
Kematian Electa tidak hanya membawa duka tapi juga dendam di antara keluarga Susbihardayan. Bram dan Dean yang belum bisa menerima kematian Electa merasa bahwa keluarga Electa mengambil andil kesalahan terbesar yang menyebabkan Electa jatuh dan meninggal dunia.
Karena itu, mereka berniat memberikan sedikit pelajaran kepada Nafan.
Bram yang sejak keluar dari penjara telah memulai kembali bisnisnya dari awal, tiba-tiba saja memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan cat terbesar di Jakarta milik besannya.
Tidak hanya itu, sejak kepergian Electa, Bram jadi semakin agresif. Ia mulai melebarkan sayap bisnisnya dengan mengakuisisi sebuah pabrik kayu terbesar kedua setelah milik Susbihardayan. Perusahaan kayu yang selama ini menjadi pesaing bisnis terkuat Susbihardayan Group.
Nafan tahu persis arah dan tujuan Bram, tapi ia tidak ingin gegabah. Ia hanya merasa perlu fokus pada pekerjaannya saja dan mengabaikan kekhawatiran berlebihan seperti yang selalu ditunjukkan istrinya.
Waktu berlalu, tahun berganti dan semua berjalan baik sampai pada suatu ketika, Bram tiba-tiba saja menghentikan pasokan cat dan pewarna kayu yang selama ini diberikannya kepada Kusumo Furniture.
Tidak hanya itu, ia juga mensabotase para supplier kayu yang selama ini menjadi rekanan setia Kusumo Furniture. Akibatnya, produksi mebel mereka sempat terhambat dan pengiriman pesanan serta berbagai acara pameran terpaksa ditunda karena hambatan pasokan bahan baku.
__ADS_1
“Pa, ngga ada salahnya kalau kita coba bicara sama Om Bram. Mama yakin, Om pasti mau denger Mama kok.”
“Ma, apa kamu belum ngerti juga? Ini adalah bagian dari rencana Om Bram dan Jihan untuk membalas dendam kepada kita. Mereka pasti menyalahkan kita atas apa yang menimpa Electa.”
“Tapi, Pa. Aku sudah dengar laporan dari tim pengadaan. Mereka kesulitan untuk mendapatkan bahan baku pengganti dalam jumlah sebanyak itu dan dalam waktu sesempit ini. Kita ngga boleh menunda pameran di Korea. Itu adalah kesempatan langka kita bisa hadir di tengah produk lokal mereka. Jika gagal, kita akan kehilangan banyak kesempatan disana.”
“Tenang, sayang. Kami sudah membicarakan semuanya dan kami akan menemukan solusi terbaik.”
Begitulah, Nafan akhirnya terpaksa meminta bantuan kepada Walikota untuk membukakan jalur baginya untuk bisa bekerjasama dengan perusahaan milik pemerintah. Dan ternyata keputusan Nafan benar. Berkat Walikota, ia bisa mengatasi krisis yang menimpa perusahaan furniturnya.
“Jangan seperti itu Pak Nafan. Sudah menjadi tugas saya untuk selalu mendukung kestabilan iklim usaha di kota ini.” Pak Walikota menyeruput minuman yang disuguhkan istrinya.
“Oh ya, Pak Nafan, ngomong-ngomong, bagaimana kabar putra anda? Dia pelukis yang sangat berbakat. Bukannya hendak menyombongkan diri, tapi jarang sekali saya melihat anak seusia itu bisa menyaingi kemampuan melukis Kinara, anak saya.”
__ADS_1
“Oh, soal itu. sepertinya itu sebuah kesalahpahaman, Pak. Diantara sekian banyak bakat, melukis adalah satu-satunya hal yang paling payah dari Alfa. Saya rasa hari itu pasti ada kesalahan.”
“Jangan terlalu merendah. Kinara sendiri juga bilang bahwa lukisan putra Anda memang luar biasa.”
“Kinara pasti anak yang sangat ramah dan pandai memuji. Tapi bagaimanapun itu, saya masih sangat yakin Kinara adalah yang terbaik di kota ini.”
***
Ketika mulai masuk SMP, Alfa lebih banyak menginap dan tinggal di rumah Johan bersama Handoyo. Handoyolah satu-satunya orang di keluarga mereka yang bisa mendekati Alfa.
Meskipun Erlita keberatan dengan Alfa yang sering menginap dan bahkan ingin tinggal menetap di rumah Johan, tapi Nafan berusaha memberinya pengertian.
“Alfa sedang menghadapi masa pubertas yang sulit. Kita tidak boleh terlalu mengekangnya. Masih bagus dia lari ke rumah Johan dan Sisil. Bagaimana jika dia sampai nekat lari ke tempat lain yang lebih berbahaya jika kita memaksanya pulang atau meninggalkan rumah Johan?”
__ADS_1
“Tapi, Pa, Alfa itu anak kita. Dia butuh kita dan kita berkewajiban untuk mengawasi dan menjaga dia.”
“Percayalah, Johan dan Sisil akan menjaga Alfa seperti mereka menjaga Handoyo. Untuk saat ini biarkan Alfa mengenali dirinya sendiri, mengetahui apa yang dia inginkan. Jangan memaksanya lagi untuk pulang dan berkumpul bersama kita dan Arkana!”