
Di perusaha'an Riana sedang membahas sebuah bisnis yang baru saja ia pelajari dari semua orang yang ikut bergabung di dalam nya, tak terkecuali dengan tuan Samudra.
Sesekali Riana menengok ke arah jam yang tertempel di dinding yang ada di ruangan pertemuan, di dalam hatinya gelisah selalu memikirkan sang suami yang sedang sakit sejak semalam.
Riana tengah di landa kegalauan di kantor Malik Corporation, Christopherr sesekali melirik suami sang Bos yang sangat cantik di mata nya.
'Sangat beruntung sekali Al, bisa mendapatkan wanita secantik ini? bagaikan bidadari yang baru turun dari kayangan,' gumam nya dalam hati.
Riana yang di pandang Christofer hanya membuang muka melihat ke arah Lainnya. 'Kenapa tuh cowok satu, lihat lihat je arah gue,' gerutu Riana yang masih menatap ke arah jendela, di mana di sana ada bekas awan putih lurus yang membentang panjang di langit biru.
Setelah selesai membahas semuanya, sambungan video pun di putus, karena pembahasan bisnis dan kerja sama antara ke lima perusaha'an sudah deel saat ini juga.
Tuan Samudra menutup perjumpaan mereka siang ini, dan berlalu pergi dari ruangan tersebut, setelah berpamitan kepada semua nya, tanpa menyapa Riana terlebih dulu.
''Karena rapat nya sudah selesai, kita bisa kembali ke kantor masing-masing,'' ujar Tuan Samudra dengan nada datar nya.
Semua yang bergabung hanya mengangguk saja, menanggapi ucapan Tuan Samudra yang memang selalu bersikap dingin kepada seluruh klien dan juga kolega nya.
Riana menghela nafas lega, karena pertemuan hari ini sudah selesai dengan hasil yang memuaskan, dan juga Riana tidak menyangka kalau dirinya akan bertemu dengan Ayah nya, walau hanya lewat sambungan saja.
''Papa memang selalu the best di mata semua anak anaknya,'' gumam nya pelan seraya menyunggingkan senyuman nya, yang mana Christopher masih berdiam diri di tempat duduk nya dengan menatap ke arah Riana yang tengah menyunggingkan senyuman nya.
''Manis?'' gumam nya pelan, Christopher tidak menyangka sebuah ucapan keluar begitu saja, dan itu semua di dengar oleh Riana yang masih duduk di tempat nya.
Christopher yang sadar akan pandangan Riana kepadanya, hanya bisa nyengir kuda dengan kekonyolan nya, karena tengah memuji wanita Bos nya, lebih tepat nya lagi adalah istri Bos nya.
''Maaf kakak ipar? kaka ipar mau pulang atau masih mau mengerjakan pekerja'an Tuan muda,'' tanya Christopher, mencoba mengusir kecanggungan yang ia rasakan saat ini.
''Apa masih banyak pekerja'an Mas Al hari ini,'' jawab nya dengan ramah.
''Ya lumayan banyak Nona, Tuan Al sudah satu minggu tidak masuk ke kantor, dan pekerja'an sudah menumpuk di meja kerja nya, dan itu juga menunggu tanda tangan dari Tuan Al sendiri,'' tukas nya memberi tahu yang sejujurnya kepada Riana, selalu dia istri Alkairo saat ini.
''Kalau masalah tanda tangan saya tidak ada hak sama sekali, namun aku bisa mengerjakan pekerja'an nya. Kalau boleh? antarkan aku ke ruangan Mas Al sekarang,'' balas Riana yang langsung di angguki oleh Christopher.
''Mari Nona saya antar ke ruangan nya,'' Christopher sudah beranjak dari duduk nya, dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang sudah mulai sepi.
Di perjalanan menuju ruangan Alkairo, Christopher sempat bertanya kepada Riana tentang pertemuan nya dengan sang Suami.
__ADS_1
''Hem heemm..'' Christopher berdeham.
''Kalau boleh tau, kakak ipar dan Tuan Al bertemu di mana, kok aku ketinggalan berita nya ya, dan tiba-tiba sudsh menikah saja,'' lanjut nya dengan nada keheranan, karena dia sebagai sekretaris dan juga sahabat nya tidak mengetahui pasti, kalau sahabat nya sudah bertemu dengan tambahan hati nya, dan sekarang malah sudsh menjadi sepasang suami-istri saja.
''Riana dan Mas Al bertemu di kota ini juga kok, tapi ketika Riana pulang bersama dengan kakak kembar ku, Mama Nathalie dan Papa Malik mengunjungi kami ke rumah, dan setelah itu Mas Al juga datang? dan barulah membahas tentang pernikahan kami berdua,'' sahut Riana mengingat kenangan kemarin bersama sang suami, yang menikah secara mendadak.
''Apa kalian berdua berpacaran sebelum memutuskan menikah?'' tanya Christopher lagi, karena saking penasaran nya.
''Kami tidak berpacaran, dan kebetulan Mas Al sahabat Kak Andrian juga,'' jelas nya.
''Jadi kalian tanpa pacaran terlebih dulu dengan Alkairo,'' lagi lagi Christopher terkejut dengan penuturan Riana.
Riana menggeleng pelan dan mengulas senyum di bibir ranum nya. ''Ya sudah, aku akan masuk mengerjakan semua pekerja'an Mas Al sebisa aku saja, mungkin kalau membutuhkan tanda tangan aku masih tidak berani, karena ini bukan tanggung jawab ku juga kan?'' tutur nya dengan nada yang begitu lembut, ketika di dengar semua orang.
''Baiklah, dan aku berharap Alkairo akan segera masuk ke kantor ini secepat nya, karena aku juga sudah sangat pening sekali, seminggu di tinggal pergi, rasanya kepelaku mau pecah saja,'' ujar Christopher dengan memijit kening nya yang masih berdenyut itu.
''Terima kasih sebelum nya, karena sudah meng-handle semua pekerja'an Mas Al,'' ucap Riana kepada Christopher, meski semua itu adalah tanggung jawab Christopher juga, namun Riana masih mengucapkan kata terima kasih kepada nya, agar Christopher juga merasa sangat di hargai dalam pekerja'an nya juga.
Christopher tersenyum seraya berkata, ''Jangan berterima kasih seperti itu, aku juga bekerja di kantor ini di gaji oleh suami kamu, ya walaupun aku juga sempat kecewa sich. Karena tidak memberitahu aku tentang pernikahan kalian kemarin, harusnya aku juga berhak tau sebagai sahabat yang sudah sangat lama menemani da juga,'' gumam nya lirih.
''Tenang saja, saudara Mas Al banyak yang belum mengetahui kalau kami sudah menikah, karena di sini bakalan di adain resepsi pernikahan kami kok, jadi jangan sedih githu dong? masak iya cowok jentel sedih githu sich,'' Riana meledek Christopher yang sekarang sudah cemberut di depan nya. ''Sudah lah, aku masuk dulu, kalau terus mengobrol di sini pekerja'an Mas Al tak akan selesai,'' putus Riana dengan melangkahkan kakinya masuk ke ruangan suaminya.
Melihat tumpukan berkas yang harus ia periksa sendirian, membuat nya menarik nafas panjang nya dan mulai membuka satu persatu berkas berkas nya.
...****************...
Di rumah besar Tuan Malik, Alkairo sudsh terbangun dari tidur nya dan kini tengah mencari keberada'an sang istri, karena di dalam kamar nya terlihat begitu sepi.
Alkairo yang sudsh mendingan dari sakit nya keluar dari kamar dan berjalan ke lantai bawah untuk mencari sang istri di sana.
''Sayang, kamu sudah bangun rupanya,'' sapa Mama Nathalie saat melihat Alkairo menuruni anak tangga.
''Iya Ma? Al sudah sembuh kok,'' jawab nya dengan terus menapakkan kakinya menuju kursi yang saat ini sedang di duduki Mama Nathalie.
''Ma, Riana kemana? kok Al tidak melihat dia sedari Al bangun,'' tanya nya sembari terus menatap ke arah yang mungkin saja istri nya akan keluar dari sana.
''Istri kamu sedang di kantor, hari ini ada pertemuan dengan Tuan Samudra, dan kalau kamu sampai tidak menghadiri pertemuan itu, perusaha'an kamu akan mengalami kerugian, jadi Mama menyuruh istri kamu saja, untuk datang ke sana bersama sopir Mama tadi,'' jawab Mama Nathalie dengan panjang lebar kepada putera nya.
__ADS_1
Alkairo terkejut mendengar penuturan dari Mama Nathalie, ''Mama, Mama kok biarin Riana datang ke sana sich, dia itu tidak mengerti bisnis ini, dan lagi? Tuan Samudra begitu galak kepada semua orang, Al takut Riana ketakutan di saat dia melakukan kesalahan,'' seru Alkairo yang kini merasa gelisah, karena istri nya akan bertemu dengan Tuan Samudra yang notabene nya dingin, songong dan juga angkuh.
Tapi semua pikiran yang Alkairo pikirkan semua nya salah, buktinya Riana bisa melewati semuanya dengan santai dan tanpa merasa takut sama sekali dengan Tuan Samudra yang terkenal galak itu.
''Sudah lah, Mama yakin istri kamu bisa melalui semua nya kok,'' ucap Mama Nathalie yang percaya dengan menantunya, dia yakin Riana bisa menghadapi Tuan Samudra seperti putera nya ketika sedang berhadapan dengannya.
Alkairo yang resah merogoh ponsel nya dan dengan segera menghubungi istri nya, tapi Mama Nathalie malah tidak memperbolehkan putera nya bertanya langsung kepada sang istri.
''Lebih baik kamu hubungi Christopher saja, jangan langsung hubungi Riana, kalau kamu menghubungi dia, dia tidak akan memberitahu kamu yang sebenarnya,'' cegah nya dengan memegang tangan Alkairo.
Alkairo mengerti apa yang di katakan oleh sang Mama, dan Alkairo hanya mengikuti perintah Mama Nathalie dengan menghubungi sang asisten.
-''Hallo,'' Ucap Christopher setelah menggeser layar ponsel nya.
-''Chris, bagaimana pertemuan tadi?'' tanya Alkairo segera memberondong Christopher.
Christopher berdecak kesal dengan sikap sahabat nya tersebut.
-''Baru ingat kamu, kalau di kantor ini masih ada aku,'' jawab nya ketus.
-''To the poin Saja dech, aku tidak ingin berdebat dengan kamu saat ini, bagaimana keada'an istri ku di kantor,''
-''Nggak usah ngegas githu, dan kenapa malah kamu yang marah sich, harus nya aku yang marah sama kamu,'' jawab Christopher cepat.
-'' Nanti aku akan ceritakan semuanya sama kamu, sekarang lebih baik kamu ceritakan tentang pertemuan tadi dengan Tuan Samudra, apa Riana merasa ketakutan? karena aku mengenal Tuan Samudra seperti apa,'' kata Alkairo.
-'' Siapa bilang istri kamu ketakutan, dia itu sangat pemberani tau nggak? selain pemberani dia juga sangat cantik dan pintar dalam mengambil hati semua orang di pertemuan tadi, aku juga tidak mengira kalau dia adalah istri kamu sekaligus puteri dari Tuan Arzan,'' Christopher menceritakan semua nya kepada sahabat nya yang ternyata istri nya adalah puteri dari seorang konglomerat yang terkenal dingin di Jakarta.
-'' Baiklah, nanti sore aku akan menjemput dia di kantor,'' kata Alkairo dan langsung memutuskan sambungan telfon nya dengan sang sahabat.
''Apa yang Mama bilang, istri kamu itu orang nya sangat pemberani dan dia juga bisa menghadapi Tuan Samudra dengan bersikap santai pastinya, kamu juga harus bangga hati karena sudsh memilih seorang istri yang baik dan juga cantik tentunya,'' sambung Mama Nathalie memuji sang menantu yang masih berada di kantor putera nya.
Alkairo hanya menanggapi ucapan Mama Nathalie dengan senyuman, mengingat wajah Tuan Samudra yang begitu menakutkan, tapi istri nya malah bisa melewati itu semuanya dengan bersikap santai dan juga dia berani menatap wajah Tuan Samudra, tidak seperti orang orang lain nya yang selalu menunduk ketika sedang berhadapan dengan Tuan Samudra.
Riana selalu di ajari untuk terus mendongakkan kepala nya, ketika sedang berhadapan dengan semua orang, selama dirinya merasa benar dan tidak pernah melakukan kesalahan sebelumnya, ucapan ucapan itu selalu dia ingat dengan baik oleh semua putera dan puteri Tuan Arzan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra, jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, terima kasih ππππππππ