Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 29


__ADS_3

Pratiwi segera dilarikan diri ke rumah sakit. Ia dirawat di ruang ICU karena memerlukan penanganan intensif. Erlita sangat sedih melihat neneknya kembali harus terbaring di rumah sakit.


Lima jam kemudian, Pratiwi dikabarkan mengalami penurunan kesadaran, kesulitan bernafas dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.


Erlita kian terpuruk, kini ia tidak hanya kehilangan kedua orang tuanya tapi juga neneknya, satu-satunya keluarga yang menyayanginya dengan tulus.


Amarah Erlita semakin besar kepada Nafan. Ia meyakini bahwa Nafan jugalah yang menyebabkan neneknya meninggal. Kalau saja ia tidak menikahi Erlita maka kejadian hari itu tidak akan pernah terjadi.


Setelah mengurus semua administrasi rumah sakit, Erlita langsung membawa jenasah neneknya kembali ke Jakarta dengan helikopter. Pratiwi kemudian dimakamkan di pemakaman pribadi keluarga, tepat disamping makam kakeknya, Suryo Susbihardayan.


Karena tidak memiliki cuti panjang, Nafan terpaksa kembali ke Banyuwangi untuk bekerja setelah sempat beberapa hari menemani Erlita melewati hari-hari tanpa neneknya. Pagi itu Nafan berpamitan baik-baik kepada Erlita tapi Erlita yang masih marah sama sekali tidak menggubris Nafan. Saat itu hanya rasa bencilah yang Erlita rasakan kepada Nafan.


***


Nafan mulai mengajukan surat pemindahtugasan lagi agar bisa tinggal di Jakarta bersama Erlita. Tapi sepertinya, tanpa bantuan Pratiwi, hal itu akan sangat sulit bagi Nafan untuk terlaksana. Ia terpaksa menjalani hari-hari panjangnya terpisah dari sang istri.


Saat memiliki waktu libur yang cukup, Nafan menyempatkan diri pergi ke Jakarta untuk menemui Bintoro di penjara. Ia meminta nomor telepon pribadi putrinya yang bekerja di perusahaan Erlita. Meskipun Erlita sedang marah kepadanya, ia harus memastikan bahwa gadis yang dinikahinya itu selalu dalam keadaan baik-baik saja.


***

__ADS_1


Setelah kepergian Nafan kembali ke Banyuwangi, Erlita mati-matian berjuang melawan rasa rindunya pada pria yang sudah hampir empat tahun dinikahinya itu. Ia menancapkan rasa bencinya lebih dalam agar bisa melupakan pria yang pernah sangat dicintainya itu.


Setelah surat waris dibacakan pengacara di hadapan semua anggota keluarga, akhirnya mereka tahu bahwa Erlitalah yang mendapat hak atas sebagian besar harta warisan yang ditinggalkan sang nenek.


Perusahaan Susbihardayan Group yang menaungi perusahaan furniture, Pabrik kayu, mall, apartemen dengan delapan puluh kamar dan ruko tiga lantai di pusat bisnis kota Jakarta jatuh ke tangan Erlita. Rumah induk juga menjadi milik Erlita.


Sementara Sania mendapat rumah yang ditinggalinya, lahan seluas sepuluh hektar di Jogjakarta dan rumah makan tradisional di Bandung dan Denpasar.


Sedangkan Bram hanya mendapatkan rumah yang ditinggalinya serta pabrik cat di Semarang dan Surabaya.


Ketiga cucu Pratiwi lainnya yaitu Kenny, Jihan dan Johan masing-masing mendapat satu unit villa dan sepuluh petak ruko tiga lantai di Bandung, Denpasar dan Surabaya. Selain itu, Johan dipercaya untuk mengelolah dua buah gedung yang disewakan untuk sarana olahraga dan galeri seni di Denpasar dan Meda.


****


-Rapat pemegang saham-


Setelah mendengar isi surat wasiat neneknya, Erlita memutuskan untuk mengikuti kemauan neneknya untuk mengambil alih perusahaan dari tangan pamannya, Bramantyo. Pagi itu akan diadakan rapat para pemegang saham untuk menentukan CEO atau presdir perusahaan yang baru.


Erlita memiliki tiga puluh persen saham, sedangkan Bram dan Sania masing-masing lima belas persen, Farah, Prasetyo dan Kenny masing-masing lima persen, Johan dan Jihan masing-masing empat persen.

__ADS_1


Semua anggota keluarga kecuali Johan memihak Bram, sehingga Bram memproleh empat puluh sembilan persen suara. Sedangkan milik Erlita dan Johan bila digabungkan memperoleh tiga puluh empat suara.


Tepat sebelum hasil perolehan suara diumumkan, seorang pria yang mengaku adalah utusan dari pemilik tujuh belas persen saham sisanya menyerahkan suaranya kepada Erlita. Setelah semua dokumen dan surat kuasanya diperiksa, ternyata semua sah dan Erlita ditetapkan sebagai CEO yang baru denga perolehan suara lima puluh satu persen.


Sejak hari itu, Erlita secara resmi mengambil alih kepemimpinan atas perusahaan furniture Susbihardayan Corp. Sedangkan Bram memilih hengkang dan mulai mengurus perusahaan cat miliknya.


Bramantyo benar-benar dibuat marah oleh wasiat yang tidak adil itu. Ia sangat membenci ibunya yang sejak ia kecil selalu mengabaikan dan mengesampingkannya daripada Danuarta dan Sania.


Ia ingat betul bagaimana ibunya selalu menggandeng kedua kakaknya setiap kali mengantar dan menjemput di sekolah, sementara membiarkannya berjalan di belakang mengikuti mereka.


Begitu juga setiap kali pergi tamasya keluarga dengan kapal pesiar pribadi, mereka akan menempati ruangan VVIP sementara ia dibiarkan di ruang reguler bersama para pelayan. Meskipun ia bukan anak kandung Pratiwi, tapi ayahnya adalah Suryo Susbihardayan. Maka ia seharusnya berhak untuk diperlakukan sama dengan kedua kakaknya. Bukan seperti anak pembantu.


Pernah suatu ketika, Pratiwi, ibunya marah besar ketika ia tidak sengaja menjatuhkan Danuarta, kakak laki-laki tertuanya. Ibunya bahkan tega menyebutnya anak haram. Luka seperti itu tidak akan pernah bisa Bram lupakan seumur hidupnya.


Tidak pernah ada seorangpun yang tulus menerima dan mencintainya di dalam keluarga itu. Sehingga ia tumbuh menjadi orang yang kasar, mudah marah dan suka main tangan untuk melampiaskan amarahnya.


Ia tidak pernah bisa menerima perlakuan ibunya karena bahkan sampai detik kematiannyapun ibunya lebih percaya pada Erlita yang masih labil dan bau kencur daripada dirinya yang sudah mengabdikan hampir separuh hidupnya untuk membesarkan perusahaan.


Ia benar-benar merasa diperlakukan tidak adil seumur hidupnya. Ia ingin Erlita mendapatkan balasan karena membuatnya terlihat sangat buruk dan memprihatinkan. Bram akan merebut kembali perusahaan itu dari tangan Erlita.

__ADS_1


Bram kembali membangun bisnisnya dan mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan Erlita hingga berkeping-keping.


__ADS_2