
Sidang skripsi sudah ditentukan dan Erlita sedang bersiap untuk mengikuti sidang hari itu. Nafan dan Johan hadir menemani Erlita. Berkat doa dan dukungan semua orang yang menyayanginya, ia berhasil melalui sidang dengan lancar dan mendapat nilai yang sangat memuaskan.
Pratiwi sangat senang mendengarnya, ia kemudian menyiapkan semua berkas yang diperlukannya. Ia sudah mengatur semuanya dengan baik. Ia tidak ingin rencananya gagal sedikitpun.
***
Hari wisuda tiba dan seperti sebuah tradisi yang dilestarikan turun temurun, seluruh keluarga besar Susbihardayan datang untuk memberikan ucapan selamat pada wisudawan kebanggaan mereka. Yang sebenarnya sampai saat itu, baru Erlita dan Johan yang sudah melaluinya. Karena Jihan bahkan berhenti kuliah sejak semester dua sedangkan Kenny malah tidak mau kuliah sama sekali karena tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Ia bahkan pernah tinggal kelas saat SMP dan SMA.
Pratiwi sampai tidak habis fikir dosa apa yang diperbuatnya di masa lalu sampai-sampai ia harus memiliki keluarga yang bermasalah semua. Ada yang tempramen dan suka kekerasan (Bram), ada yang mata keranjang dan hobi main perempuan (Prasetyo), ada yang hidupnya hanya bisa menghabiskan uang (Sania), ada yang hanya bisa menjadi ibu rumah tangga dan tidak berani bergaul dengan keluarga konglomerat lainnya (Farah), ada yang super tulalit (Kenny), ada yang liar dan suka main lelaki (Jihan) dan ada juga yang hidupnya hanya dihabiskan di depan komputer (Johan).
Tidak ada yang bisa diandalkan. Karena itu, ia berharap banyak pada Erlita yang meskipun bandel, keras kepala dan suka foya-foya, ia masih memiliki perasaan dan akal sehat. Selain itu ia adalah satu-satunya keturunan dari anak laki-laki pertamanya, pewaris tunggal seluruh harta kekayaannya. Karena itu, ia harus melindungi Erlita dengan sekuat tenaga.
***
Dua hari setelah wisuda, Nafan akhirnya menerima surat keputusan pemindahtugasannya kembali ke Banyuwangi, tempat asalnya sebelum ditarik ke kantor pusat di Jakarta. Setelah mengurus semua berkasnya, Nafan segera membawa Erlita pergi ke Banyuwangi.
Sejak pagi Erlita sibuk mengemasi semua barangnya yang berjumlah sekitar enam koper besar, delapan kardus besar dan tiga tas besar.
"Ta, memang harus banget ya kita bawa barang sebanyak ini?" Tanya Nafan ragu kalau-kalau semua barang itu bisa muat masuk ke dalam rumah dinasnya.
"Fan, ini sudah paling minim dari yang wajib gue bawa. Gue dah nyingkirin lima koper dan sepuluh karton lainnya." Erlita menunjul tumpukan koper dan kardus di pojok kamar.
"Belum lagi baju-baju, tas dan sepatu gue yang terlalu sayang buat gue lipet dan masukin koper." Ia menunjuk sebuah lemari berisi penuh baju digantung dan etalase besar berisi puluhan sepatu dan tas mewah.
__ADS_1
"Terus ini semua apa, Ta?" Nafan menunjuk setumpuk barang yang akan dibawa Erlita.
"Ini cuma sebagian baju dan sepatu wajib gue. Yang ini alat make up dan barang-barang kesayangan gue."
Nafan membongkar kembali enam koper, delapan kardus dan tiga tas yang hendak dibawa Erlita. Ia kemudian meminta Erlita memilih setengah dari baju yang sudah dikemasnya, lalu menyingkirkan sepatu-sepatu hak tinggi bermerk, boneka serta selimut kesayangan Erlita."
"Fan, apa-apaan sih lo. Gue ngga bisa keluar rumah tanpa sepatu-sepatu ini."
"Ta, percaya sama saya, kamu ngga bakal butuh sepatu seperti ini di sana."
"Tapi -" belum sempat protes, Nafan sudah merapikan kembali barang yang sudah disortirnya jadi hanya tiga koper saja.
"Fan, gue ngga bisa tidur tanpa selimut dan boneka kesayangan gue."
Erlita berusa membawa selimut dan boneka kesayangannya tapi dicegah oleh Nafan.
Mereka berpamintan pada nenek dan anggota keluarga yang lain. Seakan Nafan ingin menunjukkan bahwa ia hanya pergi membawa Erlita yang menenteng tas pribadinya, tiga koper barang Erlita dan sebuah ransel yang dibawanya saat datang ke rumah itu. Ia tidak ingin dituduh mencuri atau semacamnya ketika keluar dari rumah itu. Sudah cukup ia dijadikan keset dan bahan tertawaan atas ketidakmampuannya secara finansial dan status sosial.
"Eyang akan mengantar kalian ke stasiun."
"Apa? Stasiun?" Erlita tidak mengerti, "Bukankah kita seharusnya ke bandara?"
"Ngga perlu, Yang. Biar kami naik taksi online saja. Lagi pula stasiun tidak terlalu jauh dari sini."
__ADS_1
Pratiwi tersenyum, ia senang melihat ketulusan dan kesederhanaan Nafan, "Baiklah, kalau begitu hati-hati. Segera kabari nenek kalau sudah sampai disana."
***
Erlita masih tidak mau terima kalau ia harus naik kereta ke Banyuwangi. Ia memaksa sopir taksi untuk mengantar mereka ke bandara.
"Tetep jalan aja, Pak. Kita ke stasiun. Ngga usah dengerin dia." Perintah Nafan ke sopir taksinya.
Sesampainya di stasiunpun, Erlita masih saja belum bisa berhenti protes.
"Fan, lo tahu kan gue ngga pernah naik kereta. Well, pernah tapi itu pas lagi di Jepang, Shinkansen. Lo tahu kan?! Nah ini, gue mesti ke Banyuwangi, naik kereta, kelas eksekutif pula. Kenapa ngga pilih pesawat aja sih? Gue bisa kok beliin tiketnya. Kalaupun harus pake kereta api, kenapa ngga pilih yang luxury gitu?! Kalau uang lo ngga cukup buat beli tiket, gue bisa kok beliin tiketnya."
Nafan berpura-pura tidur karena enggan menjawab protes Erlita yang bertubi-tubi dan menyebalkan karena selalu meremehkannya. Dan ternyata itu membuat Erlita semakin kesal.
Setelah memasuki kereta, Erlita tak henti-hentinya mengeluh soal tempat duduk yang kurang nyaman, makanan yang kurang enak, privasi yang tidak terjaga dan sederet keluhan dramatis lainnya. Daripada membungkam mulutnya yang tak lelah protes, Nafan lebih memilih untuk mendekapnya dan berbagi earphone untuk mendengarkan musik bersama.
"Istirahatlah, mulut dan ototmu pasti lelah terus-terusan protes." Bisiknya pada Erlita.
Erlita berniat bangkit tapi Nafan menahannya. Ia ingin menikmati tujuh belas jam perjalanan mereka hari itu dengan suasana tenang dan romantis seperti itu. Erlita yang rupanya memang kelelahan tertidur tak lama setelah Nafan menenangkan Erlita dengan caranya.
Ketika Nafan bangun, kereta sudah sampai di stasiun Jogjakarta. Ia sempat panik ketika dilihatnya Erlita suda tidak ada disebelahnya. Nafan langsung berkeliling gerbong kereta untuk mencari gadis itu. Ia khawatir kalau Erlita turun dan meninggalkannya di sebuah stasiun karena tidak ingin ikut pergi bersamanya.
Setelah berkeliling-keliling, ternyata Erlita sedang bermain dengan seorang balita di beberapa deret kursi di belakangnya. Rupanya balita itu terus rewel dan Erlita berusaha membantu menenangkannya. Nafan merasa sangat lega. Ia sedikit malu karena sempat berburuk sangka pada istrinya itu. Ia pun memutuskan untuk membiarkan Erlita dan segera kembali ke kursinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Erlita juga kembali duduk. "Nyariin gue??"
"Ngga, takut aja kamu ninggalin koper-koper kamu. Ribet banget bawanya."