
Pagi itu Nafan mengajak Erlita berlari pagi di sekitar rumah sambil menunggu Johan sadar dari mabuknya semalam. Setelah lelah berolahraga, mereka segera mandi. Sementara menunggu Nafan yang sedang memasak sarapan sendiri, Erlita berkeliling sebentar untuk melihat isi rumah mewah itu.
Ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti ruang kerja daripada kamar tidur. Karena tidak ada ranjang dan banyak buku tertata rapi disebuah rak yang menjulang tinggi menutupi dinding di sebelah kanan meja kerja. Ada sebuah komputer yang masih terlihat cukup baru dan terawat juga di atas meja kerja itu.
Sayang sekali rumah sebesar, selengkap dan senyaman itu ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Di tempat parkir terdapat lima mobil mewah berderet rapi dan terlihat jarang dipakai. Sangat disayangkan.
Semua perabot juga terlihat bersih dan terawat. Erlita yakin bahwa pemilik rumah pasti orang kaya yang sangat paham dengan barang mewah dan berkelas karena hampir semua perabot yang ada di rumah itu unik, harganya fantastis dan edisi terbatas.
Rumah itu sama sekali tidak terlihat seperti rumah kosong yang jarang ditinggali karena rapi dan bersih. Mungkin karena ada banyak pembantu rumah tangga yang bekerja disana.
Ia melihat sebuah foto kecil yang terletak di atas meja di dekat komputer. Foto seorang anak laki-laki kecil yang sepertinya pernah Erlita lihat sebelumnya. Tapi entah kapan dan dimana, ia tak ingat sama sekali.
“Ta, kamu dimana? Sarapannya sudah siap.”
Erlita segera menuju ke meja makan setelah mendengar Nafan memanggilnya.
Johan juga sudah bangun dan langsung bergabung dengan mereka di meja makan karena kelaparan berat setelah mabuk semalaman.
“Fan, lo dapat jatah libur sampe kapan? Gue masih betah tinggal disini. Gue juga masih pengen disini. Males banget gue balik ke rumah.”
“Gue juga. Gue betah banget tinggal disini.” Erlita tak mau ketinggalan
__ADS_1
“Tinggal aja selama yang kalian mau.” Jawab Nafan santai
Mereka menikmati nasi goreng buatan Nafan yang meskipun standart tapi rasanya khas dan selalu bikin kanget bagi Erlita.
“Fan, akhir-akhir ini Lita banyak mendapat kesulitan di kantor. Kenapa sih lo ngga resign aja terus bantuin adek gue kerja di kantor?”
“Jo, saya saya ini Cuma pegawai negeri. Saya ngga bisa keluar masuk seenaknya. Saya harus nunggu sampai pengunduran diri saya disetujui.”
“Iya, tapi kan sekarang kondisinya beda, Fan. Istri lo butuh kehadiran dan support dari lo.”
Kali ini tiba-tiba saja Erlita sangat menyayangi kakak sepupunya yang tahu banget isi hati dan keinginannya. Johan memang saudara terbaik untuk Erlita.
“Lo ngga baca berita?” tanya Erlita tidak yakin bahwa suami sebegitu tidak perhatiannya sampai-sampai tidak pernah mencari tahu tentang kondisinya lewat media.
“Berita apa?”
Kali ini Erlita benar-benar kecewa. Jadi selama ini Nafan seakan benar-benar mengacuhkannya dan tidak mempedulikannya. Ia bahkan tidak berusaha mencari tahu kabar Erlita seperti ia selalu berusaha stalking sosial media Nafan saking penasarannya.
Ia merasa direndahkan karena cinta sepihak. Erlita segera pergi meninggalkan nasi goreng yang bahkan belum separo dimakannya.
“Loh ditanya kok malah pergi?” tanya Nafan lugu.
__ADS_1
“Jadi lo bener-bener ngga tahu kalau perusahaan lagi menghadapi tuntutan serius karena dianggap menggunakan bahan-bahan berbahaya dalam pewarnaan furnitur yang diproduksi. Dan yang menurut gue lebih penting bukan itu, Fan.”
Johan melihat ada komputer di balik pintu yang sedikit terbuka setelah ditinggalkan Erlita lagi. Johan segera membawa nasi gorengnya masuk ke ruang kerja, menyelakan komputer lalu mengetikkan sesuatu di keyboard. Nafan menunggu di samping Johan yang sedang berkonsentrasi dengan pencariannya.
“Lihat! Ada alirah dana rutin yang selalu rutin di alirkan di perusahan cabang kita di Hongkong.”
“Memangnya apa yang aneh? Bukannya hal biasa kalau perusahaan induk memindahkan dananya ke parusahaan cabang?”
“Lihat dulu, Fan. Perusahaan cabang di Hongkong itu hanya perusahaan cangkang.” Johan menunjukkan data dan fakta yang sangat mengejutkan.
“Jika dibiarkan seperti ini terus, Erlita bakal terseret dalam banyak kasus yang lebih besar dan mengerikan. Perusahaan bakal bangkrut dan hancur perlahan-lahan.” Johan meyakinkan prediksinya berdasarkan data yang ditemukannya.
Nafan memperhatikan dan mempelajari data yang ditunjukkan Johan dengan baik. Ia yakin pasti ada solusi dari semua permasalahan yang ada di hadapannya itu.
“Lo semua pada ngapain sih?” Erlita tiba-tiba muncul dan Nafan refleks langsung mematikan komputernya.
Johan mengambil piring nasi gorengnya yang masih belum habis, lalu melewati Erlita yang sedang berdiri di depan pintu, “Nonton bokep, mau ikutan.”
Erlita langsung menendang bokong kakak sepupunya itu, “Dasar mesum!”
****
__ADS_1