
Hari itu Erlita sedang tidak ada kuliah, sementara Nafan, meskipun masih cuti harus menyelesaikan sebuah laporan yang harus dikirimkan ke pusat hari itu. Jadi ia sangat serius menarikan jemarinya di atas keyboard leptopnya.
Erlita merasa bosan hanya berdiam diri di rumah. Meskipun semua fasilitas sudah ada di rumahnya ia merasa jenuh karena sudah sering menjajal semuanya, mulai dari jogging track, gymnasiun pribadi di lantai satu, kolam renang di rooftop, salon pribadi, bahkan game zone pribadi yang memiliki hampir dua puluh lima jenis permainan.
Tapi entah kenapa baginya pekerjaan seperti Jihan lebih menyenangkan. Menjadi populer, dikelilingi banyak lelaki, sering bepergian kemanapun, bebas dari jam malam dan bebas melakukan apapun yang disukainya. Selain itu, ia selalu memiliki banyak uang. Tak pernah merasa cemas jika neneknya menghukumnya dan menghentikan uang sakunya.
Meskipun merasa sedikit iri dengan kakak sepupunya itu, ia tidak pernah sekalipun ingin menjadi model seperti Jihan. Banyak tawaran untuk pemotretan, syuting bahkan bintang iklan yang mampir kepadanya, tapi Erlita selalu menolak.
Baginya hidup glamor tanpa selalu disoroti orang lain jauh lebih menyenangkan. Bagaimanapun juga privasi masih memiliki nilai yang sangat penting baginya.
***
“Fan, temenin gue ke mall dong.. bosen gue di rumah terus.”
“Kamu ngga lihat saya sedang sibuk?” Nafan bahkan tidak menoleh ke arah Erlita sedikitpun.
“Pergilah sendiri. Saya sudah memberimu ijin.”
“Gue ngga cuma butuh ijin lo, tapi sekarang lo juga harus ikut gue.”
“Kenapa harus?”
“Karena sekarang, semua pembayaran belanjaan gue butuh tanda tangan lo?”
Nafan masih belum mengerti maksud perkataan Erlita tapi sepertinya ia tahu konsekuensi di balik kata robot penghisap uang yang dikatakan Pratiwi tadi. Hanya saja ia tidak menyangka kalau tindak lanjutnya akan secepat itu.
__ADS_1
“Oke, kalau gitu. Kamu bisa bantu saya mengupload file ini, ini dan ini lalu kirim ke sini. Pastikan tidak ada yang terlewat. Saya mau ke toilet dulu.”
Erlita membaca sekilas hasil laporan Nafan, sangat rapi dan terstruktur. Ia juga memiliki tata bahasa yang luwes dan kaya. Erlita kemudian sedikit membenahi beberapa penulisan yang salah ketik.
Lalu menyimpan dan menguploadnya sebagai sisipan di email. Seakan tugas itu adalah miliknya, ia kemudian menulis beberapa kata di body email lalu mengirimnya ke alamat yang sudah ditulis Nafan sebelumnya.
Setelah email terkirim, ia baru sadar bahwa ia menuliskan mananya sendiri di bagian salam penutup.
“Sial! Kenapa bisa lupa sih?! Gimana kalau Nafan tahu? Bisa ngamuk dia. Bisa-bisa acara shopping gue gagal.” Sesal Erlita dalam hati.
Tak ingin ketakutannya terjadi, Erlita memilih untuk diam saja.
“Sudah gue kirim dan sudah gue log out juga.” Erlita menutup leptop Nafan berharap ia tidak segera memergoki kesalahnnya.
***
Sesampainya di mall, Nafan memilih tempat duduk paling nyaman untuk menunggu Erlita berbelanja berjam-jam. Tiga setengah jam kemudian Erlita memanggilnya ke meja kasir khusus.
“Pacar barunya ya Non?”
“Sopir baru mbak.” Sahut Nafan santai menjawab pertanyaan petugas kasir.
Itu sebenarnya juga benar. Karena setiap kali bersama Erlita, Nafan hanya bertugas mengantar Erlita sampai tujuan lalu menunggunya sampai memanggilnya ke meja kasir untuk tanda tangan tagihan. Tidak lebih.
“Ganteng juga sopir barunya, Non. Sudah punya pacar belum mas?”
__ADS_1
Erlita Cuma cengar-cengir sementara Nafan dengan santai menimpali, “Belumlah.. Mana ada cewek yang mau sama sopir kaya saya?!”
“Saya mau kok mas, kalau masnya juga mau sama saya.” Goda si kasir lagi
“Boleh, nanti saya hubungi lagi kalau saya sudah butuh pacar yah.” Timpal Nafan sembari memilah-milah belanjaan Erlita yang menggunung.
“Eh, fan, kenapa disingkirin? Ini brand favorit gue. Tas limited edition. Gue wajib beli.”
Nafan sama sekali tidak menggubris. Ia terus saja memilah barang-barang yang menurutnya layak atau tidak layak dibeli. Hanya sisa beberapa saja yang Nafan setujui untuk dibayar, sebuah tas, dua potong baju yang sebenarnya terlalu biasa bagi Erlita karena dia mengambilnya asal saja mumpung sedang belanja, dan sebuah outer branded keluaran terbaru.
Erlita benar-benar kesal dengan ulah Nafan. Ia seharusnya hanya bertugas menyetujui semua yang Erlita pilih.
“Kenapa pakai ikut-ikutan nyortir segala sih? Emang situ digaji berapa sama Kanjeng Eyang Pratiwi?!” gerutu Erlita dalam hati.
“Tunggu pembalasan gue!”
***
“Fan, tunggu gue! Lo—“ belum sempat Erlita melanjutkan perkataannya, Nafan sudah menarik tubuhnya lalu membawanya berjalan ke arah yang berlawanan.
Erlita berusaha melepaskan tangan Nafan yang melingkari pundaknya. “Lo apa-apaan sih?! Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan! Dan inget, gue paling ngga suka ada orang asing yang pegang-pegang gue tanpa ijin!”
Nafan cukup tersinggung disebut sebagai orang asing. Tapi untuk saat ini sebutan itu memang layak untuk disematkan kepada keduanya. Karena meskipun makan dan tidur bersama mereka benar-benar seperti orang asing satu sama lain. Tidak saling mengenal atau benar-benar peduli.
Nafan segera mengikuti langkah Erlita yang berjalan menjauhi ruang bioskop. Ia lega setidaknya, Erlita tidak melihat Dean sedang berpelukan dengan Jihan memasuki ruang bioskop.
__ADS_1