Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 28


__ADS_3

“Kenapa lo ngga ngasih tahu gue kalo lo masih punya kakek dan kakek lo lagi kritis dan sekarang sudah meninggal?” Erlita mulai ikutan menangis karena sedih dan juga kecewa.


“Kejadiannya begitu cepat,Ta. Saya juga salah paham karena saya pikir kamu memang sengaja pergi untuk ninggalin saya. Jadi saya ngga berani ganggu kamu untuk urusan pribadi saya seperti ini.”


“Pribadi?! Urusan kakek lo, keluarga lo satu-satunya, sakit dan meninggal lo bilang urusan pribadi? Jadi lo anggep apa gue ini?”


“Saya minta maaf, Ta. Saya yang salah. Saya janji bakal ajak kamu ke makam Eyang supaya kalian bisa kenalan.”


Erlita sadar bahwa Nafan sama sedih dan terpuruknya dengan dia. Pria itu baru saja kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang dimilikinya. Erlita mulai berhenti marah dan menangis.


Ia lalu mengangguk, “Gue bakal dandan cantik dan pakai baju yang paling bagus hari itu.”


Nafan berusaha untuk tertawa sambil memeluk gadis yang sangat dicintainya itu.


****


Karena kondisi jantung dan gula darah neneknya tidak terlalu bagus, Erlita jadi rajin belajar dan menyiapkan makanan diet yang sehat dan bergizi untuk membantu kesembuhan neneknya.


Setiap pagi, Erlita mengajak neneknya jalan-jalan santai di halaman dan jalanan di sekitar rumah dinas Nafan. Lalu sesekali Erlita juga mengajak neneknya berkebun di kebun kecil Nafan yang terletak di samping rumah.


Pratiwi merasa senang tinggal disana. terlebih lagi karena mengetahui bahwa kedua cucunya itu bisa akur dan saling mencintai.


“Ta, kamu tahu ngga apa yang kurang dari rumah kamu?” tanya Pratiwi di suatu malam ketika mereka bertiga makan malam bersama.


“Apa Yang? Ada yang membuat Eyang merasa kurang nyaman?” tanya Erlita polos


“Anak.”


Sontak Erlita dan Nafan tersedak bersamaan.


“Kalian sudah lama menikah dan sudah sekompak ini sampai tersedak bersamaan, lalu kenapa kalian menunda memiliki anak?”


“Yang, kami kan belum genap tiga tahun menikah. Masih baru banget, jadi ngga perlu lah buru-buru punya anak. Ribet!”

__ADS_1


“Jihan sudah punya anak bahkan sebelum genap sembilan bulan mereka menikah.”


“Oh ya Yang, ngomong-ngomong soal Kak Jihan, bagaimana kabarnya sekarang? Lita sudah berkali-kali hubungi dia tapi ngga bisa. Lita hubungi Eyang juga ngga bisa.”


“Sepertinya Bram sengaja memblokir nomor kamu dari semua anggota keluarga.”


“Tapi kenapa, Yang? Apa salah Lita?”


“Dia takut sama kamu Ta.”


“Takut?”


Pratiwi mengangguk, “Dia takut kamu mengambil apa yang menurutnya sudah menjadi hak miliknya.”


“Oh ya, Yang. Ngomong-ngomong soal Om Bram, sehari sebelum kita balik kesini, Lita sempat ke penjara buat nengokin Pak Bin. Dan Pak Bin ceritain semuanya sama Lita. Tapi Lita jadi bingung, Yang. Mana yang harus Lita percaya.”


Pratiwi menyudahi makan malamnya, lalu menceritakan kejadian sebenarnya.


“Beberapa hari setelah kamu pergi, Eyang meminta orang-orang kepercayaan Eyang untuk mengungkap skandal korupsi dan pencucian uang yang Eyang tahu sedah sejak lama dilakukan oleh Bram. Eyang meminta kamu pergi agar kamu tidak terseret dalam kasus itu. Eyang sudah merencanakan semuanya dengan matang. Eyang hanya melewatkan satu hal, Bintoro. Karena kamu tidak ada disana, maka Bintorolah yang mereka jadikan kambing hitam. Setelah proses penyelidikan berlangsung, mereka memanipulasi saksi dan bukti untuk memberatkan dakwaan atas Bintoro. Eyang shock mendengar bahwa Bintorolah yang akhirnya ditahan untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang sama sekali tidak diperbuatnya. Saat itu, Eyang tidak bisa berbuat banyak karena kondisi kesehatan Eyang memburuk dan Bintoro yang selalu membantu Eyang sudah mendekam di penjara. Untuk menebus rasa bersalah Eyang sekaligus jaga-jaga, Eyang diam-diam memasukkan Rani, putri sulung Bintoro ke perusahaan.”


“Ta, kamu baru akan bisa menyelidiki kasus ini kalau kamu masuk ke perusahaan. Banyak orang yang menderita akibat ulah Bram dan tidak sedikit kerugian yang harus ditanggung perusahaan karena Bram. Kamu adalah satu-satunya harapan Eyang untuk membersihkan dan melanjutkan perusahaan yang Eyang Kakung dan Putrimu besarkan itu.”


“Tapi Yang, bagaimanapun juga, Om Bram adalah anak laki-laki Eyang, penerus dan pewaris perusahaan Eyang.”


“Bram bukan anak kandung Eyang, Ta. Dia anak haram kakekmu dengan seorang pembantu di rumah kita.”


“Apa?! Lalu kenapa Eyang mau merawat Om Bram sampai sejauh ini?”


“Karena itu satu-satunya cara untuk menutupi aib keluarga kita dan juga menyelamatkan kamu dari keserakahan Bram.”


“Maksud Eyang?”


“Bram tahu bahwa dia hanyalah anak haram yang tidak punya hak atas kekayaan Susbihardayan. Karena itu, ia nekad membuat ayahmu terbunuh dalam kebakaran itu.” Pratiwi mulai meneteskan airmatanya. “Karena ia tahu bahwa ayahmulah yang akan menjadi pewaris tunggal Susbihardayan Group.”

__ADS_1


“Apa?! Jadi Om Bram yang membunuh ayah?”


“Eyang sudah pernah menyelidiki dan berusaha menyeret Bram ke pengadilan. Tapi Bram mengancam akan mencelakai kamu jika Eyang melakukan itu.”


“Kenapa Om Bram bisa setega itu, Yang?” tanya Erlita nyaris tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya.


“Maaf, Yang. Tapi jika memang benar Om Bram bisa berbuat sampai sejauh itu, bukankah sangat berbahaya bagi Erlita untuk masuk ke Perusahaan itu?”


Pratiwi mengangguk. “Benar, karena itulah Eyang ingin kamu selalu menjaga dan melindungi Erlita. Tidak peduli bagaimanapun keadaannya, Eyang yakin hanya kamulah yang bisa membantu Eyang.”


“Tapi kenapa Nafan, Yang? Kenapa Eyang sangat yakin bahwa Nafan bisa jaga Lita?” Erlita kembali mempertanyakan pertanyaan lamanya yang belum kunjung terjawab.


“Karena Nafan pemuda yang baik dan bertanggung jawab dan karena dia adalah pemuda yang dipilih ibumu.”


“Apa maksud Eyang?”


“Ta, saya minta maaf sama kamu. Tapi ibumu meninggal karena menyelamatkan saya.” Nafan akhirnya menceritakan rahasia yang selama ini berusaha disimpannya dari Erlita.


Erlita shock dan tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. “Jadi Eyang juga sudah lama tahu soal ini? Dan sengaja nikahin Lita sama orang yang sudah menyebabkan ibu meninggal?”


“Lita, itu bukan salah Nafan. Itu kecelakaan.”


Erlita sudah masuk ke dalam kamarnya tanpa mau mendengarkan penjelasan apapun lagi. Ia merasa marah, kecewa dan sakit hati karena dibohongi dan dipermainkan. Bagaimana mungkin ia bisa hidup bahagia dengan orang yang telah mengambil ibunya darinya.


Erlita kembali teringat saat ia mendengar kabar bahwa ibunya jatuh ke sungai dan belum ditemukan sampai sekarang. Ia bahkan tidak tahu dimana harus mendatangi makam ibunya saat rindu dan kesepian.


Tidak mudah baginya melalui hari-hari sebagai anak yatim piatu saat usianya baru enam tahun, saat dimana ia sangat membutuhkan kehadiran kedua orang tuanya.


“Ta, tolong buka pintunya, kita bisa bicarakan ini baik-baik.”


Erlita sama sekali tidak menggubris Nafan yang terus mengajaknya bicara dari balik pintu kamar.


Brak.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Pratiwi pingsan dan jatuh dari kursi.


“Ta, Eyang Ta!”


__ADS_2