Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 60


__ADS_3

Jihan terlihat sangat sedih melihat anaknya mengalami terbaring dan harus melakukan tranfusi darah seperti itu. Dokter mengatakan bahwa Electa kehilangan banyak darah jadi harus ditranfusi sesegera mungkin.


Kondisinya sebenarnya tidak terlalu berbahaya, tapi karena Electa yang baru berusia enam tahun sangat lemah dan mengeluh pusing berkunang-kunang, akhirnya dokter menyarankan agar Electa dirawat di rumah sakit selama beberapa hari sampai kondisinya membaik.


“Sabar ya, Kak. Electa anak kuat. Dia pasti bakal cepet sembuh.”


“Lo tahu, Ta? Gue selalu ketakutan setiap hari. Takut Electa terluka dan jadi seperti ini. Gue ngga pernah bisa tidur dengan tenang karena takut pas gue tidur, anak gue jatuh dan gue ngga tahu.” Suara Jihan terdengar parau karena terlalu banyak menangis.


“Gue tahu gimana khawatirnya elo, Kak. Tapi kan ada banyak suster dan pelayan di rumah lo yang bakal selalu ngejagain Electa, Kak. Jadi lo jangan terlalu khawatir yah?”


“Hari ini apa,Ta? Ada dua suster yang ngejagain Electa di TK, tapi toh bisa jadi seperti ini. Untung dia langsung dibawa ke rumah sakit. Kalau telat gimana, Ta?”


Erlita memeluk tubuh Jihan sembari menepuk-nepuk lembut untuk menenangkan sepupunya itu.


Sementara itu, Alfa bersama Nasya melihat Electa dari balik jendela kaca.


“Kasihan Electa ya, Kak?”


“Gue takut, Al. Takut adek gue jatuh, pendarahan terus –“


“Sssttttt! Lo ngga boleh ngomong gitu,kak! Kita berdoa yuk, kak! Kata Mama doa itu senjata bagi orang yang tidak berdaya.”


Nasya yang biasanya galak kepada Alfa, hari itu sangat jinak dan mau berdoa bersama Alfa. Sepertinya gadis itupun memiliki ketakutan yang sama seperti ibunya.

__ADS_1


***


Sejak kejadian hari itu, Electa dilarang pergi ke sekolah, dilarang berlarian dan melakukan aktivitas yang dianggap rawan jatuh lainnya. Sebagai seorang anak kecil, Electa tentu merasa terkekang dan sedih. Karena itu, Alfa memiliki inisiatif untuk lebih sering berkunjung dan menemani Electa bermain di rumahnya.


Electa sangat senang karena Alfa sangat telaten dan sabar menjaga dan mengajaknya bermain. Alih-alih berlarian dan petak umpet, Alfa berusaha memilih mainan yang aman untuk Electa, seperti lego, menggambar dan bermain game online.


Saking seringnya bermain game online melawan Alfa, Electa jadi sangat jago bermain meskipun masih kecil. Untuk menghindari kecanduan, Alfa sesekali mengajak Electa untuk belajar pengkodean seperti yang pernah ditontonnya di youtube.


Dan siapa sangka, Electa ternyata sangat mahir bermain koding. Alfa menceritakan apa yang diketahuinya tentang Electa kepada Jihan. Dan berkat informasi itu, Jihan akhirnya mendatangkan guru koding untuk mengajari Electa.


Tidak jarang Alfa ikut belajar bersama Electa. Sehingga sedikit banyak ia jadi bisa menguasai ilmu dasar pengkodean.


Karena Alfa sangat perhatian kepada Electa, Jihan jadi semakin akrab dengan Alfa dan ternyata itu membuat Nasya yang sudah duduk di kelas enam sekolah dasar merasa cemburu. Ia tidak suka mamanya perhatian dan akrab kepada anak lain selain dirinya dan adiknya, Electa.


Buah jatuh memang tidak bisa jauh-jauh dari pohonnya. Sikap iri dan cemburuan Jihan rupanya menurun kepada putri sulungnya. Karena merasa insecure, Nasya jadi lebih galak kepada Alfa untuk membuatnya tidak betah di rumahnya.


Dan benar saja, Jihan marah besar karena Alfa membawa benda tajam ke dalam rumahnya.


“Al, kamu tahu kan kalau benda tajam yang berbahaya buat Electa diharamkan di rumah ini?”


“Tapi Tan, itu bukan cutter aku. Aku ngga pernah bawa cutter ke sekolah.”


“Terus ini apa, Al? Ini buktinya ada keluar dari tas kamu.”

__ADS_1


“Sumpah, Tan. Itu bukan cutter aku.” Mata Alfa mulai berkaca-kaca.


Ia akhirnya tahu bahwa fitnah itu memang sangat kejam dan tidak adil. Ia tidak tahu siapa yang tega memfitnahnya, tapi ia berjanji dalam hati kelak ia tidak akan pernah membiarkan orang lain memperlakukannya secara tidak adil seperti itu. Ia tidak akan mengijinkan orang lain memfitnahnya.


Sementara itu, Nasya merasa senang karena mamanya akhirnya tahu bahwa Alfa tidak jauh lebih baik darinya. Dan sejak hari itu, Jihan melarang Alfa datang ke rumahnya lagi.


***


Erlita dan Nafan cukup menyesalkan keputusan Jihan yang melarang Alfa datang bermain dengan Electa lagi. Karena diantara sekian banyak keponakannya, Alfa adalah satu-satunya yang paling peduli dan perhatian kepada anak bungsu Jihan itu.


Alfa terlihat lebih banyak murung setelah kejadian hari itu. Namun Nafan dengan sabar dan telaten berhasil memberi Alfa pengertian sehingga ia anak lelakinya itu bisa kembali ceria seperti sedia kala.


Menjelang hari ulang tahun Alfa yang ke sembilan tahun, Erlita terlihat mulai sibuk memilih tujuan wisata yang akan mereka kunjungi. Sudah menjadi semacam kebiasaan bagi Nafan dan Erlita untuk setidaknya setahun sekali setiap ulang tahun Alfa untuk mengambil cuti dan bepergian bersama ke berbagai tempat wisata.


Setelah Jogja, Bali, Raja Ampat, Nusa Penida, Disneyland Jepang, Lotte World Korea Selatan, Disneyland Paris dan Legoland, tahun ini Erlita ingin mengajak putra dan suaminya berlibur ke Niagara.


Erlita sudah mempersiapkan semuanya. Ia hanya perlu meminta persetujuan suaminya saja. Maka liburan impian mereka untuk merayakan ulang tahun ke sembilan Alfa akan segera terwujud.


Seminggu sebelum mereka berangkat ke Amerika, Rania kembali membawa kabar duka pada pertemuan keluarga kali itu. ia kembali mengalami keguguran untuk ketiga kalinya.


Mendengar hal itu, Erlita dan Nafan sepakat untuk menunda keberangkatan mereka ke luar negeri. Mereka tidak ingin berbahagia di kala ada anggota keluarga mereka yang sedang berduka.


Untuk itu, Erlita akhirnya memutuskan untuk menggelar pesta ulang tahun Alfa di rumahnya. Dan sepertinya Alfa sangat menyukai usulan mamanya itu.

__ADS_1


Dengan begitu Alfa berharap semua anggota keluarga besarnya akan datang dan berkumpul termasuk Electa. Ia masih saja merasa sedih karena tidak lagi bisa leluasa bertemu dan bermain dengan adik sepupu kesayangannya itu.


Erlita sudah menyebarkan undangan kepada semua teman sekolah Alfa, keluarga besar serta kerabat dekat mereka. Sudah cukup lama mereka tidak menggelar pesta, jadi Erlita berharap pesta kali itu bisa mempererat silaturahmi dan menambah keakraban dalam keluarga besarnya.


__ADS_2