''Pa, memangnya Mama sakit apa, dan maafkan Riana belum bisa pulang sekarang,'' kata Riana yang kini sudah meneteskan airmata nya.


-''Sudah jangan nangis, nanti kalau kakak sudah sehat baru bisa pulang,'' Ucap Tuan Arzan lembut.


Mama Alkairo beranjak dari sofa dan menghampiri Riana yang tengah menangis karena sedang telfonan dengan sang Ayah.


''Sudah, jangan nangis lagi, ada tante di sini,'' kata Mama Alkairo lembut dan mengelus punggung Riana.


Tuan Arzan yang masih tersambung dengan sang puteri membelalakkan matanya menatap wanita yang ada di samping nya.


-''Kakak, sedang sama siapa di sana sekarang?'' tanya Tuan Arzan yang sudah selesai dengan keterkejutan nya.


-''Och, ini tante Mala Pa, Mama nya Alkairo sahabat kak Rian,'' jawab Riana apa adanya. ''Tante Mala yang jagain Riana di rumah sakit,'' tambah nya lagi, agar orang tuanya tidak begitu khawatir kepadanya, mengingat sang kakak sedang bekerja di perusaha'an yang kini sedang ia rintis dengan usahanya sendiri.


-''Och, syukurlah kalau begitu. Katakan terima kasih Papa sama Mama nya Alkairo,'' kata Tuan Arzan dan memutuskan sambungan telfon nya, karena ada keluarga besarnya yang datang guna menjenguk sang istri yang sedang sakit.


''Ada apa?'' tanya Mama Alkairo menatap wajah sendu calon menantu nya.


''Adek kenapa menangis,'' tanya Andrian ketika melihat adek nya menangis dan sedang ada di pelukan Mama sahabat nya.


Andrian melangkah lebar menghampiri sang adek yang masih terlihat menangis. ''Mama nya sedang sakit, dan baru saja Papa kalian nelfon,'' jawab Mama Alkairo kepada Andrian.


''Adek yang sabar ya, setelah ini kita pulang lihat Mama,''


''Kak, Riana mau pulang sekarang saja? Riana sangat khawatir dengan keada'an Mama sekarang, Papa bilang Mama stress gara-gara mikirin Riana di sini,'' balas Riana dengan memeluk sang kakak.


''Tapi kamu masih sakit dek, kakak takut terjadi sesuatu sama kamu nanti,''


''Kak?'' rengek Riana dengan air mata yang masih terus mengalir di kedua pipinya.


''Rian, lebih baik kamu urus dulu kepulangan Riana, biar tante di sini jagain dia dulu, tak apa kalau Riana memang sudah tak apa apa,'' Ucap tante Mala yang di angguki oleh Andrian.

__ADS_1


''Kakak ke administrasi dulu ya,'' kata Andrian mengusap puncak kepala Riana.


Riana mengangguk pelan. ''Beneran ya kak?''


''Iya tunggu sebentar,'' Rian beranjak dan berjalan ke luar ruangan, tapi sebelum keluar, Rian menitipkan adek nya kepada tante Mala.


''Titip adek dulu tante,'' ucap nya menatap wajah sangat adek, lalu wajah Mama Alkairo.


''Pergilah,'' jawab nya.


Andrian berjalan mengurus administrasi untuk kepulangan sangat adek, lalu Andrian meminta penday dari dokter yang menangani Riana.


''Tidak apa apa Tuan, kalau menurut Nona Riana sudah baik baik saja, tapi saya sarankan Nona Riana jangan terlalu banyak pikiran dulu,'' pesan nya.


''Baik dokter,'' sahut Andrian lalu berjabat tangan dengan sang dokter.


Suster kini sudah ada di ruangan Riana untuk membuka selang infus yang masih menancap di telapak tangan nya, rasa nyeri ketika jarum infus di buka menjalar di tubuh nya, membuat pemilik tubuh kurus tersebut meringis kesakitan.


''Terima kasih suster?'' ucap nya ramah.


Sama sama Tuan,'' jawab sangat suster dengan mengulas senyum di bibir nya.


''Kalian langsung pulang atau masih ke apartemen dulu,'' tanya Tante Mala kepada Riana dan juga Andrian.


''Kami langsung menuju bandara saja tante, di sana sudah ada pesawat yang sedang menunggu kita,'' jawab Andrian.


''Kak,'' Ucap Riana dengan wajah bingung nya, karena mendengar ucapan dari sang kakak.


''Aku sudah menghubungi asisten Papa, dan dia akan segera menyiapkan pesawat untuk kita,'' balas nya dengan merangkul sang adek.


''Kalau gitu kami pamit tante, maaf sudah merepotkan tante.'' kata Riana tak lupa juga mencium punggung tangan tante Mala.


''Hati hati, kalau sudah sampai jangan lupa hubungi tante,''

__ADS_1


''Iya tante, terima kasih.'' Riana dan Andrian melangkah keluar dari kamar rawat inap nya menuju mobil dan segera pergi ke Bandara, di mana di sana sudah menunggu sang asisten.


Sedangkan tante Mala sudah menghubungi sopir pribadinya agar dia di jemput di rumah sakit.


__ADS_2