Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 31


__ADS_3

“Lo kenapa murung gitu kak?” tanya Erlita ketika suatu sore melihat Kenny sedang terduduk lesu di sofa di dalam ruang kerjanya.


“Ta, kenapa sih cewek-cewek tu pada ngga suka sama gue?” tanya Kenny polos, “Karena gue lemot ya Ta?”


“Eh, siapa bilang kak? Lo tahu ngga desain produk yang lo buat kemarin sukses besar. Gue dapat banyak orderan gara-gara itu. Ngga tanggung-tanggung, kita akan memproduksi besar-besaran karena banyaknya permintaan untuk ekspor juga.”


“Terus kenapa Rania malah ngejauhin gue?”


“Rania?” sepertinya Erlita tahu betul kenapa Rania berusaha menghindari urusan yang melibatkan keluarga besarnya.


Bagaimanapun juga Erlita masih membutuhkan bantuan Rania untuk mengungkap kebenaran dan mengeluarkan Bintoro dari penjara. Dan tak boleh ada seorang keluarganya pun yang tahu, termasuk Kenny.


“Kak, lo pernah ngga mikir, kalau cewek itu lebih berhati-hati dalam memilih pasangan daripada cowok. Dan gue yakin, di mata Rania, lo terlalu “tinggi”.” Erlita membuat tanda petik di udara.


“Bagaimanapun juga lo seorang cucu tertua Susbihardayan, pemilik perusahaan tempat Rania bekerja, lo kaya dan lo punya segalanya. Pasti dia minderlah.. Sebagai cewek, ngga gampang bisa bersanding sama pria yang jauh lebih kaya darinya. Kalau ngga dibully karena dianggap mau ngerokin harta lo, paling-paling direndahin dan diremehin karena bukan siapa-siapa.”


“Kaya Nafan ya, Ta?”


Duh ni orang katanya tulalit, tapi kok tebakannya selalu benar ya? Sudah cukup lama ia berusaha untuk tidak mengingat dan mendengar nama itu lagi. Tapi kenapa sekarang malah dibahas lagi sih?


“Nafan itu anak baik, Ta. Dia orang pertama yang mau nemenin gue ngobrol di pesta pernikahan lo sementara yang lain sama sekali ngga nganggep gue ada. Dia juga yang pertama kali ngajakin gue selfie terus diposting di sosmednya tanpa ragu dan malu. Dan dia juga satu-satunya orang yang mau ngebantu gue ngegambar bahkan cariin gue cat paling bagus buat bikin mural di dalam kamar gue. Bahkan sebelum rapat pemegang saham kemarin, dia juga hubungin gue buat minta tolong supaya gue kasih suara gue ke lo. Tapi lo tau sendiri kan? Nyokap gue dan pegang semua yang gue punya.”


“Hah?! Jadi Nafan punya sosmed? Terus dia juga sering nemenin Kak Kenny gambar? Trus dia juga minta tolong kak Kenny buat bantu gue? Jadi dia ngga marah sama gue? Malah tetep mau bantu gue meskipun udah gue marahin dan tinggalin gitu aja? Ta, lo mikirin apa sih? Bisa-bisanya lo seneng diperhatiin sama orang yang udah ngebunuh nyokap sama nenek lo.” Batin Erlita berperang


“Tapi dia udah ngebunuh nyokap gue, Kak..” Erlita menangis di pelukan Kenny.

__ADS_1


“Hah?! Siapa yang bilang Ta?”


“Nafan! Dia sendiri yang bilang ke gue kalau ibu terseret ombak waktu nyelametin dia.”


“Ta, gue tahu gue bego, tapi dari cerita lo aja gue tahu kalau Nafan ngga ngebunuh nyokap lo. Tante Naina sendiri yang mau nyelametin Nafan dan kebetulan saja nyokap lo jatuh ke sungai terus keseret arus.”


“Tapi kalau aja hari itu dia ngga ada dalam bahaya nyokap gue ngga bakal keseret arus kan, kak.”


“Iya juga sih, Ta.” Tulalitnya Kenny mulai kambuh. “Tapi Ta, mana Nafan tahu kalau nyokap lo juga bakal ada disana? setau gue ya, Ta, nyokap lo ngga pandai berenang jadi untuk apa hari itu dia pergi ke sungai?”


Kenny benar juga, untuk apa ibunya pergi ke sungai hari itu? Padahal Erlita ingat betul bahwa hari itu mereka hendak pergi berbelanja untuk membeli kado ulang tahun Jihan tapi tiba-tiba saja ibunya pergi tanpa pamit dan beberapa jam kemudian dinyatakan meninggal dunia karena terseret arus sungai.


“Terus kak, menurut lo siapa yang tahu apa alasan nyokap gue tiba-tiba pergi ke sungai?”


Kenny mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.


Kenny memberitahu Erlita.


“Sial, kenapa diprivat sih?”


***


Hari itu, Erlita sangat merindukan neneknya, jadi ia memutuskan untuk tidur di dalam kamar neneknya yang sudah cukup lama tidak ditempati. Ia melihat meja dan laci neneknya yang seperti habis diacak-acak. Ia tahu betul bahwa neneknya tidak akan pernah meninggalkan kamarnya dalam keadaan berantakan seperti itu.


“Bik Sumi!!!!”

__ADS_1


“Ya, Non. Ada apa?”


“Bik, siapa orang yang habis masuk ke kamar ini? Ampun, Non. Tapi sejak Eyang wafat, ngga ada orang yang berani masuk ke kamar ini. Terakhir saya masuk kesini minggu lalu itupun atas seijin Nyonya Sania.”


“Lalu waktu Bik Sumi masuk minggu lalu, apa meja dan laci Eyang berantakan seperti ini?”


“Maaf, Non saya ngga ingat betul tapi sepertinya ngga. Kamar ini selalu ditinggalkan dalam keadaan rapi.”


Erlita mulai curiga. Siapa yang masuk ke kamar neneknya dan mengacak-acak barang pribadi neneknya dan apa sebenarnya yang dicarinya? Ia bergegas menuju kamar untuk mengecek rekaman cctv selama seminggu ke belakang.


Keesokan harinya ia baru menemukan bahwa pamannyalah yang masuk ke dalam kamar itu dan mengacak-acak meja, laci bahkan lemari neneknya. Prasetyo, ayah Kenny. Tapi untuk apa prasetyo masuk ke sana? Apa yang dicarinya?


Erlita kembali ke kamar neneknya, ia mengecek semua barang yang diacak-acak Prasetyo. Ia kemudian berfikir dimana kemungkinan neneknya menyembunyikan barang yang berharga dan tidak ingin ditemukan oleh orang lain.


Erlita memperhatikan setiap sudut ruangan dan perabot di dalam kamar neneknya. Tidak ada satupun yang mencurigakan.


Ia kembali berfikir, dimana tempat yang paling aman? Bila diperhatikan lebih detail hampir tidak ada satu tempatpun di dalam ruangan neneknya yang luput dari petugas kebersihan.


Bahkan bawah tempat tidur dan meja tak pernah luput dari jamahan para pelayan yang bertugas membersihkan kamar neneknya. Karena neneknya tidak mau ada sedikitpun debu yang tertinggal di kamarnya.


Erlita mereka ulang adegan yang selalu dilakukan oleh petugas kebersihan di kamar neneknya. Ada satu tempat yang tidak pernah dijamah yaitu bagian bawah karpet dibawah kursi rias neneknya. Karena tipis, biasanya karpet itu hanya divacum tanpa diangkat.


Erlita segera membuka karpet itu dan ia menemukan sebuah kertas yang dimasukkan dalam map plastik. Sebuah akte kelahiran.


Akte kelahiran seorang anak bernama Bramantyo Susbihardayan dari orang tua yang bernama Suryo Susbihardayan dan Ratih Kamila. Erlita menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia tidak percaya bahwa selama ini neneknya benar-benar menutup rapat fakta bahawa Bram, orang yang selalu berusaha merebut harta miliknya, adalah anak haram dari kakeknya dan wanita bernama Ratih.

__ADS_1


Erlita segera menyembunyikan akte kelahiran asli milik pamannya itu lalu bergegas menuju ke kamarnya. Ia benar-benar tidak menyangka akan menemukan akte yang sudah lama disimpan neneknya itu. Ia belum tahu bahwa masih banyak rahasia lain yang belum diketahuinya.


__ADS_2