
“Ta, tumben masih sore gini kamu sudah pulang?” tanya Pratiwi yang sedang ngeteh di ruang keluarga.
Erlita duduk di dekat neneknya, “Yang, kenapa harus Nafan? Kenapa Eyang memilih Nafan?”
Pratiwi memeluk cucunya yang mulai menangis seperti saat kehilangan mainan kesayangannya itu.
“Apa kamu ingin Eyang mengusir Nafan dari hidup kamu? Eyang akan lakukan kalau itu bisa membuatmu lega.”
Erlita menggeleng.
Pratiwi senang karena sepertinya sang cucu mulai menyukai Nafan. Sebenarnya ia tahu dengan apa yang terjadi karena Nafan sempat meminta ijin dulu saat hendak mendekati Jihan demi membuat Erlita sadar dengan sikap dan prilakunya.
Ia juga tahu bahwa Nafan tidak benar-benar menyukai Jihan dan terlebih lagi ia tahu bahwa sebenarnya Nafan juga sudah mulai menyukai Erlita.
“Kenapa kamu tidak mencoba untuk membujuk Nafan agar mau bekerja di perusahaan? Dengan begitu ia akan punya lebih banyak waktu untuk menemani dan membantu kuliah kamu.”
Erlita mengangguk. Ia setuju dengan usul neneknya.
“Oh ya, Yang, boleh ngga kalo Lita adain pesta untuk teman-temannya Nafan. Kita kan ngga sempat ngundang mereka waktu nikahan. Jadi gimana kalau pas ulang tahunnya Nafan bulan depan aja kita undang mereka?”
“Boleh.”
Erlita langsung memeluk neneknya, “Makasih ya yang.”
“Tapi bagaimana kamu tahu kapan ulang tahun Nafan?”
***
Erlita meletakkan tumpukan buku di meja dekat sofa Nafan di kamarnya.
“Proposal skripsi gue sudah disetujui. Jadi lo harus bantu gue kelarin skripsi gue!”
“Harus?” tanya Nafan tanpa berpaling dari ponselnya.
“Harus banget karena gue punya target lulus tujuh semester dan lo punya otak yang encer banget. Jadi lo wajib bantu gue.”
__ADS_1
“Kalau saya ngga mau?”
“Kalau lo ngga mau –“ Erlita memikirkan sesuatu yang bisa memaksa Nafan untuk membantunya.
“Gue bakal dateng ke kantor lo setiap hari. Nungguin dan ngegangguin lo dan temen-temen lo kerja. Syukur-syukur kalo gue bisa ngegebet salah satu temen lo yang cakepnya ngga ketulungan.”
Tiba-tiba saja Nafan tersedak. Membanyangkannya saja sudah cukup membuat Nafan bergidik merinding.
“Jadi gimana?”
“Ngga! Saya sibuk jadi saya ngga punya waktu buat bantu kamu.”
“Jangan bilang ini karena Kak Jihan!”
Nafan mengangkat kedua bahunya.
***
Malam itu Jihan sedang kesepian di rumahnya. Kedua orang tuanya sedang ada urusan di Korea sementara kakaknya tidak pernah meninggalkan kamarnya. Ia mengirim sebuah pesan singkat kepada Nafan.
Nafan kaget membaca pesan dari Jihan.
“Lo kenapa?” tanya Erlita penasaran.
“Ngga papa. Saya mau keluar sebentar.”
***
Seperti biasa Jihan sudah siap menyambut kedatangan Nafan dengan pakaian seksinya. Ia lalu mendorong tubuh Nafan ke sofa dan duduk mengangkang di pangkuan Nafan. Ia berusaha mencium bibir Nafan, tapi Nafan segera menghindar.
“Kenapa Fan? Lo takut Lita lihat?”
“Bukan begitu kak, ini sudah kelewatan. Bagaimanapun juga saya adalah suami Erlita, sepupu kakak sendiri.”
“Gue ngga peduli. Gue cinta sama elo dan gue pengen nyerahin hal yang paling berharga dalam hidup gue buat lo.”
__ADS_1
“Maaf kak, tapi saya ngga bisa.”
Jihan tidak menggubris perkataan Nafan. Ia tetap saja menahan Nafan dengan berat tubuhnya, ia lalu menurunkan tali di bahunya. Lingerienya melorot dan mempertontonkan dua gunung kembar yang super kenyal milik Jihan tepat di hadapan Nafan. Jihan yakin Nafan tidak akan bisa melarikan diri lagi.
Tapi sungguh di luar dugaan. Nafan justru mendorong tubuh Jihan lalu berdiri dan meninggalkan Jihan seorang diri.
Di luar sedang hujan, jadi Nafan basah kuyup ketika berjalan kembali ke rumahnya. Sebagai laki-laki normal, hasrat lelakinya menyeruak. Batang keperkasaannya mengeras di bawah sana. Tapi ia tidak mungkin melakukan hal yang keluar dari prinsip hidupnya.
Ia segera mandi dan berganti pakaian. Ia tidak menghiraukan Erlita yang sedari tadi sibuk mencari tahu darimana ia datang. Ia berusaha mengendalikan diri dan nafsunya. Ia tidak boleh melakukan perbuatan yang akan disesalinya kemudian.
Semakin Nafan diam, semakin Erlita penasaran. Ia berjongkok di dekat sofa tempat Nafan tidur.
“Fan, lo kenapa?” bisiknya lirih di telinga Nafan.
Entah kenapa itu seperti bensin yang menyiram api yang tengan membara di dalam tubuh Nafan. Dadanya berdetak makin kencang, desir menggelora menjalari sekujur tubuhnya. Ia membalik badannya menghadap tepat ke wajah Erlita. Gadis itu begitu cantik.
Erlita sempat merasa kaget karena Nafan tiba-tiba membalik badan. Sekarang mereka saling berhadapan dalam radius yang sangat dekat.
“Kamu masih mau saya membantu kamu menyelesaikan skripsi?”
Erlita mengangguk.
“Lalu sebagai imbalannya, apa kamu mau memberi saya sesuatu?”
Erlita tampak ragu, tapi ia yakin Nafan tidak akan meminta sesuatu di luar kemampuannya. Ia pun kembali mengangguk.
Nafan menarik tubuh Erlita lalu menciumnya. Erlita sempat merasa takut dan ragu, tapi entah kenapa ia begitu saja membiarkan Nafan melanggar privasinya. Itu adalah ciuman pertama yang dilakukannya dalam keadaan sadar. Ia tidak ingin melewatkannya begitu saja meskipun harus bersama orang yang belum juga bisa dicintainya sepenuh hati.
Nafan segera menghentikan ciumannya. Ia sedikit mendorong tubuh Erlita lalu duduk dan segera berjalan menuju kamar mandi. Ia tidak ingin melewati batas. Ia tahu Erlita tidak ingin melakukan lebih dari itu jadi ia memutuskan untuk terus menahan diri.
Erlita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Nafan, tapi ia merasa bahwa Nafan sedang sangat membutuhkannya. Ia menarik tangan Nafan sebelum memasuki kamar mandi lalu membalas ciumannya dengan lebih dahsyat dan menggelora.
Pertahanan diri Nafan runtuh. Ia kembali menciumi istrinya dari bibir, leher, dada dan berlanjut ke seluruh tubuh. Sementara Erlita tidak yakin apakah ia siap melakukannya dengan Nafan, tapi ia tahu betul bahwa Nafan adalah suaminya, pria yang pertama kali memberinya nafkah dan berhak atas dirinya seutuhnya.
Mereka membiarkan semua terjadi begitu saja. Mereka hanya harus menikmati malam pertama mereka dengan penuh gairah yang tak terlupakan. Dan semesta mendukung dengan menghadirkan gerimis yang membuat keduanya semakin larut dalam buaian hasrat duniawi.
__ADS_1