
Andrian berjalan di lorong rumah sakit dengan mendorong kursi roda Riana, Andrian tidak memperbolehkan Riana untuk jalan yang jauh agar tidak kecapean sampai di ruangan sang Mama.
''Seharus nya Riana tidak duduk di kursi roda ini lagi kak?'' Ucap Riana dengan mendongakkan kepala nya ke atas, sehingga menatap wajah tampan sang kakak, namun terlihat begitu dingin ketika di tatap dengan begitu sangat lama.
''Sudahlah, jangan banyak protes. Mau bertemu dengan Mama nggak?!'' jawab Andrian menatap tajam sang adek, sehingga membuat bulu kuduk Riana bergidik ngeri melihat wajah sang kakak.
Riana langsung bungkam dan hanya bisa mengikuti apa kata Rian, namun di pertengahan jalan Rian dan juga Riana bertemu dengan Michael yang memang dinas di rumah sakit tersebut.
''Ri-riana,'' sapa Michael setengah gugup. ''Kamu sedang sakit?'' tanya Michael yang kini sudah menghampiri Riana dan juga Rian.
''Riana tidak sakit kok, hanya sedang malas jalan saja,'' jawab Rian dengan ketus, dia begitu jengah melihat wajah Michael pagi setelah berbuat tidak adil dengan adek nya. ''Maaf kamu buru buru, permisi.'' ujar Andrian mendorong kursi roda Riana.
Riana tidak berkomentar apapun melihat sang kakak yang begitu kecewa dengan Michael, tapi saat ini Riana sudah bisa melepas Michael dari hidup nya. 'Kenapa aku harus memikirkan dia, nggak banget!' gumam Riana dalam hatinya.
''Kamu masih mau membela Michael itu!'' tanya Rian dengan datar, melihat sang adek yang hanya diam saja sejak tadi.
''Nggak kok kak, bukan nya kak Rian sendiri yang selalu bilang, kalau laki-laki bukan cuma Michael saja, masih banyak laki-laki yang mau sama Riana kak?'' balas nya dengan menatap wajah sang kakak yang kini ada di hadapan nya.
''Baguslah, Michael tidak pantas mendapatkan wanita secantik dan sebaik kamu dek,'' Riwn sedikit memuji sang adek dengan kata cantik yang membuat telinga Riana memerah seperti kepiting rebus.
''Kenapa merah seperti itu,'' Rian meledek sang adek yang terlihat sedikit malu dengan pujian nya.
''Ayo ach, aku mau cepat bertemu dengan Mama, kak Rian malah selalu menggoda ku,'' rengek Riana dengan mengerucutkan bibir nya.
Andrian hanya terkekeh geli melihat sang adek, Rian kembali mendorong kursi roda Riana sampai di ruangan sang Mama.
Tok tok tok
__ADS_1
Pintu di ketik dari luar, dan tak berapa lama muncullah kepala Rian yang menyembul ke dalam, takutnya di dalam masih banyak keluarga nya yang datang menjenguk nya, seperti tadi siang misalnya.
''Sayang, kamu sudah datang?'' sapa Mama Citra dengan nada lemah nya.
''Iya, maaf Riana tadi kekenakan tidur nya Ma,'' ujar Riana dengan nada sedikit lirih, air mata nya sudah memupuk di kelopak mata nya.
''Sudah nggak apa apa, kakak kan juga sedang sakit. Mama bisa ngerti kok? lagian kamu juga harusnya beristirahat di rumah,'' sahut Mama Citra yang kini sudah memeluk puteri satu satunya.
Riana sudah tidak kuat menahan air mata nya yang sudah membanjir di kedua pipinya. Riana merasa bersalah karena sudah membuat sang Mama sakit seperti ini hanya karena terlalu memikirkan dia.
''Riana sudah tidak apa apa kok Ma, jadi Mama jangan terlalu memikirkan hal yang sudah berlalu, Riana juga sudah melupakan semua nya, dan Riana juga akan membuka hati lagi,'' gumam Riana kepada sang Mama, agar Mama nya tidak lagi berpikiran yang tidak tidak tentang puteri nya.
''Mama tenang saja, sebentar lagi pasti ada seseorang yang datang melamar adek kok Ma, jadi mulai sekarang? Mama tidak terlalu memikirkan adek lagi,'' sambung Andrian yang langsung di plototin oleh sang adek.
''Siapa kak?'' tanya Tuan Arzan yang baru saja datang setelah tadi berpamitan untuk bertemu dengan klien nya di cafe rumah sakit, tempat istri nya di rawat.
'Siapa coba, sedangkan tante Mala hanya bercanda akan menjodohkan dirinya dengan putera semata wayang nya, yakni Alkairo,' batin Riana memikirkan setiap yang di ucapkan oleh sang kakak.
''Jangan percaya Pa, Ma. Kak Rian hanya bercanda agar Mama tidak lagi memikirkan adwk saja,'' sahut Riana yang merasa tidak enak dengan Mama dan juga Papa nya.
Di sisi lain, tante Mala dan juga suaminya sudah tiba di rumah sakit tempat Mama Riana di rawat.
''Suster, kamar Nyonya Citra di mana?'' tanya nya dengan ramah.
''Nyonya Citra ada di ruangan VVIP no. 5 Nyonya,'' jawab nya yang tak kalah ramah.
''Terima kasih,'' Ucap tante Mala dan melangkah pergi menuju ruangan VVIP yang di maksud barusan.
__ADS_1
''Mama tau dari mana, kalau nama Mama Riana adalah Citra,'' tanya sang suami yang merasa heran dengan istri nya, karena dia bisa tau nama orang tua Riana yang tak lain adalah calon besan nya.
Tok tok tok
Tante Mala mengetuk pintu ruangan VVIP.
Riana berjalan dengan perlahan, menuju pintu yang di ketuk seseorang dari luar, dan berapa terkejut nya Riana ketika melihat di depan pintu ruangan Mama nya adalah tante Mala dan juga suaminya.
''Siapa sayang?'' tanya Tuan Arzan kepada puteri nya, karena melihat Riana yang masih dengan keterkejutan nya.
''Tante Mala dan Tuan Edward Pa,'' sahut Riana, ''Tante apa kabar,'' sapa Riana tak lupa juga mencium punggung tangan tante Mala dan juga Tuan Edward ayah Alkairo.
''Mari masuk tante, Tuan.'' ajak Riana yang sedikit sungkan dengan kedua orang tua Alkairo, dia tidak menyangka kalau kedua orang tua Alkairo bakalan datang menjenguk sang Mama di rumah sakit.
''Silahkan duduk Tuan,'' Tuan Arzan mempersilahkan tamu yang baru datang.
''Bagaimana keada'an kamu jeng?'' tanya tante Mala yang tadi langsung menghampiri Mama Citra di tempat tidur rimah sakit.
''Alhamdulillah sudah agak mendingan,'' jawab Mama Citra dengan lembut. ''Maaf kalau boleh tau? anda siapa,'' tanya Mama Citra yang penasaran sejak tadi, soalnya Mama Citra berpikiran kalau dia pasti bukan saudara nya.
''Dia Mama Alkairo Ma, yang tadi Rian omongin itu?'' potong Rian yang sudah menaruh minuman dingin di atas meja, di sana sudah ada beberapa camilan juga.
''Alkairo siapa,'' sambung Tuan Arzan yang memang tidak pernah mengetahui kalau puteri nya punya teman yang bernama Alkairo.
''Alkairo yang suka dengan anak gadis anda Tuan,'' sela Tuan Edward yang mengerti maksud dari Papa Riana.
''Riana dan kak Al hanya berteman kok Pa,'' ujar Riana yang merasa tak enak dengan ucapan sang kakak, karena menurut Riana Alkairo beneran suka kepada nya.
__ADS_1
Tante Mala hanya mengulas senyum di bibir nya, dan terus menatap ke arah Mama Citra yang masih kebingungan dengan kedatangan dirinya ke rumah sakit tempat ia di rawat.