
Setelah kepergok Johan malam itu, Farah langsung meminta Prasetyo mengantarnya pulang untuk menemui Johan. Mereka tiba di rumah saat subuh dan rupanya Bram sudah menunggu kedatangan Farah di ruang tamu.
Begitu Farah masuk, Bram langsung menyeret dan menamparnya, “Dasar pelacur tidak tahu diri!”
Farah jatuh tersungkur di lantai. Seakan belum merasa puas, Bram kembali mengangkat dagunya sampai ia berdiri lagi lalu kembali menampar Farah sampai hidungnya berdarah, “Dasar tidak tahu diuntung! Aku membiarkanmu tetap berada di keluarga ini meskipun tahu bahwa kau menipuku dengan berpura-pura menjadi anak keluarga Dewantoro. Tapi apa yang kamu lakukan?!”
Farah terus saja menangis menahan sakit akibat tamparan suaminya yang bertubi-tubi. “Aku bisa jelaskan, Mas?”
“Jelaskan apa? Apa kau kira aku bodoh sampai tidak tahu bahwa kau menduakan aku dengan pria dungu model Pras?” Bram kembali menendang tubuh Farah yang sudah terjerembab ke lantai karena tamparannya sebelumnya.
Farah benar-benar tidak tahan lagi, “Iya. Aku memang lebih memilih Pras. Kau tahu kenapa? Karena meskipun dungu, Pras bisa menghargai aku sebagai wanita dan dia tidak pernah kasar kepadaku. Dan kamu juga perlu tahu mas, bahwa aku sangat membencimu sejak pertama kali tahu bahwa kau tidak pernah bisa membuang Naina dari hidupmu.”
Bram semakin marah, ia menjambak rambut Farah lalu mendorongnya ke sofa. Ia kemudian membiarkan Farah merintih kesakitan karena perutnya membentur pinggira sofa, dan pergi untuk menghajar Prasetyo di rumahnya.
Kalau saja malam itu Sania tidak meneleponnya dan memberitahunya tentang perselingkuhan Farah dan Prasetyo, ia tidak akan pernah tahu dan akan terus menganggap bahwa Farah adalah perempuan baik-baik yang pendiam dan suka menghabiskan waktunya di rumah untuk mengurusnya dan anak-anaknya.
Setidaklah itulah pemikiran yang selama ini membuat Bram mempertahankan pernikahannya dengan wanita yang telah menipunya sejak awal pernikahan.
Saat pertama kali diperkenalkan dan dijodohkan, Bram mengenal Farah sebagai salah seorang anak dari keluarga Dewantoro yang terpandang. Selain berasal dari keluarga baik-baik, Farah juga cantik, memiliki postur tubuh yang lebih tinggi daripada dirinya dan Sania, juga sangat sopan dan pendiam.
Bram yakin dengan ketelatenannya, Farah akan bisa membuatnya lupa kepada Naina, wanita yang sangat dicintainya tepi lebih mencintai dan memilih menikah dengan Danuarta Susbihardayan, kakak tertuanya.
Namun ternyata Bram salah. Setelah menikah, ia malah tahu bahwa Farah adalah anak angkat yang sengaja dipungut dan dibesarkan oleh keluarga Dewantoro untuk merawat dan menemani putri tunggal mereka yang sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.
Bram marah mengetahui latar belakang Farah dan fakta bahwa wanita itu sengaja menipunya sejak awal agar bisa masuk ke keluarga Susbihardayan yang kaya dan terpandang.
Tak hanya itu, Farah bahkan memanggil Bagaskara, mantan Naina yang tinggal di Jogja untuk datang ke Jakarta dan menemui Naina. Farah lalu merekayasa bahwa Naina seakan berselingkuh dengan Bagaskara agar gadis itu diceraikan dan diusir dari keluarga Susbihardayan.
Sadar rencananya tidak berhasil, Farah kembali membuat ulah dengan meminta Naina, yang saat itu sedah menjadi janda paska kematian suaminya dua tahun sebelumnya, untuk datang ke sungai.
Farah yang saat itu sedang sakit karena mengalami patah tulang paska jatuh dari tangga, tahu betul bahwa Naina tidak bisa berenang. Namun ia mengatakan bahwa Bramantyo sedang mengalami kecelakaan dan dikabarkan hilang di sungai.
Melihat kondisi kesehatan Farah yang tidak memungkinkannya untuk pergi dan mendengar kabar bahwa Bram mengalami kecelakaan membuat Naina langsung pergi ke sungai tanpa berfikir panjang bahwa itu hanya sebuah rekayasa yang sengaja dibuat Farah untuk menjebaknya.
Bram yang akhirnya tahu cerita itu dari Farah segera mengejar Naina ke sungai tapi terlambat karena Naina dikabarkan terseret arus air setelah menyelamatkan seorang anak kecil. Sejak saat itulah ia membenci Farah dan sering memukul dan menyakiti Farah karena kesalahan-kesalahan kecil di antara mereka.
__ADS_1
Subuh itu, Bram bertekad untuk melampiaskan kekesalannya kepada Prasetyo yang sedang terbaring di sofanya. Ia menarik baju Prasetyo kasar lalu menghajarnya hingga babak belur.
***
Pagi harinya Sania dan Kenny kembali pulang ke rumah mereka dan kaget melihat Prasetyo tersungkur berlumuran darah di lantai. Sania segera menghubungi ambulan dan membawa suaminya itu ke rumah sakit. Untung nyawanya masih bisa tertolong.
Meskipun khawatir kalau-kalau suaminya akan mati, Sania tetap merasa lega melihat pria itu dihajar habis-habisan oleh adik lelakinya. Pria hidung belang itu memang pantas mendapat pelajaran atas apa yang diperbuatnya kepada Sania dan Kenny.
Sementara Kenny merasa tertekan dengan semua kejadian yang menimpa keluarganya. Saat itu, ia butuh teman untuk bicara. Kenny kemudian menghubungi Erlita, “Lo dimana, Ta?”
***
Sekitar dua jam kemudian mobil Kenny berhenti di depan rumah yang ditinggali Erlita bersama Johan dan Nafan. Kenny datang membawa banyak makanan dan empat buah laptop.
“Kak, lo mau ngapain bawa laptop sebanyak itu?”
“Temenin gue mabar!”
Mereka semua saling pandang, lalu menjawab bersamaan, “Ayo!”
Sejak hari itu mereka tidak ingin lagi didekte dan dikendalikan oleh orang-orang yang bahkan tidak mampu mengendalikan diri mereka sendiri. Hari itu mereka memikirkan dan menetapkan kembali tujuan hidup mereka ke depan.
Mereka tidak ingin lagi hidup di bawah bayang-bayang gelap orang tua mereka. Dan saat itulah mereka semua merasa sangat merindukan dan membutuhkan nenek super mereka, Pratiwi, yang sudah tiada.
****
Nafan senang karena Erlita tidak lagi marah soal Nafan yang tidak mengetahui berita tentangnya. Hari itu suasana begitu cair dan Nafan senang bisa santai dan bercanda bersama gadis yang sangat dicintainya itu.
Hari itu, Erlita tampil sangat santai dengan kaos oblong berukuran besar dan celana hotpant, tanpa tata rias dan tata rambut yang berlebihan. Sangat cantik dan natural layaknya gadis sederhana yang selalu Nafan harapkan. Bukan lagi Erlita yang selalu tampil glamor dan tidak bisa hidup tanpa kemewahan.
“Fan, ternyata lo jago gaming juga ya?” puji Kenny
“Gini doang mah gampang, Kak.”
“Emang lo sering ngegame juga Fan?” tanya Johan.
__ADS_1
“Sering banget, dia sampai ngga pergi-pergi dari depan komputer dua bulan full. Kebayang ngga lo?” kenang Erlita ketika melihat Nafan sedang mengerjakan proyek untuk mendapatkan uang yang Erlita minta.
“Oh, itu bukan lagi nge-game sayang, tapi kerja.”
“Kerja apaan? Mana ada orang kerja kaya kecanduan gitu?”
“Bukan kecanduan, tapi emang kerjaannya seperti itu. Dan karena deadline juga.”
“Alesan aja lo. Kalo lo bisa berada di depan komputer berlama-lama gitu, kenapa lo ngga sempet buat nyari kabar soal gue?” Erlita mulai menjelaskan kekesalannya, “ Ahh, gue tahu, apa itu karena cewek itu? Si Sisil.”
“Sisil? Emangnya Sisil kenapa?”
“Udah deh, ngga usah pura-pura bego. Gue tahu tu cewek sampe nyamperin lo jauh-jauh ke Banyuwangi ya kan? Pasti kalian mau menyelesaikan CLBK kalian kan?”
“Kamu ini ngomong apa sih, Ta? Sisil emang sempet dua kali mampir ke rumah karena dia kebetulan ada kerjaan disana. itu pun cuma ngobrol biasa aja. Ngga ada apa-apa.”
“Tuh kan?! Bener firasat gue. Tu cewek emang sengaja kesana buat nyamperin elo, buat ngedapetin lo lagi.” Erlita mulai menangis.
“Tapi, Ta, emang ngga kaya gitu. Kamu tahu darimana kalau Sisil ke rumah?”
Erlita makin kencang menangis lalu masuk ke kamarnya karena malas mendengar penjelasan Nafan yang semakin menyakitkan baginya.
Johan berusaha menahan Nafan yang berniat menyusul Erlita ke kamar.
“Cewek itu cerita ke abang bakso di gang gajahmada kalo dia mau ke Banyuwangi untuk mengejar cinta pertamanya.” Johan menjelaskan situasi yang di hadapi Nafan
“Tapi kan bukan berarti saya orang yang dimaksud Sisil.”
“Tapi faktanya kalian pernah kenal baik dan dia emang datang ke rumah lo, dua kali malah. Padahal dia tahu kalau lo lagi di rumah sendirian.”
“Tapi emang ngga ada apa-apa, Jo. Dia Cuma mampir dan kita ngobrol biasa.”
“Lo emang ngga peka banget jadi cowok, Fan.”
“Sebenernya kalian ini lagi ngeributin apa, sih?” tanya Kenny tiba-tiba.
__ADS_1
Keduanya langsung tertunduk lesu.