Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 51


__ADS_3

Karena tanggal pernikahan Johan dan Sisil sudah semakin dekat, Erlita jadi makin sibuk membantu mereka mempersiapkan pesta akbar itu. Undangan, make up artis, gedung dan catering sudah Erlita urus dengan baik.


Tinggal baju pengantin dan pernak-pernik kecil yang harus melibatkan kedua mempelai saja yang masih harus tertunda sampai Johan tiba dari Singapura.


“Ta, makasih banget ya? Kamu dah bantuin aku sebanyak ini.”


“Ngga papa lagi, Sil. Lo kan bentar lagi jadi kakak ipar gue, udah selayaknya gue lakuin semua ini. Gue Cuma nitip, jaga kakak gue baik-baik yah? Yaaa, meskipun dia agak resek dan moody, tapi Kak Johan baik banget, Sil. Dia kakak terbaik yang gue punya. Kalau dia macem-macem sama elo, kasih tau gue aja! Biar gue jewerin telinganya.”


“Tenang aja, Ta. Dia ngga bakal berani macem-macem sama gue. Kalau dia mau macem-macem, gue tinggal bilang kalau tragedi bakso gajah mada beberapa tahun lalu bakal terulang.”


“Hahahaha.. bisa aja lo Sil. Dia pasti takut banget lo tinggalin. Gue tahu banget gimana setianya dia nungguin elo bertahun-tahun disana.”


“Gue beruntung ada orang yang rela nunggin gue selama itu. Gue terlalu sibuk mikirin orang lain sampai ngga sadar kalau ada orang lain yang mikirin gue sampai segitunya.”


“Maksud lo Nafan?”


“Ups, sori Ta. Gue keceplosan. Tapi beneran Ta. Gue sama Nafan sudah ngga ada apa-apa.”


“Santai aja kali, Sil. Gue tahu kok. Gue yakin, Kak Johan bisa jadi cowok yang jauh lebih baik buat lo daripada Nafan.”


“Mudah-mudahan.”


“Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, apa sih yang lo suka dari Nafan, Sil?”


“Hah? Apa?” Sisil tidak menyangka bahwa tiba-tiba saja Erlita menanyakan hal seperti itu.


“Itu.. cinta monyet,Ta. Dulu waktu masih kecil gue selalu ngelihat Nafan sebagai cowok yang paling keren karena dia berbeda dengan anak-anak lain. Lebih suka lari ke sekolah ketika semua anak senang bersepeda, lebih suka bermain di hutan desa sementara anak-anak lain sedang senang-senangnya berenang di kolam yang baru diresmikan kakeknya. Nafan juga tidak pernah sombong meskipun kakeknya orang paling kaya di Jogja.”


“Terus kalian pernah pacaran?”


Sisil tersipu malu, “Gue ngga tahu kenapa mesti cerita soal ini sama elo.”


“Gue Cuma penasaran aja, kok.”


“Gue yang minta dia jadi cowok gue pas kelas dua SMA. Kayaknya dia terpaksa mau karena takut gue malu dan trauma sama cowok. Hahaha..”


“Terus kenapa kalian putus?”

__ADS_1


“Karena tiba-tiba aja, orang tua gue ngajak gue pindah ke Sydney sebelum lulus SMA. Gue bahkan ngga sempat pamit sama Nafan. Dan lo tahu kan waktu itu, komunikasi ngga segampang sekarang yang sudah ada hp. Gue berkali-kali coba hubungin telepon rumahnya, tapi selalu saja pas Nafan lagi ngga di rumah. Sampai akhirnya gue capek dan nyerah sendiri.”


“Jadi lo beneran ke Banyuwangi buat mastiin hubungan lo sama Nafan?”


“Maafin gue ya, Ta? Waktu itu gue ngga tahu kalau semua sudah berubah. Gue terlalu bodoh untuk tahu bahwa lo yang nemenin Nafan makan bakso malam itu adalah pemilik hati Nafan yang baru.”


Erlita meraih tangan Sisil, “Gue yang seharusnya minta maaf, karena tiba-tiba saja ngerebut Nafan dari lo. Karena gue sama sekali ngga tahu siapa Nafan dan apa dia punya hubungan yang belum kelar sama cewek baik kaya elo.”


“Ini namanya takdir, Ta. Gue ngga berjodoh sama Nafan. Tapi gue malah jadi kakak iparnya Nafan. Hahaha...”


“Gue seneng, lo yang jadi istri kak Johan, Sil. Nah, kalau gitu, mulai hari ini gue mesti belajar membiasakan diri manggil lo Kakak.”


“Apaan sih lo, Ta?! Garing banget!”


***


Hari pernikahan Johan dan Sisil akhirnya tiba. Semua keluarga Susbihardayan hadir termasuk Prasetyo yang sudah bercerai dengan Sania. Jihan yang sudah tiga tahun tinggal di Amerikapun datang bersama Dean dan Nasya, putri kecil mereka yang sudah berusia dua tahun.


Erlita sangat senang bertemu dengan kakak sepupunya itu. jihan terlihat berbeda dengan penampilan barunya. Rambut panjangnya dipotong pendek dengan model bob sebahu. Ia tidak lagi mengenakan pakaian-pakaian mini dan glamor. Sekarang ia terlihat lebih anggun dan dewasa dengan penampilan feminimnya.


Sepertinya Nasya sukses merubah kedua orang tuanya. Erlita tidak bisa berhenti mengagumi Nasya yang cantik, putih dan montok. Bocah dua tahun itu benar-benar mencuri perhatian dan kasih sayang Erlita.


“Kak, gue seneng lo bisa balik kesini lagi. Kalau lo ngga nyaman tinggal di paviliun kanan, lo bisa tinggal di rumah induk.”


Jihan tersenyum sinis, “Ngga usah sok baik deh lo! Lo kira gue bakal simpati terus maafin elo Cuma gara-gara lo nawarin gue rumah bekas pakai lo gitu?”


“Kak, bukan gitu maksud gue –“


“Mana ada keponakan baik yang tega memenjarakan pamannya sendiri?”


“Kak –“ Erlita menghampiri Jihan tapi Jihan membuang muka dan kembali membelakangi Erlita.


“Apa masih belum cukup apa yang sudah lo punya sampai lo tega menjarain Papa?”


“Tapi, Kak. Ini bukan kemauan Lita. Om Bram sudah melakukan tindak kejahatan dan Lita rasa Om berkewajiban untuk mempertanggung jawabkannya.”


“Berhenti bicara omong kosong! Apa lo pikir lo bakal diem aja kalau jadi Papa? Dia yang membesarkan Susbihardayan Group selama bertahun-tahun tapi Eyang hanya memberinya pabrik cat kecil seperti itu.”

__ADS_1


“Kak –“


“Gue berusaha terima meski Eyang cuma kasih gue ruko bobrok itu. Tapi gue ngga bakal diem aja kalau lo udah hancurin hidup keluarga gue. Lo masih aja serakah Ta! Lo udah dapetin semua harta Eyang, tapi lo masih aja tega ngehancurin keluarga gue.”


Jihan membalik badannya lalu mendekati Erlita, “Bukan salah Papa kalau dia lahir dari hasil perselingkuhan. Bagaimanapun juga dia adalah anak kandung Eyang Kakung. Dan Eyang Tiwi sendiri yang memilih untuk merawat dan membesarkan Papa sebagai anaknya. Lalu kenapa lo harus membuat semuanya jadi seperti ini?”


“Kak, gue minta maaf soal itu. tapi –“


Jihan mendekat wajahnya kepada Erlita, “Denger, Ta. Mulai seKarang gue ngga akan tinggal diem. Gue bakal balikin semua pada tempat seharusnya dan –“


Jihan menatap Erlita tajam, “Gue bakal balas semua ketidakadilan yang lo kasih buat Bokap dan Nyokap gue! Ingat itu!”


Jihan mengambil Nasya dari gendongan Erlita lalu pergi tanpa pamit.


Erlita merasa tubuhnya lemas seketika. Ia terduduk di kursi sembari menahan sesak di dadanya. Ia tidak menyangka bahwa kakak sepupu yang selama ini selalu bersama dan mendukungnya, ternyata kembali untuk membalas dendam kepadanya.


Bagaimanapun ia sangat mengenal Jihan. Wanita itu tidak pernah menarik ucapannya dan rela melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Sangat mengkhawatirkan jika ia harus berhadapan dengan lawan yang sangat dekat dan mengenal dirinya dengan baik.


“Sayang, kamu kenapa?” Nafan datang dengan dua gelas minuman di tangannya.


“Ah, ngga papa, Sayang.”


Nafan meletakkan minuman yang dibawahnya lalu berjongkok di depan Erlita. Ia menggengam tangan Erlita sembari menatap matanya dalam-dalam.


“Ada apa?” ulang Nafan.


Erlita tidak pernah bisa menghindar dari pertanyaan dengan tatapan tajam seperti itu.


“Kak Jihan datang untuk membalas dendam.” Ujar Erlita sembari tertunduk lesu.


Nafan mengangkat dagu Erlita perlahan, “Apa kita berbuat kesalahan sampai harus takut hanya karena seseorang yang merasa diperlakukan tidak adil mengatakan ingin balas dendam?”


Erlita menggeleng.


“Ngga ada yang perlu kamu takutkan. Ada aku disini.” Nafan tersenyum meyakinkan.


Erlita memeluk tubuh Nafan erat. “Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.”

__ADS_1


__ADS_2