Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 46


__ADS_3

Kenny tak mau ambil pusing dengan kabar soal perceraian kedua orang tuanya. Toh selama ini ia tidak pernah menganggap pernikahan mereka memang benar nyata, karena ia selalu saja melihat ayahnya berganti-ganti wanita seenaknya seakan Sania, ibunya sudah lama tiada.


Setelah Bintoro bebas dari segala tuduhan dan kembali ke keluarganya, Kenny segera menemui Bintoro untuk meminta restu karena berniat untuk segera menikahi Rania.


Bintoro yang sangat mengenal Kenny sebagai cucu tertua keluarga Susbihardayan tentu tak punya alasan untuk menolak. Ia menyerahkan semua keputusan di tangan Rania yang ternyata juga setuju untuk menikah dengan Kenny.


Tak lama kemudian, Kenny melangsungkan pernikahannya dengan Rania secara sederhana di rumah keluarga Rania. Ia bahkan melarang semua orang untuk memberitahu Sania karena tidak ingin pernikahannya jadi batal karena kekacauan yang dibuat ibunya. Ia ingin belajar menentukan hidupnya sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya.


Setelah menikah, mereka tinggal di sebuah apartemen yang dihadiahkan Erlita untuk pernikahan kakak sepupunya itu. Beberapa hari kemudian, Erlita baru mendengar kabar bahwa Kenny, putra satu-satunya yang sangat ia banggakan dan harapkan, ternyata sudah menikah dengan Rania, anak mantan pegawai ibunya yang pernah berstatus sebagai tahanan karena dituduh menggelapkan dana perusahaan keluarganya.


Sania benar-benar tidak bisa terima dengan keputusan putra kesayangannya itu. Ia marah karena Kenny seharusnya meminta persetujuannya terlebih dahulu sebelum memilih gadis dengan latar belakang keluarga yang sangat buruk untuk menjadi istrinya.


Ia berusaha menemui Kenny dan Rania di apartemen mereka, tapi Kenny terus berusaha meyakinkannya bahwa ia bahagia dengan pernikahannya dan berharap agar Sania merestuinya dan menerima Rania sebagai menantunya.


Merasa gagal melampiaskan emosinya, Sania memilih untuk menemui Erlita di kantornya.


“Jadi kenapa kamu malah membelikan Kenny apartemen padahal kamu tahu dia terang-terangan mengkhianati Tante?”


“Tan, Kak Kenny ngga pernah mengkhianati tante. Kak Kenny selalu sayang sama Tante. Hanya saja, saat ini dia sudah menemukan jalan hidupnya sendiri, jalan yang berbeda dengan yang tante pilihkan. Maaf Lita lancang, tapi Lita rasa sudah saatnya Tante menghargai keinginan dan keputusan Kak Kenny.”


“Kalian ternyata sama saja.” Sania tak kuasa lagi menahan tangis dan amarahnya. Emosinya memucak dan ia justru sangat goyah karena untuk pertama kalinya ia harus menerima kenyataan bahwa hidup berjalan tidak sesuai dengan keinginannya, terlebih lagi ini tentang Kenny dan Prasetyo, dua orang yang paling berarti dalam hidupnya.


Erlita memeluk tubuh Tantenya, “Tan, Lita paham perasaan Tante. Tapi tante ngga perlu merasa gagal dan marah. Lita justru bangga sama Tante karena Tante akhirnya bisa melepaskan parasit yang selama ini membebani hidup Tante.”


Erlita melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Sania erat, “Tante tahu ngga? Selama ini Kak Kenny tahu bahwa Om Pras sering gonta-ganti cewek. Tapi ia berusaha menutupi semuanya karena tidak ingin melihat Tante seperti ini. Kak Kenny rela menderita seorang diri asal Tante baik-baik saja.”

__ADS_1


Tangis Sania kian menjadi-jadi mendengar cerita Erlita.


“Tapi Tan, saat ini Kak Kenny sedang membangun kembali kebahagiaannya bersama orang yang dicintainya, ngga bisakah kali ini Tante kasih Kak Kenny kesempatan?” Erlita menatap mata Sania yang memerah dan nyaris bengkak karena terlalu banyak menangis, “Rania anak baik, Lita yakin dia bisa membuat Kak Kenny jadi lebih baik lagi. Mari kita beri mereka kesempatan untuk itu.”


Sania memeluk Erlita dan menumpahkan semua air mata dan perasaannya disana. “Ta, kamu tahu ngga kenapa Eyang sayang banget sama kamu? Karena kamu sangat mirip dengan Mas Danu dan Mbak Naina, sangat tulus dan peduli dengan orang lain.”


“Oh ya, Tan. Boleh Lita tanya sesuatu? Soal Om Bram.”


“Kenapa Bram?”


“Apa Om Bram benar anak kandung Eyang?”


“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?”


“Ya, ngga papa sih Tan, penasaran aja. Soalnya Lita denger Eyang selalu pilih kasih dan ngga pernah peduli sama Om Bram sejak kecil.”


Lita mengambil akte kelahiran Bram yang ditemukan di kamar neneknya dan menunjukkannya kepada Sania. Sania sangat kaget mengetahui bahwa ibu Bram adalah Ratih pembantu mereka, bukan Pratiwi, ibunya.


“Darimana kamu dapat ini, Ta?”


“Dari kamar Eyang.”


“Jadi Ibu tahu bahwa Bram adalah anak haram Ayah dengan pembantu murahan itu?”


“Pembantu?”

__ADS_1


Sania mengangguk yakin. “Lalu, apa Bram tahu soal ini?”


Erlita mengangguk, “Dan entah kenapa sepertinya Om Pras juga tertarik dengan akte ini.”


“Pras?”


***


Pembicaraannya dengan Sania beberapa waktu lalu menyisakan sebuah ganjalan dalam hati Erlita. Meskipun Johan mungkin akan sangat terluka mengetahui kebenaran tentang ayahnya, ia merasa bahwa Johan berhak untuk tahu. Dan ia juga merasa tidak tenang menyimpan rahasia itu lebih lama lagi dari Johan.


Malam itu, Nafan belum pulang dan Erlita berniat untuk mengunjungi rumah Johan untuk menceritakan semua yang ia tahu tentang Bram, ayah Johan. Saat hendak mengetuk pintu rumah Johan, Erlita mendengar dua orang wanita sedang berdebat hebat di ruang tamu. Seperti suara Sania dan Farah yang sedang saling membeberkan keburukan masing-masing lawan bicaranya.


“Dasar pelacur murahan. Bisa-bisanya kau menggoda suamiku yang adalah kakak iparmu sendiri?”


“Aku hanya menemani suamimu yang kesepian dan terjebak dengan wanita tidak berguna sepertimu.”


“Dasar ******! Belum puas kau membunuh Naina, sekarang kau berniat menghancurkanku juga?!”


“Aku tidak pernah membunuh Naina. Perempuan itu yang merebut Danu dariku dan aku hanya mengeluh soal suamiku yang belum pulang. Lalu siapa suruh wanita bodoh itu pergi menyusul Bram ke pantai?” Farah tertawa lantang seakan ia baru saja melakukan tindakah heroik yang patut dibanggakan.


“Kau benar-benar tidak tahu malu. Berkat Nainalah kau bisa masuk ke dalam keluarga ini. Kalau saja ia tidak memohon pada ibu dan Bram untuk menerimamu, kau akan jadi santapan anjing jalanan saat itu.”


“Aku tidak pernah memintanya memohon. Gadis bodoh itu yang ingin melakukannya sendiri. Jadi kenapa aku harus malu dan merasa bersalah?! Suamimu juga bercinta denganku atas keinginannya sendiri. Aku tidak pernah memaksanya.”


Plak

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat di wajah Farah. Tak terima Sania menamparnya begitu saja, Farah menjambak dan mendorong tubuh Sania hingga terjerembab ke latai dan kepalanya membentur dinding.


“Tante!”


__ADS_2